Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Teman Lama


Bab 28. Teman Lama


“Aduh!”


Suara mengaduh seorang wanita bergema setelah tumbukan tak sengajanya hingga sama-sama jatuh terjerembap mengagetkan Khalisa. Akibat penerangan minim juga terburu-burunya ia berlari, Khalisa kurang memerhatikan langkah saat memasuki gang sempit yang ditujunya untuk berteduh.


“Maaf,” imbuh Khalisa cepat. Segera bangkit, mengambil tasnya yang ikut terjatuh lalu membantu wanita yang tak sengaja ditabraknya. “Maaf, Mbak. Saya beneran enggak sengaja, saya tadi lagi buru-buru,” ujarnya tak enak hati.


“Khalisa?”


“Lho, Mbak Tya?” kata Khalisa penuh tanya. Mereka saling mengamati satu sama lain, merasa saling mengenal.


Mengerjap beberapa kali, Khalisa memokuskan pandangan bermodalkan cahaya remang-remang. Memastikan penglihatannya pada sosok di hadapannya. Seseorang yang dulu sama-sama besar di panti.


“Khal, ngapain di sini malam-malam? Kamu sama siapa?” cecar wanita yang dipanggil Tya itu. Dia juga terlihat buru-buru, kentara dari gelagatnya yang gelisah, terus resah memindai sekitar.


“Ini beneran Mbak Tya?” Khalisa membulatkan mata, dia terhenyak saat akhirnya dapat melihat dengan jelas. Di wajah Tya terdapat jejak seperti bekas tamparan, sudut bibir juga ujung pelipisnya terluka. Rambut Tya acak-acakan, kedua pergelangan tangannya memerah seperti bekas cekalan kencang, tak ketinggalan baju minim kurang bahan yang dipakainya pun kusut masai.


“Muka Mbak kenapa?” tanya Khalisa, terkejut juga sungkan.


“Aku tanya kamu sama siapa berkeliaran malam-malam begini? Jangan bilang kamu luntang lantung sendirian!” Sekali lagi Tya bertanya cepat, nada bicara juga sorot matanya cemas.


Membasahi bibir, Khalisa mengangguk tipis. “I-iya, aku … aku … sendirian,” cicit Khalisa penuh keengganan.


Untuk sejenak Tya mengamati Khalisa dalam diam. Tas coklat yang dipeluk posesif ditambah wajah sembap Khalisa yang berjejak bekas air mata, langsung menjawab sebagian pertanyaan di benak Tya.


“Kamu pergi dari rumah?” cecar Tya dan Khalisa hanya kembali mengangguk.


“Kenapa? Punya tempat bernaung yang disebut rumah juga keluarga adalah impian kita semua di panti dulu, tapi kenapa kamu malah meninggalkannya?”


Menunduk dalam, Khalisa menghela napas berat kemudian menjawab. “Aku, dipaksa pergi dari sana. Lebih tepatnya, aku ini diusir dan dibuang,” lirihnya, bersama seulas senyum getir. “Aku sudah bercerai, tapi mantan suamiku menahan anakku di sana,” sambung Khalisa tercekat. Kembali dibanjiri kesedihan tak terperi sebab dipisahkan paksa dari sumber kekuatannya.


“Sorry, aku turut prihatin. Kita ngobrol di tempat lain, di sini enggak aman. Makin malam sering banyak berkeliaran preman kelas curut. Terus aku juga takut disusulin sama pelanggan kasar yang malam ini booking aku. Ayo ikut.”


Tak punya arah tujuan, membuat Khalisa akhirnya mengikuti langkah Tya. Berjalan beriringan menyusuri jalanan di bawah rintik gerimis. Ternyata Tya membawanya ke sebuah gerai pecel lele yang letaknya agak tersembunyi.


“Pesan makan dan minum, kamu pucat banget.” Tya menarik kursi, mengambil tempat duduk paling pojok supaya tidak terlalu terekspos mata pengunjung lain, mengingat wujudnya saat ini masuk dalam kategori babak belur.


“Enggak usah, Mbak. Aku enggak lapar.”


Gemuruh kencang dari perut Khalisa mengkhianati lisannya. Pipinya bersemburat seketika. Mulutnya berkata tidak, sementara lambungnya berteriak marah menuntut dipenuhi haknya yang memang belum diisi makan malam.


“Luka-luka itu?” Ucapan Khalisa mengambang. Meringis ngeri, tak kuasa meneruskan kalimatnya. Hanya saja mata jernih dan murninya amat jelas memampangkan tentang praduga yang memenuhi kepalanya.


“Iya, apa kamu pikirkan itu benar. Sudah biasa, mau bagaimana lagi, Khal. Risiko dari pekerjaan yang kuambil ya begini. Semuanya demi bertahan hidup. Kebetulan malam ini pelangganku gemar main kasar, walaupun ya kebanyakan memang begitu, hanya menganggapku seonggok objek pemuas nafsu. Tidak lebih.”


