
Halo selamat sore teman-teman readers tersayang. Semoga kalian semua selalu sehat dan bahagia di manapun berada.
Ada sedikit pemberitahuan yang harap diperhatikan. Di saat membuka bab baru jangan, like dan komen langsung ya, sebisa mungkin dibaca dulu barulah like dan komentar sesudah membaca. Terkait ada perubahan kebijakan sistem yang mengharuskan mekanismenya seperti itu. Mohon bantuannya ya, teman-teman. Terima kasih banyak atas dukungan dan cintanya. Love & Hug 💜🤗.
Bab 133. Kado Spesial
Yudhis keluar dari persembunyiannya. Merangkul Khalisa yang sedang tertegun tanpa aba-aba, mengecup kepalanya penuh sayang. Membuat Khalisa terperanjat.
“Ya ampun, Abang. Aku kaget,” ujar Khalisa sembari mengusap-usap dadanya.
Ia cepat-cepat mengukir senyum, padahal ia sedang diterjang krisis kepercayaan diri imbas dari cecaran si wanita paruh baya berbaju kuning. Bukannya Khalisa tak berani menimpali si wanita tadi sama tajamnya, tetapi ia berusaha menjaga sikap di rumah orang tua Yudhis, terlebih lagi wanita tadi adalah kerabat mertuanya, tidak ingin merusak acara kumpul keluarga ini. Juga, saat pendidikan akademisnya yang dibahas, tak dipungkiri Khalisa memang merasa kalah telak sebelum bertanding.
“Kenapa melamun? Ngantuk atau capek? Kalau kamu sudah ngantuk kita naik saja.” Yudhis membuka pembicaraan membahas topik lain seolah tak mendengar persoalan tadi, nada bicara juga raut wajahnya menghibur berbalut maaf tersirat.
Yudhis bukan tak mumpuni untuk bertindak yang sudah pasti mampu memukul musuhnya mundur hanya dengan lisan. Serta wanita yang mencecar dan mencibir Khalisa tadi merupakan kerabat dekat papinya yang juga andil dalam perseteruan perang dinginnya dengan Erlangga.
Akan tetapi, tidak selamanya Yudhis bebas mengambil sikap semaunya kendati orang tuanya berkuasa dan dia pun sudah bisa berdiri sendiri, bertumpu pada kemampuan diri. Namun, saat ruang lingkupnya adalah saudara, persoalannya tidak sesederhana itu, berbeda ketika orang lain yang berulah. Bukan tidak bisa tegas, tetapi lebih pada menghormati dan menghargai momen kebersamaan yang sedang berlangsung. Terlebih lagi di sini posisinya hanya anak angkat. Sedangkan wanita yang gemar memprovokasi itu adalah saudara yang memiliki ikatan darah dengan orang tuanya.
Sebagai anak, Yudhis tidak ingin meletuskan peperangan di tengah-tengah acara silaturahmi keluarga orang tua yang disanjungnya, meski jujur saja dia harus mati-matian menggenggam kemurkaannya saat mendengar istri tercintanya disindir tajam.
Kalimat penutup wanita tadi mengingatkannya akan satu hal yang belum diberitahukannya pada Khalisa. Yudhis berpikir, mungkin sudah saatnya Khalisa tahu siapa jati dirinya yang sesungguhnya daripada Khalisa mendengarnya dari orang lain, walaupun jujur saja Yudhis pun gamang akan penerimaan Khalisa nantinya, takut rasa cinta Khalisa untuknya yang baru seumur jagung belum kuat fondasinya.
Khalisa yang memang kehilangan mood mengangguk setuju. Jujur saja ia menjadi paranoid, khawatir pertanyaan dan cecaran yang lebih pedas terlontar padanya dari kerabat yang lainnya. Juga badannya akhir-akhir ini sering mudah lelah, menuntut diistirahatkan lebih awal.
“Iya sih, Bang. Aku sebenarnya mengantuk. Mungkin karena terlalu banyak makan. Tapi, memangnya enggak apa-apa pergi lebih dulu di saat acara belum selesai semuanya?” tanya Khalisa tak yakin.
“Tenang saja, mami dan papi orangnya pengertian. Lagi pula ini sudah hampir jam sembilan malam, sebentar lagi waktunya Afkar tidur. Kamu naik duluan saja, Afkar biar aku yang bawa baik. Aku yang akan bicara pada mami, papi dan keluarga yang lainnya. Nenekku juga sudah masuk kamar sejak setengah jam lalu. Jadi enggak masalah kalau kamu ingin beristirahat.”
*****
“Lho, Afkar sudah bobo ya, Bang? Maaf, aku kelamaan mandinya.” Khalisa meringis tak enak hati saat Yudhis masuk ke kamar.
“Enggak apa-apa. Afkar anak pintar. Kami malah bercerita seru sebelum dia akhirnya tertidur.”
Khalisa tersenyum senang. Yudhis menariknya duduk di atas kasur.
“Aku mau kasih lihat sesuatu,” ucapnya sembari menyodorkan amplop pemberian Erlangga pada Khalisa, baru sempat diserahkan.
“Apa ini?” Khalisa, membolak-balik amplop di tangannya. “Apa ini isinya uang?” ujarnya polos, menerawangkan amplop menggunakan pendar cahaya lampu. Memicing mengintip isinya, bukan membukanya.
Yudhis tertawa kecil. “Enggak usah diintip begitu. Buka saja. Ini hadiah dari Erlangga,” sahut si tampan berlesung pipi itu, langsung merebahkan kepala di pangkuan Khalisa. Berharap kado ini bisa sedikit saja mengobati luka Khalisa yang dicibir di acara makan malam keluarga beberapa jam lalu.
“Voucher bulan madu?” Khalisa mengeja tulisan pada selembar kertas yang terdapat dalam amplop.
“Iya. Voucher bulan madu. Masih di sekitar Bali. Gimana mau dipakai dalam waktu dekat atau nanti? Walaupun sebenarnya, aku inginnya dipakai secepatnya.” Yudhis bertutur dengan nada penuh arti.
“Aku juga mau sih,” jawab Khalisa meski masih malu-malu. Tak munafik ia suka berduaan dengan sang suami, tetapi juga ia ingin terus berdekatan dengan si buah hati di saat ada kesempatan.
Setiap harinya Khalisa juga semakin cinta pria ini, bukan karena hartanya, melainkan dari bagaimana cara Yudhis mengasihi buah hatinya serta mencintainya tanpa syarat, itulah tersegalanya bagi Khalisa.
“Tapi, aku masih ingin kangen-kangenan sama Afkar,” cicitnya bimbang.
“Ya kita bawa saja. Anggap saja liburan versi terbaru.” Yudhis mengusulkan.
“Yang benar? Afkar pasti suka.” Khalisa tampak sangat gembira.
“Iya, kita berangkat besok. Mumpung masih ada waktu sebelum genap satu minggu.”
“Abang memang yang terbaik,” puji Khalisa tulus, disusul kecupan spontan di mendarat di bibir Yudhis.
“Akh, roman-romannya, aku bakal dapat kado spesial lagi malam ini, kayak kemarin.” Yudhis menaik turunkan alis memberi isyarat dengan tatapan penuh minat, membuat Khalisa tersipu sebab paham kado apa yang dimaksud, tidak lain dan tidak bukan ialah menjadi pemimpin arena pacuan peraduan panas membara.
Bersambung.