Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Berkobar


Bab 44. Berkobar


Xpander hitam yang mengebut dalam kecepatan di atas rata-rata normal sejak keluar dari parkiran kafe, kini berhenti tepat di garasi sebuah rumah minimalis sejuk dan asri. Dihentikan sekaligus secara mendadak oleh si pengemudi, membuat si wanita yang duduk pada jok di sebelahnya nyaris tersungkur ke depan andai sabuk pengaman tidak melintang erat.


Sepanjang perjalanan hingga mesin mobil dimatikan, diisi bentangan senyap membunuh. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut masing-masing, hanya terdengar bunyi deru kendaraan yang melaju kencang berkejaran dengan angin membelah jalanan.


Khalisa berusaha mengatur detak jantungnya yang morat-marit akibat diserbu kengerian setelah dibawa berkendara dalam kecepatan tinggi bak di arena formula 1. Memerhatikan ke luar sana, alih-alih membawanya ke hotel seperti pemikirannya, ternyata Yudhis membawanya ke sebuah rumah yang bagi Khalisa terbilang mewah.


Pintu mobil dibuka kasar, disusul seruan meninggi dari si pria yang masih mengetatkan rahang hingga giginya gemeletuk itu. “Turun!” titahnya tegas.


“Ba-baik,” sahut Khalisa tergagap, gugup imbas tersentak kaget seruan tinggi suara maskulin yang naik beberapa oktaf.


Ia berusaha keras untuk tetap tenang. Bukankah diperlakukan kasar merupakan bagian risiko nyata dari pekerjaan ini seperti kata Tya? Jujur saja yang membuatnya resah bukan hanya karena pekerjaan yang diambilnya, tetapi si pelanggan pertamanya ini membuatnya luar biasa serba salah, sebab sudah pernah bertemu sebelumnya dalam situasi yang teramat berbeda. Ingin berpura-pura tak mengenal pun tidak mungkin, lantaran mereka pernah bertemu lebih dari satu kali.


Khalisa menarik-narik tak nyaman gaun ketat di bagian bawahnya supaya lebih turun, berharap tidak terlalu menyingkap saat ia menutupkan pintu mobil. Namun percuma, mau ditarik dengan usaha apa pun baju yang dipakainya tidak akan berubah ukuran, tetap saja super pendek, ketat, juga berbelahan dada rendah. Jenis Baju yang baru kali ini dipakainya.


Yudhis mendorong pintu jati depan setengah membantingnya, berdentam keras membentur tembok hingga kaca-kaca kusen jendela ikut bergetar. Khalisa menahan diri untuk tidak memekik kaget, tetap mengekori Yudhistira masuk ke dalam bangunan bercat putih itu. Ia bertekad untuk secepatnya menyelesaikan pekerjaannya. Mendoktrin diri supaya tetap profesional mengingat Yudhis sudah membayar mahal untuk jasanya.


Tepat di ruang tengah rumah, Yudhis menghentikan hentak langkah penuh emosinya. Berbalik dan melayangkan tatapan nyalang penuh intimidasi, membuat Khalisa ingin menunduk rasanya saking tajamnya netra beraura elang itu menerobos retinanya.


Khalisa mengangkat dagu, tetap membalas tatapan Yudhis meski jujur saja nyalinya gentar. Antara melanjutkan pilihan berlumur nista ini sebab sudah kepalang basah, atau memilih lari. Lagi-lagi bayang-bayang wajah Afkar juga tangisannya yang memanggil-manggilnya berputar dalam benak, membulatkan kembali tekad Khalisa yang sesaat tadi sempat berhamburan. Tak sanggup menahan lebih lama lagi keinginan memeluk kembali si buah hati.


“Y-ya, saya masih baru. Malam ini adalah hari pertama saya. Tapi jangan khawatir, saya sudah dilatih dan digembleng beberapa waktu ke belakang. Saya pastikan Anda puas dan tidak kecewa,” jawab Khalisa dengan suara yang sedikit bergetar. Mati-matian menekan rasa ragu juga malu.


“Paham pekerjaan macam apa yang sedang kamu jalani ini? Lembah nista yang amat berisiko, selain dipandang hina, penyakit menular mematikan ikut mengintaimu. Bukankah sebelum ini kamu sudah dicemooh dengan sindiran serupa, Khalisa? Apakah kamu begitu suka cemoohan itu sampai-sampai ingin mewujudkannya menjadi nyata?” cecar Yudhis menekankan kata-katanya, mengayunkan kaki maju satu langkah.


Khalisa terkejut saat Yudhis menyebut namanya, ingin bertanya dari mana pria yang membelinya di debut perdananya ini mengetahui nama aslinya. Juga ingin tahu kenapa pria ini bisa tahu tentang sebagian fakta kisah hidup pahitnya, tetapi sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membahas persoalan itu.


“Saya sudah tahu, tidak usah diingatkan,” tegas Khalisa, menelan ludah kemudian guna membasahi tenggorokannya yang mengering seketika.


“Di mana anakmu?” tanya Yudhis, melenceng dari topik pembicaraan sebelumnya. “Apa anakmu tahu ibunya menceburkan diri ke dalam kubangan pekerjaan kotor semacam ini?”


Tangan Khalisa terkepal di sisi tubuh, pupil matanya bergulir tak beraturan menyiratkan kebimbangan. Perasaannya yang mendadak gamang, menggeliat menepis angin yang menggoyahkan, menguatkan lagi tekadnya yang terus diguncang di sana sini agar tidak tumbang, meyakini keputusan nekatnya sudah benar.


“Saya di sini bukan untuk menjawab pertanyaan Anda. Tapi untuk menuntaskan pekerjaan saya,” tukasnya cepat.


Di luar dugaan, Khalisa mengambil tindakan mencengangkan, membuat Yudhis yang hendak membuka mulut lagi nyaris terlonjak ke belakang, saat tanpa basa-basi dan dengan cepat Khalisa melucuti pakaian seksi yang membungkus tubuhnya hingga luruh ke lantai, memampangkan raga indah moleknya, menyisakan seutas dalaman berenda warna putih dengan desain teramat minim dari model normal yang biasa beredar di pasaran.


“Di manakah Anda ingin dilayani, Pak Pelanggan? Saya harus menuntaskan layanan atas jasa yang sudah Anda bayar mahal. Bukankah Anda membayar untuk itu? Lebih cepat lebih baik,” ucap Khalisa setelahnya, membuat kilat netra Yudhis berkobar berapi-api. Bukan kobaran gairah, melainkan amarah.


Bersambung.