
Khalisa 82. Naksir
Khalisa keluar dari kamar, Afkar mengeluh lapar di waktu memasuki sore hari ini, menuju ke arah dapur sembari celingukan mengedarkan pandangan ke sekitar, takut berpapasan dengan Maharani maupun Barata, merasa amat sungkan.
“Unda, Af mau mamam cayul enak, cayul putih beyi Om Papa,” pinta si bocah.
Afkar yang selera makannya baru kembali membaik, ketagihan makan sup krim kentang sehat nan lezat yang tadi siang dilahapnya di sebuah restoran dekat swalayan, yang di dalam kuah krimnya terdapat campuran wortel, juga potongan daging ayam bertekstur lembut, sangat cocok untuk anak-anak.
Yudhis bahkan membeli dua porsi sup krim kentang untuk dibawa pulang saat Afkar berceloteh suka, mengatakan sup tersebut rasanya enak. Tidak mempan meski Khalisa melarang, Yudhis berkata bahwa dia membelikannya untuk Afkar yang suka makanan itu, bukan untuk Khalisa, dan si bocah mengangguk iya dengan polosnya saat ditawari. Tentang mengapa Afkar menyebutnya sayur putih, karena kebetulan wadah mangkuk di restoran tadi berwarna putih, begitu juga kemasan sup untuk dibawa pulang pun sama-sama berwarna putih.
“Iya, Sayang. Nanti Bunda hangatkan dulu supnya. Tapi panggilnya jangan Om Papa, ya, Nak. Coba panggil Om Yudhis,” ucap Khalisa, mencoba membimbing anaknya mengubah panggilan untuk Yudhis. Merasa tidak enak hati pada Yudhis terutama kedua orang tua si pengacara.
Afkar tampak berpikir, seolah kebingungan atau entah agak kesulitan melafalkan nama Yudhis. Memiringkan kepalanya dan kemudian berceloteh lagi.
“Om Papa,” katanya, membuat Khalisa membuang napas frustrasi. “Unda, Af lapel,” sambungnya lagi, menatap ibunya dengan ekspresi tanpa dosa.
“Ya sudah, kita makan dulu, habis makan nanti minum obat ya.” Khalisa bergegas ke dapur saja, memilih menunda mengajari mengubah panggilan karena Afkar lagi-lagi mengeluh lapar.
Di dapur, Khalisa mendapati seorang wanita berperawakan subur sedang berkutat di sana. Khalisa langsung ingat kata-kata Yudhis saat bertukar kata dengannya di depan pintu kamar, tentang istri Mang Darjat yang akan bantu-bantu di rumah ini juga ikut menginap.
Khalisa mencari-cari kantung berisi bubur kentang, tetapi tidak ada di dapur, hanya ada kantung-kantung belanjaan yang berisi barang-barang dari swalayan. Memberanikan diri, Khalisa menghampiri si wanita yang sedang serius menyiangi daun kangkung.
“Bu, maaf mengganggu. Barangkali lihat paper bag warna coklat yang di luarnya ada logo huruf S?” tanya Khalisa sopan, menjaga sikap.
“Oh, ada. Disimpan ke kulkas langsung sama Den Yudhis tadi, katanya biar tetap bagus kualitasnya, buat makan dedek lucu ini,” sahutnya renyah serta ramah, juga menyapa Afkar tak kalah ramah.
“Makasih, Bu.” Khalisa hendak membuka kulkas empat pintu yang ada di dapur Yudhis, tetapi terhenti saat lengannya ditahan si istri Mang Darjat.
“Mau dimakan ya? Kalau begitu Bibi hangatkan dulu. Tadi Den Yudhis sudah titip pesan, kalau dedeknya mau makan, bibi ditugaskan menghangatkan supnya. Tunggu sebentar ya.”
“Eh, enggak apa-apa, Bu. Biar sama saya saja. Jangan merepotkan.” Khalisa merasa sungkan, tak terbiasa dilayani.
“Sama sekali tidak merepotkan, Bibi harus amanah menjalankan amanat Den Yudhis, jadi Neng Geulis duduk saja ya.”
“Biar sama saya saja, Bu. Enggak enak kalau cuma duduk-duduk.” Khalisa semakin sungkan, diperlakukan begitu sopan merupakan hal perdana, yang hanya didapatkan setelah dirinya dipertemukan dengan Yudhis.
“Dibikin enak saja duduknya, kursinya empuk lho atau perlu ditambah micin biar enak?” ujarnya melontarkan canda. “Oh iya satu lagi, panggil Bibi Dije saja, jangan Ibu,” pintanya akrab.
