
Bab 162. Merajuk
Di ujung ranjang kamar utama, Yudhis berdiri tegak laksana robot. Dia baru keluar dari kamar mandi, masih terbalut handuk melilit sebatas pinggang. Ekspresinya kaku, tersenyum bukan, tetapi cemberut pun tidak. Mirip siswa badung yang sedang dihukum dan diomeli guru BK.
Di tepian kasur, Khalisa bersedekap, bibirnya mengerucut, merajuk marah. “Aku kan sudah bilang. Dasternya harus Abang yang beli, tapi kenapa malah nyuruh Raja?” cecar Khalis kesal. Sebetulnya Khalisa sama sekali bukan tipe manja. Akan tetapi bersama Yudhis, sisi lumrah para wanita ini muncul bebas tak mau ditahan.
Yudhis merutuk dalam hati. Insting wanita yang dihamilinya ini ternyata amat tajam, lebih tajam dari silet pencukur kumis dan janggutnya.
“Kata siapa? Daster ini beneran aku yang beli,” jawab Yudhis yang berusaha untuk tidak gugup. Membangun image tenang di hadapan istri sendiri di saat genting begini ternyata sangat sulit, padahal Yudhis terlatih untuk tetap menjaga air muka ketika sedang menangani kasus di persidangan.
“Ternyata semua laki-laki sama saja. Suka berbohong!” seru Khalisa sedih juga kecewa, terisak marah.
“Siapa yang bohong? Aku beneran pergi ke pasar buat beli daster yang kamu mau lho, Sayang,” sahut Yudhis dengan nada membujuk. Masih mencoba mengelak.
“Terus ini apa?” Khalisa menunjukkan ponsel Yudhis yang tertera percakapan pesan dengan Raja di dalamnya. Lupa mengantisipasi hal ini karena pada dasarnya Yudhis tak pernah berbohong pada Khalisa sebelumnya, sehingga terlupa memperhitungkan kemungkinan terciduk terang-terangan seperti sekarang. “Coba jelaskan!” Khalisa menuntut penjelasan bak pengacara profesional yang mendesak keterangan tersangka di persidangan.
Yudhis berdehem sebab tertangkap basah. Menggaruk kepalanya tak gatal menyikapi kerunyaman yang dibuatnya sendiri. Dia mengenyakkan diri di dekat Khalisa, merangkul istrinya yang merajuk itu, pantang mundur meski yang dipeluk meronta menolak.
“Gini lho, Sayang. Oke aku mengaku. Memang Raja yang membeli, tapi aku sungguh-sungguh ikut ke pasar juga. Hanya saja aku menunggu di parkiran, dan meminta Raja mencari daster sesuai instruksiku melalui chat juga telepon sewaktu dia hendak membeli. Jadi, bukankah itu sama saja dengan aku yang membeli? Hanya bedanya bukan kakiku yang melangkah masuk ke dalam pasar. Bukannya apa-apa, aku cuma enggak mau ketampananku ini mengundang kehebohan di pasar,” ujarnya mencari alasan.
Yudhis dilanda rasa serba salah sekarang. Bukankah hampir setiap hari dirinya menyatakan rasa syukurnya akan anugerah si buah hati darah dagingnya yang kini bertumbuh di rahim sang istri? Namun, di situasi begini Khalisa seolah meragukan hal itu sebab terlanjur tergulung marah padanya. Dan Yudhis sangat paham, reaksi Khalisa ini pasti berasal dari mood swing ibu hamil yang sudah dijelaskan dokter kandungan padanya.
“Perlukah aku membuat spanduk besar dan memasangnya di alun-alun kota untuk mendeklarasikan betapa bahagianya aku memiliki keturunan denganmu, Bidadariku?” ujar Yudhis merayu sembari menyusut pipi basah Khalisa. Mencoba meredam api kemarahan sang istri yang konon katanya bisa dipadamkan dengan hal-hal manis semacam ini. Dan menurut pengalaman Ghaisan sang sahabat, roman picisan begini merupakan senjata ampuh meluluhkan istri yang sedang mengamuk.
Khalisa perlahan melunak termakan rayuan. Berhenti meronta walaupun masih cemberut. “Jangan lah, malu kalau berlebihan begitu,” gerutunya masih merajuk.
“Jadi, apakah sekarang aku sudah dimaafkan?”
“Belum! Pokoknya aku belum maafin Abang!” sambar Khalisa terus terang saja lantaran hatinya memang masih dongkol.
“Terus, aku harus gimana supaya dimaafin?” Yudhis membujuk dengan manis sembari mengecup pipi Khalis penuh sayang. Dan Khalisa tentu saja luluh diperlakukan sehangat ini kendati tak memperlihatkannya ke permukaan.
“Kalau Abang beneran mau dimaafin, anterin aku beli daster sendiri. Tapi sekarang udah enggak mau yang di pasar. Pingin beli yang dijual sama Windy. Tukang kredit yang dulu sering jualan daster ke Buah Batu.”
Bersambung.