Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Sebentar Lagi


Bab 39. Sebentar Lagi


Di sebuah kamar berjendela kayu yang dibiarkan terbuka, seorang wanita bergaun merah menyala tengah menatap pantulannya sendiri di cermin, sudah cukup lama ia berdiri di sana, sekitar tiga puluh menit.


Rambut panjangnya yang sebelumnya lebih sering dikuncir sembarang, tergerai indah bergelombang sepinggang. Tulang selangka yang dulu tampak menyembul, kini tidak begitu kentara. Body kurusnya berganti sintal, kulitnya kian bersinar, parasnya jelita tiada tara, hanya saja sorot matanya bak raga tanpa jiwa.


Tidak ada riak kehidupan di dalamnya, seolah sukmanya tak lagi bersemayam. Seluruh gairah hidupnya tertinggal pada si poros dunianya, yang tersisa dari telaga jernihnya hanya kobaran marah terbungkus luka juga tekad yang sulit dipatahkan.


Kaca-kaca kristal bersumber dari kerinduan mendalam mulai membentuk tirai bening pada sepasang jendela hatinya yang dinaungi bulu mata panjang nan lentik. Rindu tak terperi pada si buah hati.


“Afkar, Bunda kangen kamu, Nak. Apa kamu makan dengan baik? Apa tidurmu nyenyak, Sayang?” cicit Khalisa perih teriris, bertanya pada semilir angin yang berembus melewati jendela. “Bersabarlah sebentar lagi, Nak. Bunda akan segera datang menjemputmu dan menggendongmu lagi,” lirihnya parau, tersumbat gumpalan air mata yang menyesaki tenggorokan.


Dari arah ranjang, dering berisik dari ponsel butut yang baru dinyalakannya lagi hari ini, mengalihkan Khalisa dari depan cermin. Menyusut ujung pelupuk dari lelehan panas yang menggenang, Khalisa menempelkan benda tersebut ke telinganya.


[“Kenapa kamu baru bisa dihubungi lagi? Sudah dua bulan lebih ponselmu tidak aktif!”] Bentakan Dion dari seberang sana menggema nyaring di telinga Khalisa.


“Sekarang, aku tidak lagi punya kewajiban untuk menjelaskan tentang mengapa ponselku enggak aktif. Aku bukan istrimu lagi. Ada apa? Apakah Mas meneleponku untuk mengabari perihal urus-mengurus perceraian kita secara resmi sudah beres? Seperti yang Mas katakan dua bulan lalu,” tukas Khalisa cepat, membuang basa-basi, lebih tepatnya tak sudi lagi berbicara panjang lebar pada pria yang hatinya telah mati dari rasa empati. Nada bicara Khalisa tegas, dingin juga datar, tidak ada lagi melodi mendayu lembut yang biasa mengalun saat Khalisa bertutur kata.


{“Y-ya, hampir beres. Aku memang berusaha menghubungimu untuk menyampaikan itu.”]


Jawaban Dion sedikit tergagap, terdengar keberatan. Kalau bukan karena desakan juga campur tangan Amanda yang memiliki koneksi luas, mungkin hal tersebut akan mangkrak lebih lama. Dion terkesan menunda-nunda mengurus secara resmi perceraiannya dengan Khalisa, masih ada rasa yang mengganjal di sanubari, merasa setengah hati.


[“Bukan cuma karena itu. Apakah kamu sudah tidak menginginkan anakmu? Kamu bilang Afkar adalah seluruh duniamu, tapi kamu susah dihubungi, malah menghilang seperti ditelan bumi, enggak ada beritanya maupun bertanya tentang kabar Afkar!”] ketus Dion emosi.


[“Cih, makin angkuh saja kamu, Khalisa! Lima ratus juta itu banyak Khalisa, punya uang dari mana kamu?”]


“Bukan urusanmu! Sepertinya tak ada lagi hal penting yang mau Mas sampaikan. Aku sibuk dan tidak ingin membuang waktu untuk mendengar ocehan enggak penting.”


Telepon dimatikan sepihak. Khalisa tahu pasti Dion meradang di seberang sana dan ia sudah tak peduli akan hal itu, sudah berbeda cerita.


Pintu kamarnya yang tidak terkunci diketuk dan didorong perlahan dari luar. Tya masuk bersama salah satu temannya, membawa beberapa gantungan berisi baju tak senonoh yang terbuka di mana-mana.


“Kamu taruh saja semua baju itu di kasur, biar aku sendiri yang mendandani Khalisa.” Tya mengedikkan dagunya memerintah.


“Tapi, Mbak Tya. Bos Jordan bilang, aku harus ikut membantu mendandani Khalisa, mengingat ini adalah kemunculan perdananya. Khawatir Mbak Tya enggak maksimal menonjolkan keseksian Khalisa akibat sungkan karena kalian sudah saling kenal sebelumnya.”


“Jadi kamu berani bantah aku?” tegas Tya dengan sorot mata tajam, tanpa basa basi menjambak rambut temannya itu hingga tertarik ke belakang.


“A-ampun, Mbak Tya. Ma-maaf. Aku cuma diberi perintah, bu-bukan mau menentang Mbak,” sahutnya ngeri, sembari meringis merasakan kulit kepalanya perih. Tya salah satu kupu-kupu malam kesayangan Jordan sehingga cukup disegani yang lainnya, tentu saja kesayangan yang amat mengerikan definisinya.


“Karena tugasku bukan cuma mendandani Khalisa, kuminta kamu membantuku mendandani si anak baru di kamar lain, yang semalam babak belur oleh tamu karena tak becus melayani dan memuaskan pelanggan keduanya. Maksimalkan penampilannya, supaya jejak-jejak tadi malam tak terlihat lagi. Paham!”


Bersambung.