“Bibi Dije?” Khalisa membeo.
“Iya, keren kan. Nama alias Bibi adalah Bibi Dije, nama aslinya Dijah. Biar kekinian, Neng,” ujarnya senang menepuk-nepuk pipinya sendiri, dan Khalisa ikut terkekeh merasa lucu. Upaya bantahannya yang tak mempan, membuat Khalisa terpaksa duduk saja, menunggu sup untuk Afkar selesai dihangatkan.
“Mau masak apa, Bi?” tanyanya.
“Mau bikin nasi liwet khas Sunda lengkap dengan lauknya, Neng. Nyonya dan Tuan besar kalau datang ke sini langganan minta dimasakkan nasi liwet. Katanya di Bali tidak ada yang seenak di sini. mungkin beda cuaca ya.”
“Nasi liwet? Lauknya apa?” imbuh Khalisa ingin tahu.
“Mau bikin tumis kangkung, oseng ikan asin jambal roti cabai hijau, tahu tempe goreng, sambal terasi, lalapan, sama ayam bakar. Ayamnya sudah dibumbui tinggal dibakar,” jawab si bibi yang kini sedang mengiris bumbu untuk nasi liwet.
“Saya bantu ya, Bi. Biar cepat selesai.” Khalisa menyingsingkan lengan baju tunik yang dipakainya.
“Jangan, enggak usah, Neng. Sudah ayu cantik begini mending duduk saja, nanti gerah,” ujar si bibi melarang.
“Saya sudah biasa di dapur kok, Bi. Yuk, kita masak bareng saja, lagian Afkar juga lagi asyik makan. Dikerjakan sama-sama lebih menyenangkan dan lebih cepat matang.”
Khalisa memasak penuh sukacita. Seperti biasa, setiap kali ada hal yang bisa dilakukan dengan mengerahkan kemampuan terbaiknya ia selalu bersemangat. Bahkan tertawa di sela-sela keriuhan memasak di dapur, tergelitik banyolan Bi Dije yang berguyon ria.
Yudhis yang baru saja keluar dari kamarnya memperhatikan Khalisa dari ruang tengah. Riak netranya jelas semakin memuja di setiap harinya. Namun, Yudhis masih betah memendam getar itu seorang diri, belum ingin mengungkapkan rasa melalui lisan. Mengingat Khalisa yang pernah gagal dan terluka karena sebuah hubungan, membuatnya takut mengucap secara gamblang, yang jelas takut kecewa, takut ditolak, memilih menyukai dalam diam.
Barata yang ikut muncul di ruang tengah, memerhatikan gerak gerik si sulung dengan tetap menjaga jarak. Sebagai seseorang yang mengasuh dan membesarkan Yudhis semenjak bayi merah, Barata sudah terlatih membaca bahasa tubuh Yudhis. Maharani yang baru selesai berganti baju setelah mandi juga ikut bergabung, mengamati Yudhis tanpa kata.
“Mi, ini merupakan pertama kalinya Yudhis kita memaku pandang pada lawan jenis sampai sebegitunya kan?” bisik Barata pelan. Si sulung ini jelas menyiratkan ketertarikan pada wanita muda yang dibantu permasalahannya itu.
“Iya, Pi. Baru kali ini Yudhis betah berlama-lama mandangin cewek.”
“Mungkinkah anak kita bukan sekadar membantu karena peduli kali ini? Tapi juga karena suka.” Barata menyimpulkan penemuan barunya dalam diri Yudhis.
“Mami tidak begitu yakin. Tapi mungkin saja begitu. Khalisa juga memang cantik kan, wajar kalau Yudhis suka. Tapi apa iya? Anak itu terdengar benar-benar membantu secara professional saat tadi bertutur pada kita.”
“Kalau urusan menyembunyikan rasa lewat kata dia ahlinya. Tapi bahasa tubuhnya enggak bisa bohong. Cuma, Khalisanya kelihatannya lempeng-lempeng saja. Pasti karena Yudhis amatir dan tidak punya pengalaman suka sama wanita jadinya tidak tahu cara mengungkap rasa. Perlukah kita turun tangan? Ini adalah pertama kalinya Yudhis begini, kalau kesempatan semacam ini dilewatkan, Papi khawatir dia betah jadi bujang lapuk.”
“Hush, enggak boleh ngatain anak sendiri. Ingat, ucapan adalah do’a.”
Maharani kembali ke kamar, tak ingin mengganggu anaknya, sedangkan Barata malah menghampiri dan menepuk pundak Yudhis.
“Mas ganteng, naksir ya,” celetuknya sembari berlalu ke taman belakang.
Bersambung.