
Bab 123. Kegiatan Tengah Malam
Hari sudah melewati tengah malam. Langit kian gulita berpadu rintik-rintik gerimis. Merayu penghuni bumi bergelung selimut di peraduan, dalam pelukan hangat kekasih hati.
Di tempat tidur empuk nan luas berseprai biru muda, seorang wanita terlihat terlihat terjaga. Sesekali membalikkan posisi berbaringnya perlahan-lahan, sedangkan di sebelahnya seorang pria tampan yang rebah di bawah satu selimut dengannya sudah mendengkur halus, pertanda lelap menyergapnya.
Wanita itu adalah Khalisa. Ia tak bisa tidur padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Rebah terlentang, Khalisa berlama-lama menatap langit-langit menghantarkan pikirannya berkelana. Mencoba mengusir gundah yang berasal dari kerinduan terpendam. Ingin mengutarakan ganjalan di hatinya pada Yudhis, tetapi takut dianggap malah membebani.
Khalisa menoleh ke kanan, menatap pria terlelap yang memeluknya. Yang entah sejak kapan mencuri hati dan bertakhta di jiwa tanpa disadarinya. Membuat Khalisa yang sempat hilang harapan dan kepercayaan akan yang namanya cinta maupun pernikahan, nekat membuka hati lagi, meski baginya bagaikan ajang uji nyali.
Dan reaksi impulsifnya mengusak ranjang dalam gairah tadi merupakan refleksi dari rasa takut yang berasal dari luka hati, takut kehilangan lagi di saat dirinya tertambat lagi getar asmara menawan sanubari.
Diamatinya lekat-lekat pahatan tampan sempurna yang hanya berjarak satu jengkal dari wajahnya. Jemari lentiknya meraba alis tebal juga hidung mancung Yudhis, menghadiahkan kecupan di sana. Luapan syukur menggema telah dipertemukan dengan sosok luar biasa ini, sedikit mengusir gundah gulana yang sedang berkecamuk dalam benak. Terkadang rasanya masih tak percaya bahwa semua keajaiban semesta yang berangsur berpihak padanya adalah nyata.
“Kenapa belum tidur?” kata Yudhis serak, masih dengan mata terpejam, menarik Khalisa merapat dalam pelukannya. “Enggak capek?” tanyanya, sembari berusaha membuka mata yang terbungkus kantuk beratnya.
Khalisa terkesiap, tak menyangka Yudhis terbangun. “Aku cuma belum ngantuk. Abang tidur lagi Saja. Maaf, aku bikin tidur Abang jadi terganggu,” cicit Khalisa.
Ia menarik selimut lebih naik, merapatkan pipinya di kehangatan kulit dada Yudhis yang tak berpenghalang dan menyelusupkan lengan ke punggung sang suami, mengusap-usapnya lembut. “Ayok, tidur lagi,” ucap Khalisa.
“Ada apa, hmm? Bilang saja terus terang. Jangan dibiasakan dipendam sendiri, kurang baik bagi kesehatan jiwa dan raga. Bukankah suami dan istri sudah seharusnya berbagi dalam berbagai hal? Judulnya saja berbagi kisah hidup. Yang berarti di dalamnya meliputi berbagi suka dan duka, susah dan senang, sehat dan sakit, bukan cuma berbagi kehangatan di bawah selimut,” tutur Yudhis. Intonasi akhir kalimatnya khas menggoda, nada bicara seksi yang hanya ditujukan Yudhis untuk Khalisa seorang.
Khalisa menimbang-nimbang, masih ragu untuk bicara. Namun, kalimat Yudhis barusan mendorongnya memberanikan diri mengutarakan kecamuk yang mengganjal dalam dada.
“Aku … aku.” Khalisa menjeda kalimatnya, menggigit bibir kemudian. “Aku kangen Afkar,” sambungnya lirih, sangat pelan.
Yudhis yang semula mengobrol dengan kelopak terkatup memejam, kini membuka kedua matanya. Mengerjap sejenak, lalu menurunkan pandangan membalas tatapan Khalisa yang sedang mendongak padanya.
“Maaf. Aku terlupa tentang perasaanmu yang pasti merindukan Afkar. Aku terlalu fokus pada kasus memenangkan hak asuh juga pekerjaanku yang lainnya, sampai-sampai melupakan hal penting ini.”
“Enggak apa-apa kok, Bang. Jangan minta maaf. Abang sama sekali enggak punya salah apapun sama aku. Aku justru sangat berterimakasih karena Abang begitu serius dan gigih melakukan banyak usaha demi aku dan Afkar. Hanya saja terkadang aku cengeng, rindu ingin memeluk anakku secara langsung. Maaf, kalau kata-kataku tadi kurang berkenan,” sahut Khalisa yang kini merasa tak enak melihat bias mata Yudhis yang kentara didera rasa bersalah. “Sudah, jangan dipikirkan ya, Bang. Lupakan saja.”
“Mau ke Bali? Ketemu Afkar?” tawarnya tiba-tiba. “Kita pergi besok kalau kamu mau, persidangan berikutnya masih ada jeda. Seminggu ke depan kita punya waktu luang. Tentang pekerjaanku yang lainnya masih bisa ditangani dari jauh.”
“Hah? Maksudnya, ki-kita terbang ke Bali betulan?” Khalisa malah tergagap mendengar tawaran Yudhis, hatinya berdebar tak menentu, antara senang juga terkejut.
“Iya, betulan. Memangnya ada Bali KW?” canda Yudhis, merasa lucu dengan ekspresi Khalisa.
“Naik pesawat begitu?” cicit Khalisa lagi, tampak linglung.
“Iya, Sayang. Naik pesawat, bukan naik Unta.” Tarikan kedua sudut bibir Yudhis makin naik dan melebar.
“Serius? Abang mau ajak aku ketemu Afkar?” Lagi, Khalisa bertanya, ingin memastikan, merasa tak percaya mendengar tawaran Yudhis, khawatir suaminya itu hanya mengigau.
“Iya serius. Jadi gimana? Maunya berangkat kapan? Aku pun kangen ingin bermain dengan Afkar. Juga, kita pergi ke sana itung-itung sekalian simulasi bulan madu sementara. Aku belum sempat membawamu honeymoon terencana ke suatu tempat yang sejak lama ingin kukunjungi bersama wanita yang kucinta, yang sudah seharusnya bulan madu itu menjadi bagian hadiah pernikahan dari suami untuk istrinya.”
“Boleh pergi besok?” pinta Khalisa lugu, mirip anak kecil yang bersemangat membeli permen manis saat baru sembuh dari sakit gigi, tak bisa menyembunyikan binar antusias di kedua bola mata indahnya.
Yudhis terkekeh, membelai kepala Khalisa dan mengecup keningnya mesra. “Siap laksanakan, Nyonya.”
Bersambung.