
Bab 101. Kencan
Akhirnya, walaupun dengan berat hati, Khalisa mengizinkan Afkar ikut ke Bali selama satu minggu. Melihat anaknya yang begitu ngoyo ingin ikut, serta bagaimana antusiasnya Barata serta Maharani meyakinkannya juga mengajak tulus putra tersayangnya untuk ikut ke Bali, Khalisa tak sampai hati melarang dan merusak keceriaan orang-orang di rumah Yudhis yang kini terasa penting baginya, perlahan namun pasti menyelinap ke dalam rongga kalbunya yang dingin dan sepi.
Maharani membenahi semua keperluan Afkar, meminta Khalisa mengepak susu dan botol di dapur secukupnya saja, sedangkan untuk pakaian Afkar Maharani dan Bi Dijah lah yang mengepak.
Perasaan was-was tak dipungkiri masih merecoki Khalisa, khawatir Afkar rewel di Bali, berpadu ikut gembira melihat si buah hati begitu senang saat diberi izin olehnya.
Khalisa ikut bersama Yudhis mengantar ke bandara. Di bandara sesaat sebelum boarding pass, Afkar berkata pada bundanya, tidak boleh nakal pada om papanya selama dia pergi, dengan intonasi cadel dan menggemaskan. Tak lupa mencium pipi Yudhis juga Khalisa sebelum melambaikan tangan.
“Bang, kalau Afkar rewel di sana gimana ya? Afkar jarang banget jauh dari aku, malah mungkin enggak pernah, kecuali berjauhan paksa selama tiga bulan yang telah berlalu,” ujar Khalisa cemas, begitu mobil meninggalkan parkiran bandara.
“Jangan khawatir. Papi itu pawang anak kecil, dijamin Afkar betah dan enggak akan rewel. Kamu masih bisa bervideo call setiap hari untuk bertanya kabar Afkar kalau kangen. Mungkin kamu belum tahu, di Bali, papi punya panti asuhan yang dikelola langsung oleh papi sendiri. Kebanyakan adalah anak-anak yang dibuang orang tuanya. Dan semua anak panti tak ubahnya prangko pada Papi, seperti halnya Afkar yang tak butuh waktu lama langsung lengket pada papi, karena aku pun begitu,” jelas Yudhis sembari tetap melihat lurus ke depan, fokus pada jalanan yang cukup padat di sore ini.
Khalisa mencerna kalimat panjang lebar Yudhis dan mengangguk. Hanya saja, saat semakin menelaah, ada yang terasa janggal di akhir kalimat, menggantung tanpa penjelasan. Sudah beberapa kali Yudhis melontarkan kalimat yang bagi Khalisa terasa ambigu, membuatnya penasaran ingin bertanya, tetapi selalu berakhir dengan mengurungkan niatannya itu.
“Bang, ini bukan jalan ke rumah kan? Apa Abang salah jalan?”
Khalisa yang tadi tertegun menatap sisi wajah Yudhis, teralihkan pada rute lain yang kini dilewati. Khalisa cukup mengenal jalanan ke rumah Yudhis dan ini bukan jalur arah pulang, celingukan ke luar kaca pintu juga ke kaca depan.
“Memang bukan. Aku ingin mengajakmu ke restoran favoritku, restoran berbintang yang ada di mall The Royal. Aku pernah bilang ingin mentraktirmu makan steik. Sebentar lagi jam lima sore, sudah masuk jam makan malam dan sebaiknya kita mengisi perut dulu sebelum pulang. Mumpung cuaca sore ini juga cerah, ideal untuk berjalan-jalan,” jawab Yudhis, melirik pada Khalisa, menyunggingkan senyum tampannya.
Lidah Yudhis terasa gatal, sebetulnya dia ingin mengganti kata jalan-jalan dengan kata kencan, hanya saja masih sungkan mengatakan, takut Khalisa malah menutup diri rapat-rapat kalau dia terlalu terburu-buru menyatakan perasaan.
“Steik?” Khalisa membeo, membasahi bibirnya resah sembari membetulkan kerudung.
‘”Iya, ada apa? Kamu kelihatannya bingung begitu, jangan-jangan kamu enggak suka menu yang kusebutkan tadi? Tapi steik di restoran langgananku dijamin lezat. Dicoba dulu, atau kalau enggak suka, kamu bisa pesan menu lainnya di sana nanti. Tapi tetap harus cicip dulu, tenderloin steiknya juara.”
“Bukannya enggak suka, Bang. Tapi … tapi_”
“Tapi kenapa?” tukas Yudhis cepat, menyambung kalimat Khalisa yang terpotong oleh si empunya.
“Begini, Bang. Masalahnya, aku enggak pernah makan steik, enggak tahu cara makannya, cuma pernah lihat di televisi, kayaknya harus pakai pisau serta garpu dan aku enggak tahu bagaimana pakai alat makannya. Juga, aku enggak pernah pergi ke restoran yang kayak Abang sebut tadi, ada bintang-bintangnya,” sahut Khalisa apa adanya dengan polosnya, memilih berkata jujur daripada malah malu nantinya.
