Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Tutorial


Bab 74. Tutorial


Celoteh kecil lemah juga tepukan di punggung tangan membangunkan Yudhis dari terlelap tak sengajanya. Tersentak dari duduknya bersama kedua kelopak mata terbuka seketika, Yudhis menggeleng-gelengkan kepala mengumpulkan kesadaran yang sempat berhamburan karena mengantuk, memeriksa arloji dan ternyata saat ini pukul tiga dini hari.


Saat matanya terbuka sempurna, rupanya yang menepuk-nepuk tangannya adalah si kecil yang sejak tadi siang ditangisi Khalisa, terjaga sembari menatap Yudhis dengan bola mata bulatnya yang kelopaknya masih terlihat sembap.


“Afkar?” Yudhis berucap dengan napas lega mendapati Afkar terbangun dan terlihat lebih baik, mendekati si bocah, membungkuk di sisi ranjang.


Bola mata Afkar bergulir memindai Yudhis lekat-lekat, cukup lama bocah itu memaku pandang, seperti sedang berusaha mengingat-ingat.


“Mau apa, Nak? Mau minum, mau makan, ada yang sakit?” tanya Yudhis dengan nada lembut membujuk. Berucap pelan, tidak ingin menginterupsi tidur Khalisa yang tampak nyenyak.


“Mau mimi cucu,” jawab Afkar pelan, dengan intonasi cadelnya, ekspresinya terlihat bingung. Lalu bocah itu melirik sisi kananya dan tersenyum lebar melihat wajah bundanya yang terlelap. “Tapi, Undanya bobo,” cicitnya lagi, seolah tak tega membangunkan sang Bunda yang amat dirindukannya itu.


Yudhis mengerjap bimbang. Dia tidak tahu bagaimana caranya membuat susu ke dalam botol dot untuk balita, kecuali menyeduh susu dalam gelas bukanlah hal sulit. Entah itu takarannya maupun volume airnya.


Akan tetapi, dia juga tak sampai hati membangunkan Khalisa yang terlihat kelelahan dan memejam amat nyenyak, seperti orang yang tidak tidur setelah sekian lama. Dan seingat Yudhis Khalisa sempat tak sengaja mengatakan, tidak pernah bisa tidur dengan benar semenjak dipisahkan dari Afkar.


“Tunggu sebentar ya.” Nekat, Yudhis mengiyakan, padahal dia sama sekali tak punya pengalaman menyeduh susu untuk balita.


Mengambil susu bubuk utuh yang belum dibuka kemasannya, Yudhis membaca petunjuk pembuatan yang tertera di bagian belakang kardus susu, yang dibelikannya untuk Afkar. Membacanya dengan teliti secara saksama.


Untuk lebih meyakinkan diri sebelum membuat, Yudhis juga mencari tutorial di laman Youtube. Mencari yang durasi videonya pendek, memerhatikan serius dan meletakkan gawainya sembari meniupkan udara nyaring setelah selesai menonton dan yakin bisa membuatnya.


“Ffuhh, menurut petunjuk yang baik benar, botolnya harus sudah dicuci dan dipanaskan katanya? Pantas saja tadi Khalisa mencuci dan beberapa botol baru ini dan merendamnya dengan air panas,” ujarnya, berbicara sendiri sembari mengambil botol kering yang tadi sudah dibersihkan Khalisa.


Yudhis mengisi air ke dalam botol dan memastikan suhu hangatnya pas. Takaran airnya benar-benar 180 mililiter sesuai anjuran yang tertera di kemasan. Yudhis sampai memicing-micingkan mata, kelebihan sedikit pun, Yudhis menguranginya dengan hati-hati supaya volumenya tepat.


Setelah airnya tepat sempurna, ditambahkannya empat sendok takar susu bubuk, mengocoknya perlahan sampai susu dan air tercampur merata. Bahkan Yudhis juga menuang sedikit susu yang sudah siap minum itu ke punggung tangan, persis seperti tutorial ibu-ibu yang ditontonnya di Youtube tadi, guna memastikan suhu isi botol yang akan diberikan pada Afkar sudah tepat hangatnya.


Yudhis begitu semringah, merasa senang telah berhasil membuatnya di kali pertamanya yang terbilang sukses untuk ukuran pria bujangan.


“Susunya sudah jadi,” kata Yudhis riang. Mengambil beberapa lembar tisu menyeka keringat yang berembun di dahi. Ternyata membuat susu untuk balita cukup menguras energi dan konsentrasi.


Afkar menyambut botol yang disodorkan Yudhis penuh sukacita, memeluknya menggunakan lengan kanannya. Namun, sesaat kemudian bocah itu malah mengerjap dan mendongak menatap Yudhis lagi.


