Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Terngiang


Bab 38. Terngiang


Termenung di kursi kayu yang terdapat di taman samping, Yudhis mengamati foto KTP Khalisa ditemani gemercik air kolam yang menjadi tempat Ikan Koi peliharaannya berlenggak-lenggok. Dia baru kembali dari alamat yang menjadi tujuannya mengembalikan KTP. Sayang, rumah yang tertera pada alamat KTP sudah kosong melompong tak berpenghuni, kedatangannya hanya disambut banner besar bertuliskan ‘RUMAH INI DIKONTRAKAN’.


Bukan hanya itu yang membuat Yudhis kini mengerutkan keningnya samar. Dia sempat mengobrol lumayan lama dengan penjual bubur yang berlokasi tak jauh dari alamat tersebut. Tanpa sengaja membuka pembicaraan tentang Khalisa ketika dia memutuskan sarapan bubur ayam di sana, sehingga akhirnya terjadilah obrolan panjang lebar. Mulai dari cerita Khalisa yang dikucilkan oleh keluarga suami juga sekitar karena asal-usulnya, sampai dengan kisah Khalisa yang dimadu serta diceraikan.


“Ternyata, perjalanan hidupnya begitu keras juga berat. Semuda ini harus banyak mengalami kepahitan dan beban hidup tak biasa. Pantas saja di balik raut cantiknya selalu mendung kelabu. Lalu ke mana dia pergi di saat enggak punya tempat untuk pulang? Penjual bubur itu mengatakan di hanya sebatang kara. Mungkinkah terlunta-lunta?


Kebingungan harus mengembalikan KTP ke mana, Yudhis menghubungi Ghaisan dan mengajak bertemu di lapangan memanah juga berkuda, sekalian meregangkan otot sembari bercengkerama, berharap semoga Aloisa tidak terus mendekap sahabatnya itu di atas kasur di hari liburnya.


“Bukannya ini si wanita yang kau kira dedemit itu? Yang pernah kita antarkan bersama ke rumahnya?” Ghaisan fokus pada foto Khalisa, membolak-balik kartu identitas berwarna biru itu. Yudhis dan Ghaisan sedang rehat setelah memanah dan puas berkuda saling berkejaran, duduk bersama di sebuah kafe yang terdapat di dalam area berkuda.


“Hmm.” Yudhis mengangguk mengiyakan, membuka tutup botol air mineral dan meneguk isinya hingga habis separuh guna meredakan haus setelah berkeringat.


“Gimana ceritanya KTPnya bisa ada padamu?” tanya Ghaisan penasaran.


Yudhis mulai menceritakan kronologinya, semuanya secara detail, tidak ada yang terlewat. Diawali dengan cerita pertemuan tak sengaja lainnya dengan Khalisa hingga sampai pada kesimpulan meminta tolong Ghaisan untuk mencari wanita bernama Khalisa ini dan mengembalikan KTPnya. Yudhis juga menceritakan obrolan panjang lebarnya dengan si bapak penjual bubur tanpa kecuali.


“Kartu identitas ini sangat penting dan krusial. Aku hanya khawatir dia menganggap KTP nya hilang. Padahal waktu itu aku lancang mengambil dari dompetnya pun bukan tanpa alasan yang jelas. Juga, aku cemas mungkin dia terlunta-lunta, terkahir kali bertemu, kondisi kesehatannya cukup memprihatinkan.”


Ghaisan mengamati raut sahabatnya yang terlihat tak biasa. Keresahan tergambar jelas di wajah Yudhistira. Cukup berlebihan kalau hanya sebatas khawatir atas nama kekhawatiran serta kepedulian terhadap sesama manusia. Juga dari ujung kalimat sahabatnya barusan Ghaisan menangkap sesuatu yang berbeda, lebih mirip sebentuk kepedulian yang lebih mendalam, rasa peduli yang timbul dari seorang pria dewasa untuk wanita yang dikasihi dengan hati. Mengingat dia sudah lama mengenal Yudhis, bukan sehari dua hari.


“Arti lain bagaimana?” Yudhis balas bertanya, memicing tak paham.


“Kamu bukan hanya sekadar peduli iya kan? Kamu terpesona tanpa sadar pada ibu satu anak itu, Bapak Yudhistira. Dasar pria tidak peka!” ejek Ghaisan disusul gelak tawa.


“Jangan asal bicara. Aku hanya berusaha menolong seseorang yang mungkin sedang kesusahan. Aku memang begini sama semua orang, bukan cuma sama dia. Sebagai warga negara yang baik kita harus menjaga hubungan sosial bukan, Pak AKP? Enggak melulu soal terpesona atau tidak!” tegasnya menampik, yang malah mengundang tawa Ghaisan kian pecah. Kendati setelahnya Yudhis mulai terngiang akan asumsi Ghaisan, merasa dirinya mulai munafik, lain di mulut lain di hati.


*****


“Sudah genap dua bulan lebih Khalisa berada di bawah tempaanmu, seharusnya dia sudah lebih dari siap sekarang!” Jordan berseru dengan suara menggelegar memekakkan telinga.


“Bukankah kau tidak ingin mengecewakan para pelangganmu? Aku rasa Khalisa masih butuh waktu. Beri aku satu minggu lagi, kupastikan dia siap melayani tamu dengan performa penuh yang memuaskan,” jawab Tya tenang, meyakinkan. Padahal dia memang sengaja terus mengulur waktu selama masih bisa diupayakan, masih berusaha membujuk Khalisa agar mau membatalkan niat kerasnya yang nekat menganggap perangkap Jordan sebagai solusi.


“Kamu sepertinya mulai tidak becus, Tya. Biar aku sendiri yang menatarnya!" tegas Jordan, membuat Tya belingsatan. Namun, Tya tetap mengendalikan diri supaya kepanikanya tak terbaca. Menatar versi Jordan sudah tentu Khalisa akan dijamah lebih dulu oleh Jordan sebelum dipekerjakan, dan Tya sebisa mungkin mencegah itu terjadi.


“Hei sabarlah. Lagi pula Khalisa itu bukan anak perawan yang malu-malu. Tidak perlu repot-repot sampai kau turun tangan sendiri, Jordan. Khalisa hanya masih butuh dikuatkan rasa percaya dirinya untuk berlenggak-lenggok b*nal menyenangkan pelanggan. Aku janji, minggu depan dia akan siap.” Tya merayu sembari mengesekkan tubuhnya meski merasa jijik. Dia sudah kepalang tercebur kubangan nista itu, tak keberatan menghinakan dirinya untuk menyelamatkan si lugu supaya tidak sama-sama berlumur dosa sepertinya.


Jordan menangkap pinggang Tya penuh minat, mendaratkan punggung tangan di dagu Tya dan berdesis tepat di depan bibir bergincu merah itu. “Baiklah, aku tunggu hasilnya. Pastikan dia harus bagus juga tidak mengecewakan. Dan untuk malam ini, kamu tidak usah melayani pelanggan, aku butuh kamu semalaman membuka kaki untukku, Tya.”


Bersambung.