Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Bertemu Sahabat


Bab 164. Bertemu Sahabat


Daerah Buah Batu seolah menyimpan luka tersendiri bagi Khalisa. Meski begitu, ia tetap meneruskan niatannya meminta Yudhis memasuki lokasi di mana tukang bubur yang biasa memesan baju kreditan pada Windy berada.


Rumah yang dulu menjadi saksi bisu kisah getirnya semasa diperbudak Wulan di masa lalu juga terlewati. Sudah ditempati orang lain kini. Dan beberapa orang yang sering merundungnya dulu terlihat sedang berlalu lalang. Serangan kenangan perih masa lalu menghantam, hanya saja kekuatan hantamannya hanya sekitar satu persen saja, sekadar memori masa lalu yang terangsang ingin unjuk gigi.


“Kenapa?” tanya Yudhis saat merasakan genggaman tangan Khalisa mengerat begitu mobil diparkirkan di dekat pos ronda tak jauh dari jongko penjual bubur, mengamati raut wajah istrinya yang terlihat gamang.


Khalisa menggeleng. “Aku enggak apa-apa, Bang,” sahutnya, tetapi arah pandangnya takut-takut seakan trauma ketika melihat beberapa orang yang berlalu lalang di luar. Memeluk Afkar erat-erat saat kelebatan masa lalu menyeruak sewaktu Afkar juga ikut dihina karena asal usul dirinya.


Mengikuti arah pandang Khalisa tertuju ke mana, cepat-cepat Yudhis menawarkan solusi, peka akan perasaan Khalisa yang terdeteksi tak nyaman. “Beneran mau turun dan lanjut mencari Windy? Kalau enggak mau, biar aku saja yang jalan kaki cari keberadaan Windy. Mobil cuma bisa masuk sampai sini. Kamu tunggu saja di mobil.”


“Aku mau ikut,” jawab Khalisa cepat. Membuang semua ragu, tak ingin lagi terkukung masa lalu.


“Yakin?”


“Iya yakin, Bang. Ayo kita cari Windy.”


Khalisa turun sembari menuntun Afkar. Dan seperti biasa dengan sigap Yudhis meraih putra sambungnya itu untuk digendong. Suasana penjual warung bubur di pagi hari memang selalu ramai. Banyak orang yang bertandang untuk sarapan semangkuk bubur ayam hangat di sini yang kelezatannya lumayan terkenal di daerah Buah Batu dan sekitarnya. Sebelah tangan Yudhis menggendong Afkar dan sebelahnya lagi menggenggam tangan Khalisa, menyalurkan rasa aman kepada dua orang yang dikasihinya.


Orang-orang yang sedang makan di tempat menghentikan suapan, melongo begitu Yudhis sekeluarga muncul. Maklum saja, penampilan Yudhis walaupun hanya dalam balutan kaos polo dan sarung pun tak pernah menurunkan kadar menawan dan berkelasnya. Seolah sudah mendarah daging. Terlebih lagi saat dibalut setelan mahal seperti saat ini, karismanya memancar berkali-kali lipat. Khalisa juga tak kalah anggunnya sekarang. Bercahaya dan cantik bersahaja setelah berada dalam peluk kasih sayang pria yang tepat.


Khalisa menghampiri si bapak penjual bubur yang juga mengerjap mengamatinya. Pasti si bapak tidak mengenali. Selain semakin memesona, sekarang aurat Khalisa tertutup dalam balutan gamis dan kerudung.


“Assalamua’laikum, Pak. Maaf mengganggu, barangkali Teh Windy sudah ke sini? Saya lagi cari-cari dia. Ada perlu, tadi pas ke rumahnya kata suaminya ada rute ke Buah Batu, mau antar pesanan baju istri Bapak katanya.”


“Wa’alaikumsalaam. Sebentar, Neng ini siapa ya?” tanya si bapak ingin memastikan, sebab jika hanya menerka saja khawatir keliru alias salah orang.


“Ya Allah, Neng. Pangling sekali sampai Bapak hampir tidak kenal. Ini juga anak ganteng makin montok, sudah tambah jangkung. Bagaimana kabarnya? Sehat?” Si Bapak penjual bubur begitu semringah, sorot mata tuanya jelas memancarkan rasa gembira tulus melihat kondisi Khalisa dan Afkar yang sekarang.


“Alhamdulilah sehat, Pak.” Khalisa balas menyapa si bapak penjual bubur. Bertukar kata saling bertanya kabar.


“Windy belum ke sini, paling sebentar lagi. Tunggu saja, duduk-duduk dulu sambil makan bubur dan minum teh panas. Bapak ingin menjamu. Ati ampela kesukaan Neng Khalisa kebetulan hari ini lagi banyak bikinnya.” Si bapak mengambil beberapa kursi plastik yang menumpuk, mempersilakan Khalisa sekeluarga untuk duduk.


“Sebentar. Aden ini yang tempo hari pernah datang ke sini mau kembalikan KTP Neng Khalisa kan?” tanya si bapak ragu-ragu, baru ingat sosok pelente ini pernah mampir dan mengobrol dengannya membahas tentang Khalisa.


Yudhis mengangguk seraya tersenyum ramah. “Betul sekali, Pak.”


“Ini Bang Yudhis, Pak. Suami saya. Dan sekarang saya lagi hamil.” Dengan bangga Khalisa memperkenalkan pria yang mencintainya begitu hebat tanpa tapi, seraya mengelus perutnya penuh sayang.


Si bapak menepuk-nepuk pundak Yudhis, mengucap derai syukur bertubi-tubi. Turut berbahagia mendengar kabar ini. Mengucap selamat pada Khalisa atas pernikahan juga kehamilannya.


Beberapa orang yang dulu sering menghina Khalisa dan juga sedang makan bubur di situ dibuat terkejut bukan main dengan penampilan Khalisa. Beberapa saat tadi mereka belum begitu sadar bahwa wanita cantik dan anggun ini adalah sosok yang pernah mereka caci maki di masa lalu, sebab tampilan Khalisa kini mampu membuat orang-orang yang dulu pernah mengenalinya pangling luar biasa. Belum lagi melihat dengan mata kepala sendiri sosok yang menggandeng Khalisa sekarang sangat kentara bukan pria sembarangan dengan pesona di atas rata-rata. Ada yang berbisik-bisik, ada pula yang bergegas pergi mati kutu. Terutama saat Khalisa menyebut suami pada si pria tampan itu dengan nada bahagia seraya mengelus perut buncitnya.


Suara motor Mio berklakson berisik mengalihkan obrolan Khalisa dengan si bapak penjual bubur. Senyum Khalisa mengembang, itu adalah sosok yang sedang dicarinya yaitu Windy si tukang kredit, satu-satunya manusia yang menganggapnya teman di kala diri hidup susah dihujani hinaan.


“Windy,” panggil Khalisa antusias, membuat si wanita yang sedang membuka helmnya itu terbnegong-bengong terkejut.


Lantas, mata Windy membola saat mengenali siapa yang memanggil, menghambur cepat seraya balas memanggil setengah berteriak. “Khalisa!”


Bersambung.


Terima kasih buat kalian yang selalu sabar menunggu. Sayang kalian banyak-banyak 🥰.