
Bab 59. Secercah Harapan
Tak membuang waktu, penuh semangat Khalisa melaksanakan pekerjaannya di rumah Yudhis setelah si tuan rumah menjelaskan poin-poin apa saja yang harus dikerjakan. Tak lupa, Yudhis juga memberitahunya perihal denah huniannya, tentang di mana letak area cuci sampai peralatan membersihkan rumah.
Dalam hal berbenah, Khalisa sudah terlatih. Fokus membereskan rumah mulai dari membersihkan debu, mengepel lantai, mengelap kaca setelah sebelumnya menyalakan mesin cuci. Bergerak multi tasking seperti yang selama ini sudah menjadi keahliannya, ibaratnya sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.
Yudhis yang memilih berdiam di taman supaya Khalisa leluasa bekerja di bagian dalam rumah, sesekali mengintip kegiatan Khalisa mengerjakan pekerjaan rumah. Tak menyangka si wanita lemah lembut nan ayu itu begitu gesit, bergerak tangkas. Membuat Yudhis terkagum-kagum akan pribadi Khalisa yang ternyata pekerja keras. Hanya saja sayang, keluarga mantan suaminya tak pernah mengapresiasi betapa cekatannya usaha Khalisa dalam mengurus rumah tangga.
“Den, kenapa diam jinjit-jinjit terus di ambang pintu? Kalau mau masuk mending masuk saja atuh, kalau mau di luar ya di luar saja. Kata orang tua mamang dulu, anak gadis atau bujang dilarang diam di ambang pintu, pamali, bisi nongtot jodo,” kata si mamang tukang kebun yang geregetan melihat tingkah tuannya.
“Istilah aneh macam apa itu?” imbuh Yudhis merengut tak paham, telinganya mengerut aneh mendengar kosa kata yang tak dipahaminya.
“Bahasa Indonesianya kurang lebih, khawatir susah dapat jodoh, gitu Den,” ujar si mamang penuh semangat yang ditanggapi Yudhis dengan menggeleng aneh.
“Den, ini beneran tidak apa-apa ikan Koi dikasih pakan kucing? Nanti ikannya bisi bunyi meong-meong kan bahaya.” Si mamang menunjukkan kemasan pakan kucing utuh yang tadi ditemukannya di laci meja taman.
“Huh? Ya jangan lah, Mang. Masa iya ikan dikasih makan pakan rasa ikan!” sambarnya protes, tak sadar akan titahnya beberapa saat ke belakang. “Kasih pelet yang biasa saja. Sebentar, aku ambil di dalam.”
Kala getar hati tak diundang ikut terlibat, detak jantung juga debaran rasa selalu mendadak berdenyut cepat di saat si sumber penyebab desir itu memenuhi ruang pandang. Seperti halnya yang dirasakan Yudhis sekarang, merasakan sekujur raganya panas dingin tak menentu melihat keberadaan Khalisa. Mengakibatkannya salah tingkah saat hendak mengambil pakan ikan di sebuah lemari kecil yang terletak di dapur, sementara di dapurnya, saat ini Khalisa tengah bersih-bersih.
“Maaf, Bang. Bersihkan dapurnya agak terlambat, tadi aku jemur baju dulu,” jelas Khalisa tetap menjaga sopan santun, kendati ia agak kikuk sekarang, mendadak teringat ucapan Aloisa yang mengatakan bahwa bantuan Yudhis untuknya terbilang spesial.
Berdiri dengan kedua tangan masuk di saku celana, Yudhis yang tadinya belingsatan menatap Khalisa lurus sembari membuang napas nyaring. Menyusuri dahi Khalisa yang sedikit berembun keringat juga tulang pipi merona khas orang lelah serta kegerahan.
Bukannya menanggapi kalimat Khalisa, Yudhis malah menuju kulkas dan mengambil satu kotak jus buah dari lemari pendingin empat pintu itu. Kemudian tanpa disangka-sangka, dia menarik pelan lengan Khalisa yang tertutup lengan baju, tak langsung menyentuh kulit dan memintanya duduk di kursi makan.
Yudhis menyorongkan jus buah yang tadi diambilnya, sudah lengkap terpasang sedotannya, siap minum.
“Bukan, aku ingin kamu duduk dulu dan minum ini. Kamu pasti capek dan kegerahan kan? Jangan bekerja terlalu keras, aku merasa bersalah melihatnya, merasa jadi tukang pamrih. Sungguh, kamu enggak perlu sampai begini, aku benar ikhlas membantumu,” jelas Yudhis, mendesah berat.
“Jangan cemas, Bang. Tenang saja, aku sudah terbiasa mengerjakan hal-hal begini. Justru aku senang, setidaknya aku memiliki sesuatu yang bisa kukerjakan walaupun mungkin nilainya tak seberapa di mata orang lain, juga pasti enggak sepadan dengan bantuan Abang untukku. Tapi, aku senang melakukannya, malah di sini berbenah rumahnya lebih mudah, peralatan bersih-bersihnya lengkap dan bagus,” jawabnya semringah dengan mata berbinar, mencerminkan kejujuran dari kata-kata yang terucap.
Memindai air muka Khalisa yang terlihat sedikit gembira ketimbang beberapa hari lalu, Yudhis merasa tak tega melarang Khalisa untuk menghentikan apa yang sesat dikerjakan.
“Ya sudah, tapi kalau capek jangan dipaksakan. Pokoknya sekarang minum dulu, dan setelah minum istirahatlah selama tiga puluh menit sebelum melanjutkan lagi, ini perintah. Selepas waktu makan siang nanti, kita akan membahas langkah selanjutnya mengenai permasalahanmu. Aku sudah mendapat informasi dalam masih abu-abu perihal ke Lembang bagian mana mantan suamimu pindah.”
“Benarkah?” sambar Khalisa cepat, spontan bangkit dari duduknya penuh antisipasi. Sepasang netra cantiknya membola.
“Hmm, rencananya sore ini aku akan menyisir langsung lokasinya untuk memastikan.”
Luapan gembira juga haru bersatu padu menerjang menjadi satu saat Khalisa mendengar kabar kemungkinan keberadaan Afkar, si buah hati yang ditasbihkannya dalam raungan rindu setiap malam. Ucapan syukur yang membasahi bibir juga mata berkaca-kaca melukiskan segala rasa.
“Bang, aku ingin ikut, tolong izinkan aku ikut. Aku akan membuatkan Abang masakan spesial yang paling aku kuasai juga menyetrika baju Abang serapi mungkin, tapi tolong, aku ingin ikut mencari.”
Mengulas senyum manis menentramkan bagi siapa saja yang melihatnya, Yudhis menganggukkan kepala. “Tentu saja. Kita pergi mencari bersama.”
Bersambung.