
🌸🌺Kala suatu waktu kamu bertemu seseorang dan mendadak saja orang tersebut terus melekat dalam ingatan tanpa sebab juga tanpa adanya komunikasi dekat antara kalian berdua, itu tandanya orang itu telah memiliki hatimu.🌺🌸
Bab 31. Raib
Tahrim menjelang subuh mengusik Yudhis dari tidur singkatnya yang baru berlangsung kurang lebih satu jam saja, lebih tepatnya ketiduran dalam posisi duduk di sofa tunggu ruang perawatan, tak jauh dari ranjang tempat Khalisa berbaring.
Seorang perawat wanita ikut menemani di dalam ruangan VVIP ini. Sengaja Yudhis mengajukan permintaan agar rumah sakit menugaskan seorang perawat untuk ikut menuggui di dalam ruangan, bukan apa-apa, khawatir terjadi fitnah kalau dia hanya berdua saja dengan Khalisa yang notabene bukan merupakan keluarga maupun sanak saudara.
“Bagaimana perkembangan kondisi pasien?” Yudhis bertanya pada perawat jaga malam yang ditugaskan. Menghampiri sisi ranjang di mana Khalisa berbaring.
“Masih belum bisa dipastikan bagaimana, Pak. Pukul delapan pagi nanti baru akan diperiksa ulang. Semoga hasilnya lebih baik setelah diinfus Dextrose juga beberapa suntikkan obat. Yang pasti saat ini pasien tertidur efek dari obat yang diberikan.”
Sepasang netra jernih setajam elang milik Yudhis menyusuri Khalisa yang terbaring memprihatinkan dalam kondisi yang membuatnya meringis miris. Kekurangan nutrisi yang terdeteksi sudah mampu menjelaskan dengan gamblang bahwa kehidupan ibu muda ini amat sulit.
Kepedulian tak diundangnya kian mengusik hati, rasa penasaran menggelitik sanubari, akan sosok yang beberapa hari ini terus mengganggu hari-harinya tiada henti. Yudhis ingin sekali bertanya apa yang terjadi hingga menyebabkan Khalisa terdampar tengah malam lalu pingsan sembari membawa sebuah tas berisikan pakaian yang sudah belel. Juga ingin bertanya di manakah keberadaan si bocah lucu yang selalu digendong Khalisa ke mana-mana, karena di pertemuan kali ketiganya ini, dia menemukan Khalisa berkeliaran seorang diri.
“Sarapan untuk pasien diantar jam berapa?” tanya Yudhis kemudian.
“Pukul setengah tujuh sarapan untuk semua pasien mulai didistribusikan.”
“Tolong perhatikan menu untuk dia. Pastikan gizinya tercukupi. Bila perlu ajukan permintaan khusus pada ahli gizi yang bertugas untuk membuatkan makanan sehat spesial. Semua administrasi saya yang menanggung,” pintanya lugas begitu saja, terbelit cemas tanpa sebab yang jelas.
“Pantau terus kondisinya. Saya harus pergi ke luar dulu kira-kira dua sampai tiga jam. Tolong titip pasien dan pastikan dia makan dengan benar saat bangun nanti.”
“Baik, Pak.”
Masjid rumah sakit menjadi tujuan Yudhis, melangkah lebar khawatir tidak kebagian salat berjamaah. Dan setelah salat, Yudhis gegas pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian.
Pak, salah satu keluarga klien kita yang tertimpa KDRT ingin bertemu secara pribadi dengan kita di kantor, katanya ingin merembukkan hal serius, karena kalau berbincang di rumah sakit dia merasa kurang menunjang privasi. Khawatir banyak mata juga telinga. Bisakah Anda ke LBH lebih pagi?
Pesan dari Erika masuk ke ponselnya bertepatan dengan Yudhis yang hendak bertolak lagi ke rumah sakit. Pikirannya bercabang sekarang. Antara Khalisa juga permintaan klien yang butuh bantuan. Bimbang memilih, sebab keduanya sama-sama penting.
Profesionalisme serta pengabdian tulus akan keadilan bagi semua orang yang menjadi visinya membangun LBH Raksa Gantari, membawa Yudhis pada pilihan datang ke kantor terlebih dahulu. Menyelesaikan pekerjaan intinya barulah setelahnya dia akan kembali memantau kondisi Khalisa di rumah sakit, sekaligus ingin mengutarakan sejuta tanya yang terus menjejali isi kepalanya entah dari mana datangnya.
Menjelang tengah hari pembicaraan pentingnya baru rampung. Setelah menyerahkan sisa urusan lainnya pada Erika dan Raja, Yudhis memacu cepat kendaraannya menuju rumah sakit. Sol sepatunya menciptakan bunyi nyaring di selasar rumah sakit, berjalan cepat setengah berlari. Namun sayang, saat pintu ruang perawatan dibuka, si wanita yang terus memenuhi benaknya sudah tak lagi berbaring di sana, raib beserta tas coklat usangnya.
"Ke mana dia pergi?"
Bersambung.