Tawa renyah Yudhis berderai disuguhi reaksi Khalisa yang amat lucu baginya, tak tahan untuk melampiaskan gemas, refleks Yudhis mengusak sayang kepala Khalisa, membuat Khalisa mengerjap sembari menelan ludahnya kaku.
*****
Dion mondar-mandir di depan butik tas mewah yang terdapat di lantai dua mall The Royal. Dia terlihat kesal, berkacak pinggang, berjalan ke sana kemari, jengkel sebab acaranya menggarap Gladys sore ini harus batal karena Amanda merengek meminta diantar berbelanja. Jikalau Dion memang masih cinta terhadap kedudukan juga hartanya sekarang, maka patuh pada Amanda adalah kuncinya dan di sinilah dia sekarang.
Kepala pusingnya juga bukan hanya karena tak jadi membajak lahan si sekretaris, kabar yang dibawa orang-orangnya beberapa saat lalu tentang pencarian di mana Khalisa tinggal membawa Afkar, tetap nihil sampai sekarang. Padahal, pencarian sudah dilakukan maksimal hingga mengubek-ubek panti asuhan Khalisa dulu.
Dion berang serta merasa aneh, Khalisa yang sebatang kara, tak berpunya, tak berharta dan tak memiliki keluarga, mendadak mengajukan gugatan didampingi kuasa hukum. Menurut pengacara pribadinya, kuasa hukum Khalisa juga merupakan kuasa hukum berpengaruh, bukan kaleng-kaleng. Tidak hanya itu saja keanehan yang membuat Dion makin terganggu, kini Khalisa amat susah ditemukan keberadaannya, tak ubahnya orang penting berduit yang sangat terjaga privasinya.
“Mas, masuk dong, bantuin aku aku milih tas kek. Kok aku ngerasa Mas sekarang berubah, kurang perhatian, membiarkan aku belanja dan milih sendiri tanpa ngasih pendapat, enggak kayak dulu!” gerutu Amanda kesal.
Amanda mengentakkan kakinya kencang tersulut emosi karena Dion malah mondar-mandir di depan pintu butik tas, bukannya masuk menemani dan membantu memilihkan, sebab Amanda memang sedang ingin berbelanja sambil berkencan mesra.
“Lho, kok ngomongnya gitu, Sayang? Tadinya Aku cuma ingin kamu bebas memilih, bukannya enggak mau menemani.” Dion kelabakan, cepat-cepat mencari celah berkelit supaya. Membujuk tambang emasnya sedemikian rupa.
“Terus, aku juga lagi ngerokok. Nih lihat. Di dalam kan enggak boleh ngerokok.” Dion menunjukkan benda yang terselip di antara jari tengah dan telunjuknya.
“Aku itu mengajak Mas karena ingin dibantu pilihin, bukan cuma jadi pajangan gandengan. Terus, aku juga bukan hanya ingin belanja, tapi ingin jalan-jalan mesra kayak sebelum-sebelumnya. Kalau pada akhirnya harus pilih sendiri, buat apa aku ngajakin Mas ke sini!” ketus Amanda kentara sangat kesal, sudut matanya mendelik tajam. “Lagian juga, ngerokok kan bisa di rumah. Kalau Mas ketahuan satpam merokok sembarangan di tempat umum mewah begini, nanti malah kena tegur. Jangan kampungan dan jangan bikin malu deh!”
“Oke, oke, Sayang, Sorry. Ya sudah, kamu masuk dulu ya, aku menyusul segera, mau matikan dan buang rokoknya dulu,” bujuknya manis, sembari menahan dongkol lantaran diomeli dikatai kampungan, tak jauh beda seperti ucapannya pada Khalisa dulu yang kini berbalik padanya.
“Ya sudah, aku tunggu di dalam.”
Amanda kembali masuk. Membuang napas sebal, Dion menuju tempat sampah stainless yang terdapat di dekat eskalator. Namun, matanya tak sengaja melihat ke bawah pada pintu lift transparan, baru saja terbuka di lantai satu yang letaknya tak terlalu jauh dari ruang pandang.
Sosok yang keluar benda kotak itu membuatnya tertegun, dalam balutan gamis biru tua dengan kerudung senada tampak anggun bersinar. Keluar dari dalam lift berjalan bersisian dengan seorang pria super tampan berpostur tinggi tegap dalam balutan kemeja biru tua juga, dan terlihat si pria itu menggenggam tangan si wanita yang mencuri perhatiannya.
Dion membeliak saat mengenali sosok itu, terutama saat si wanita berkerudung mengukir senyum lebar. Tak ingat lagi pada Amanda, Dion melangkah lebar menuju eskalator turun bak orang gila, hendak menyusul seseorang yang selama beberapa pekan ini begitu sukar dicari.
“Khalisa!”
Bersambung.