*****


Sajadah dibentangkan di sisi peraduan. Selesai dengan ritual bersih-bersih malamnya, seperti biasa Yudhistira selalu berusaha menyempatkan diri melaksanakan salat sunah sebelum mata memejam. Yakni salat sunah taubat, yang didawamkannya beberapa bulan terakhir ini. Mengamalkan bimbingan yang diberikan Ghaisan juga dari kajian rutin yang sering dihadiri.


Kedua tangannya terangkat syahdu, khusyuk menyebut asma Allah yang agung. Menghadapkan wajah pada Sang Pencipta, dengan mata mengkilap basah, mulai dari takbiratul ihram hingga salam.


Selepas salam, Yudhistira kembali bersujud, melengkapi salat sunahnya yaitu melakukan sujud taubat. Sebagai bagian dari tata cara menyempurnakan salat Sunah Taubat itu sendiri. Keningnya menyentuh sajadah erat. Lisan dan hatinya bertasbih membaca do’a Nabi Adam, do'a Nabi Yunus lalu do'a Lailatul Qadar masing-masing sebanyak empat puluh kali.


Cucuran air mata tak terbendung. Memohon ampun pada Sang Pencipta atas segala kesalahan diri terutama memohon ampunan juga rahmat untuk almarhumah ibu kandungnya, Masayu. Wanita yang menutup mata ketika melahirkannya ke dunia. Mengandung dan melahirkannya tanpa tahu benih siapa yang bertumbuh dalam segala keterbatasan kondisi Masayu yang kala sedang mengandungnya divonis gila. Berharap Sang Maha baik mengampuni segala cela dan noda ibunya semasa hidup, serta menempatkannya di tempat yang mulia.


Ponselnya berdering tepat di saat Yudhistira selesai melipat sajadah. Nama Ibu Peri muncul di layar gadgetnya. Rupanya Maharani yang menelepon, ibu angkatnya yang bagi Yudhistira bukan hanya sekadar seorang ibu, tetapi juga bak malaikat tak bersayap.


Salam penuh hormat terucap khidmat ketika panggilan tersambung, dibalas sapaan manis dari seberang sana.


“Kapan pulang ke Bali, Nak? sudah lama kamu enggak pulang. Mami kangen, ingin lihat wajah ganteng kamu. Yang dulu berpipi gembul dan sekarang berjambang tampan. Rasa-rasanya nyawa Mami tinggal beberapa helaan saja saking rindunya sama kamu.”


Yudhistira terkekeh pelan. Maminya memang hobi sekali merajuk dan berdrama ria saat mengeluh rindu padanya.


“Aku juga kangen, Mi. Bukannya tidak mau berkunjung sering-sering. Aku masih dalam fase merintis LBH ku di sini. Butuh dedikasi penuh, menguras waktu dan pikiran. Juga, aku tidak ingin menyebabkan Erlangga meradang kalau aku terlalu sering pulang, karena cemburu akan kasih sayang Mami padaku. Alasanku merintis karier di Bandung dan meminta Mami serta Papi untuk tidak meletakkan tangan pada karierku juga demi meredam semua itu. Aku hanya tidak ingin bikin Mami sedih. Andai melihatku dan Erlangga yang mungkin berseteru. Karena bagaimanapun juga aku manusia biasa, khawatir tak bisa mengontrol emosi kalau terus diprovokasi.”


“Hhh, Entah apa yang merasuki otak adikmu sejak kuliah, sampai berpikir bahwa kamu menjadi anak penurut demi menguasai seluruh aset Mami dan Papi nantinya, otaknya benar-benar perlu dicuci!”


Yudhistira memang anak yang penurut sejak kecil, terlebih kala beranjak remaja dan tahu bagaimana asal-usulnya, dia makin menempatkan dirinya untuk berbakti sebaik mungkin pada orang tua angkatnya. Memperlakukan dirinya yang berasal dari kubangan noda bak permata berharga. Berkat mereka, dirinya tumbuh dalam dekap kasih sayang juga materi melimpah. Tidak ingin mengecewakan dan mempermalukan, sebagai ungkapan syukur terdalamnya.


“Mungkin karena sedang beranjak dewasa, Mi. Sedang berproses mencari jati diri. Untuk saat ini aku lebih baik menghindar, demi kedamaian semua orang. Juga kedamaian Mamiku tersayang yang secantik bidadari.”


Yudhistira berujar menghibur manis. Nadanya teruntai penuh syukur, merasa beruntung dirinya dicintai oleh Maharani dan Barata seperti anak sendiri. “Ini sudah malam, Mami harus tidur. Begadang enggak bagus buat kesehatan badan juga kulit. Biar nanti kalau sudah waktunya ngunduh mantu tetap cantik membahana.”


“Eit, ngunduh mantu? Jangan-jangan kamu sudah punya calonnya? Kenapa enggak kasih tahu Mami!” Tuntut Maharani berseloroh sewot.


Yudhistira tergelak renyah, “Belum lah, Mami, ini kan baru kalau. Cermati dengan baik arti dari kalimat keseluruhan. Sampaikan salamku buat Papi ya.”


“Ya, ya, baiklah Pak Pengacara. Semoga segera menjadi iya bukan hanya kalau. Segeralah mencari istri, kamu sudah waktunya punya pendamping.”


Bersambung.