“Kenapa?” tanya Yudhis, cepat tanggap.


Afkar mengangkat tangan kirinya yang terpasang selang infus juga gips khusus balita, yang berfungsi supaya selang terpasang stabil dan cairan infus terdistribusi dengan baik, mengingat anak-anak masih sering bergerak sembarangan.


Menggaruk tengkuk tak tentu, Yudhis akhirnya berinisiatif.


“Mau sambil digendong?” tawar Yudhis tulus sepenuh hati. Memasang senyum manis, menguarkan kehangatan. Sebagaimana Barata dulu memperlakukannya sewaktu kecil, selalu manis penuh kasih sayang.


Afkar mengangguk pelan, mengulurkan kedua tangannya walaupun masih kelihatan sungkan. Hanya saja memori bocah itu masih mengingat momen menyenangkan bersama orang ini, yang pernah bercerita begitu asyik dengannya saat dirinya bertanya banyak hal di perjalanan pulang kala itu. Karena biasanya anak-anak seusia Afkar lebih peka dibandingkan orang dewasa, tahu mana manusia yang berhati baik dan yang tidak.


Yudhis meraup Afkar, tetap berhati-hati supaya tidak mengganggu selang infus. Mendudukkannya bersandar ke dadanya, tidak terlalu tegak, mengatur posisinya supaya lebih landai. Dia juga membantu Afkar menyeimbangkan memegangi botol, yang isinya langsung dilahap tanpa banyak kata lagi oleh bocah itu, diteguk nikmat hingga habis tak bersisa.


“Mau bobo lagi?” Yudhis bertanya setelah menyuapi Afkar dua sendok air putih guna membasuh mulut selepas meminum susu.


“Endak,” bocah itu menggeleng. “Ini cakit.” Afkar menepuk-nepuk perutnya yang terasa tidak nyaman. Selain masih sakit setelah muntah-muntah hebat, dia juga butuh bersendawa ketika lambungnya kenyang.


Yudhis panik mendengar kata sakit. Walaupun bicara Afkar masih sedikit cadel, tetapi dia lekas paham dengan ucapan si bocah yang masih agak pucat itu. Yudhis menekan tombol darurat di kepala ranjang, memanggil perawat dengan tetap tidak menimbulkan kegaduhan, tidak ingin Khalisa terbangun.


“Ini karena perutnya kembung, Pak. Selain efek dari muntah dan diarenya, ini juga efek kekenyangan minum susu. Perutnya bisa dioles minyak telon atau kayu putih untuk mengurangi kembung, juga butuh bersendawa untuk mengurangi rasa tidak nyamannya. Cara mengatasinya, bisa sambil digendong dan ditepuk-tepuk lembut punggungnya, atau bisa juga diusap-usap. Biar saya yang oleskan kayu putih dan menggendong.”


Si perawat hendak mengambil alih Afkar dari pangkuan Yudhis. Namun, si bocah itu seakan ketakutan sebab tidak mengenal sosok yang hendak memangkunya.


“Endak mau, endak mau gendong dia,” tolak Afkar serak, menggelengkan kepala kuat-kuat. Sudut bibirnya mulai tertarik ke bawah, mencebik hendak menangis dan merapat ke dada Yudhis begitu erat.


“Atau, mau dibangunkan saja ibunya, Pak? Karena dedeknya tidak mau saya gendong,” tawar si perawat.


“Biar saya saja yang melakukannya. Saya yang akan mengoleskan minyak telon juga menggendongnya, tolong diarahkan, suster,” pinta Yudhis, tak tega kalau harus membuat Afkar menangis lagi setelah sesiangan tadi bocah ini terus merintih kesakitan.


*****


Khalisa merasakan tubuhnya sedikit lebih ringan saat terusik dari tidurnya kali ini, lelapnya terasa nikmat, rasa yang sudah berbulan-bulan tidak didapatkannya.


Membuka kelopak, Khalisa masih dilanda linglung dengan hal-hal yang menyambut pandangan. Langit-langit dan dinding serba putih juga aroma desinfektan menyergap penciuman, belum lagi ranjang yang ditidurinya teramat asing, menguarkan aroma bersih khas rumah sakit.


Seketika Khalisa bangkit dan tersentak bangun, setelah ingat dengan benar bahwa sebelum terlelap tadi Afkar lah yang rebah di ranjang ini. Terkejut bukan kepalang saat tidak mendapati anaknya di tempat tidur, ketakutan hal nyata yang beberapa jam lalu dialaminya hanya mimpi belaka.


“Afkar!” serunya panik.


Bersambung.