Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Kewajiban Suami


Khalisa 159. Kewajiban Suami


“Kenapa meluknya jadi gini?” Yudhis menggoyang-goyangkan iseng lengan Khalisa yang memeluknya lebih erat. Menyebabkan kulit mereka bergesekkan lebih rapat.


“Aku sayang Abang,” cicit Khalisa tiba-tiba, raut sedih penuh empati membingkai paras cantiknya. Sedang berupaya menghibur, hanya saja Khalisa kebingungan harus bagaimana caranya.


Yudhis tertawa pelan, mencubit pipi Khalisa gemas. “Aku tahu, kisah terlahirnya diriku ini memang memilukan, menyedihkan. Penuh noda juga cela. Tapi, aku selalu mengingat kalimat Ghaisan yang berulang dikatakan padaku semasa aku di titik terendahku, sewaktu aku mengetahui dengan gamblang asal-usulku.”


“Kalimat apa?” tanya Khalisa.


“Seburuk-buruknya masa lalu seseorang, masa depannya tetaplah suci. Mungkin kalimat ini terdengar sederhana bagi kebanyakan orang, tapi bagiku sangat memotivasi, membuatku bangkit kembali. Lebih banyak mensyukuri anugerah dan nikmat yang diberikan Sang Pencipta ketimbang berkeluh-kesah. Bersyukur telah menjadikanku salah satu manusia beruntung yang dilimpahi kasih sayang luar biasa oleh orang tua angkatku. Syukur lebih utama, daripada meratapi kenyataan.”


“Aku jadi iri pada Ghaisan. Dia punya kalimat yang membekas di hati Abang, sedangkan aku enggak,” ketus Khalisa agak merajuk, kehamilan keduanya ini memang agak lain, hobi menggelitiki moodnya.


“Iri atau cemburu?” Yudhis malah menggoda.


“Ish, suka-suka Abang aja lah!” kesalnya, hendak melepas pelukan namun ditahan oleh Yudhis.


“Yang membekas darimu lebih dari sekedar kata-kata, buktinya jadi begini kan.” Yudhis mendaratkan telapak tangannya di perut Khalisa, mengelus sayang di sana, penuh perhatian.


Sikap manis Yudhis sangat mudah meluluhkan Khalisa, karena memang semanis itu. Sulit untuk menolak, apalagi yang menghujani perhatian rupawan tampan berhati malaikat. Khalisa bergelung lagi, memeluk manja.


"Kalau jadi kembung tapi bernyawa begini, justru Abang yang meninggalkan bekas di sini, bukan aku. Dan akhirnya terjadilah perut buncit yang semakin hari akan semakin membesar ini." Khalisa ikut mengelus perutnya, kembali tersenyum.


"Lalu, kamu sendiri pernahkah ingin mencoba mencari orang tua kandungmu?" Yudhis balik bertanya.


"Masih mau mencari?" imbuh Yudhis.


"Entahlah," sahut Khalisa bimbang.


"Kalau memang ingin, akan aku bantu carikan. Siapa tahu ternyata kamu itu adalah putri orang kaya yang menjadi korban penculikan sewaktu bayi misalnya."


Mendengar kalimat Yudhis, Khalisa malah berdecih, mengulum tawa. "Itu terdengar terlalu drama, muluk-muluk. Mirip kisah sinetron, sedangkan pada kenyataannya dunia tak selamanya indah, seperti jargon yang sedang viral sekarang. Adek, dunia tak selamanya indah, dek."


Tawa Yudhis meledak, tak ditahan lagi seperti tadi. Khalisa ikut tergelak, tertular aura gembira dari pria yang memeluknya.


"Tapi, kalau memang kamu punya keinginan itu, katakan saja padaku. Akan kukerahkan seluruh kemampuanku untuk mencari orang tuamu, meski pasti tak mudah. Karena aku tahu dan pernah merasakan. Perjuangan mencari hal semacam ini, serupa mencari jarum di tumpukkan jerami."


Khalisa malah berkaca-kaca kini, dibuat terharu terus menerus oleh sosok pria yang telah menikahinya itu meski pada awalnya mereka bersama demi kepentingan pengadilan semata.


"Abang benar-benar akan mencarikan untukku?" kata Khalisa, suaranya serak.


Kepala Yudhis mengangguk cepat. "Hmm, tentu. Kamu itu istriku. Dan sebagai suami kewajibanku adalah memenuhi semua kebutuhanmu termasuk membantumu mencari orang tuamu. Tapi dengan satu syarat."


'Syarat apa?"


"Kamu harus siap, andai kenyataan nanti tak sesuai ekspektasi. Kamu benar-benar harus menyiapkan hati saat membulatkan tekad mencari."


Bersambung.