Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Satu-Persatu


Bab 147. Satu-Persatu


Dion kembali ke garasi, menyalakan mesin mobil dan melesat pergi. Bukannya menghubungi Amanda, dia malah menghubungi Gladys sembari mengemudi menggunakan ponsel rahasianya. Entah bagaimana cara kerja otaknya di situasi genting ini.


“Kamu di mana?”


[ “Di rumah kontrakanku. Aku sudah menunggu dihubungi sejak tadi. Kenapa baru merespons pesanku? Aku ingin diantar ke dokter, mual kehamilanku menyiksa. Juga kenapa aku tiba-tiba dipecat tanpa pemberitahuan! Tadi pagi aku diusir satpam sewaktu mau bekerja, mereka bilang Anda memecatku dan pesangon yang masuk ke rekeningku jumlahnya standar seperti karyawan lainnya. Aku enggak terima diperlakukan begini, habis manis sepah dibuang!” ] Gladys merengek cengeng, menangis di seberang sana, mencecar mendesak Dion.


“Tapi kamu sendiri yang bersedia membuka kaki untukku, Gladys. Coba ingat-ingat lagi, siapa pihak pertama yang merayu dengan sukarela membuka baju untukku di ruanganku!” bentak Dion tak kalah sengit. Saling menelanjangi kebobrokan masing-masing. “Dan aku memakaimu tidak gratis. Aku memberimu imbalan nominal besar setiap kali selepas memberiku kenikmatan. Memenuhi semua keinginanmu seperti kamu memenuhi hasratku. Kita ini sama-sama saling memanfaatkan bukan? Sama sekali enggak ada rumus habis manis sepah dibuang dan anak di perutmu sama sekali bukan tanggung jawabku! Itu konsekuensimu karena aku sudah membayarmu untuk memuaskanku!”


Tangisan Gladys berganti menjadi raungan. Mengamuk marah tak terima. “Tapi aku bukan wanita penghibur yang menjual diri! Tega sekali Anda bilang begitu, yang bersemayam di rahimku ini adalah darah daging Anda! Jangan cuma mau desah enaknya saja dan setelah menjadi janin malah lari dari tanggung jawab! Kalau Anda tidak mau bertanggung jawab juga, aku akan mengirimkan foto-foto mesra kita sewaktu di kamar vila di Pangandaran pada Bu Amanda dan membeberkan semuanya tentang kita juga kehamilanku sekarang juga!”


Foto-foto mesra yang dimaksud Gladys lebih cocok dengan potret vulgar. Karena dia dan Dion berfoto sangat intim di atas tempat tidur, hanya terbungkus selimut antara ketiak dan lutut sebagai kain penghalang aset vital mereka.


Dion mencengkeram erat setir. Rahangnya mengetat bersama pedal gas yang diinjak kian dalam. Kalau Amanda sampai tahu tentang hal ini, entah bagaimana riwayat keberlangsungan hidup mewahnya. Kalimat rayuan dilontarkan Dion sekarang, membujuk Gladys yang melengking menangis marah.


“Tenanglah, jangan gegabah. Aku cuma sedang pusing dan kamu malah menambah kepalaku makin sakit saja. Kita bertemu untuk membahas masalah penting ini, dan aku juga kangen kamu, sekalian mau kasih kamu hadiah. Cuma aku enggak bisa jemput kamu ke kontrakan. Kita janjian di vila baruku di Pangandaran. Aku dalam perjalanan ke sana.”


“Oke. Aku akan siap-siap sekarang. Tapi, perjalanan ke sana lumayan jauh. Besok pagi mungkin baru sampai,” sambar Gladys cepat, begitu senang diajak bertemu setelah beberapa waktu Dion terus menghindarinya.


“Enggak masalah. Aku akan menunggu sekretaris cantikku.”


Menyudahi panggilannya dengan Gladys, Dion menghubungi nomor lain. Dan kalimat penutup percakapannya mampu membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya bergidik ngeri.


“Kalian harus sudah sampai di vila baruku sebelum Gladys tiba. Pastikan dia keguguran, bawa ahli profesional di bidang aborsi untuk melakukannya. Jangan sampai gagal. Tapi ingat, jangan membunuhnya, aku hanya ingin janin dalam kandungannya saja yang dilenyapkan.”


*****


“Kenapa baru datang? Kenapa handphone Mas mati? Anak sakit parah malah susah dihubungi, dan barusan aku malah mendapat kabar Mas menghambur-hamburkan uang untuk menyuap hakim!”


Teriakan berang Amanda di lorong rumah sakit berdengung nyaring, menyambut Dion yang baru sampai di saat jarum jam hampir menyentuh waktu tengah malam tepat. Menyemburkan marah tak tahu tempat, tidak menjaga harga diri suami sebab merasa diri lebih berpunya. Mempermalukannya di depan umum tanpa ada satu pun yang membela, sebagaimana dulu dirinya membiarkan Khalisa dipermalukan oleh ibunya juga keluarga dan orang sekitar.


“Manda, pelankan suaramu!” geram Dion tertahan sembari mengusap wajahnya kasar. Dion kelepasan sedikit membentak saking carut marutnya isi kepalanya.


“Mas berani bentak aku?” Amanda mendelik penuh emosi, mengepalkan tangan. “Mas enggak boleh begini sama aku!”


“Maaf, Sayang. Aku enggak bermaksud begitu,” bujuknya, mengelus bahu Amanda. “Di mana Riri, aku ingin melihatnya?” sambungnya cepat, berusaha memotong topik pembicaraan tentang suap-menyuap yang diangkat Amanda barusan dan itu berhasil.


“Di ruang ICU, dan kondisinya kritis.”


Bersambung.