
Bab 95. Taktik
Mie instant yang dimasak bersama sebutir telur telah matang. Di atasnya ditambah toping sayur pokcoy juga beberapa butir bakso sapi, dilengkapi irisan rawit merah besar yang lumayan banyak sesuai permintaan Yudhis.
Penuh keceriaan Khalisa menaruh semangkuk mie instan buatannya ke hadapan Yudhis yang sudah menunggu di meja makan. Sumpit dan sendok Khalisa sodorkan, juga tak lupa segelas besar air putih.
“Silakan dimakan, Bang,” ucapnya.
“Makasih.” Yudhis berusaha tetap fokus mengaduk mie yang masih panas itu meski tak mudah, dan Khalisa bermaksud beranjak dari sana saat melihat Yudhis hendak menyantap makanannya. Namun, Yudhis menahan pergelangan tangan Khalisa.
“Eh, kenapa lagi, Bang? Ada yang kurang?” tanya Khalisa.
“Kamu sendiri sudah makan?” Yudhis balik bertanya, rasa khawatir menyerbu. Khawatir karena Khalisa terlalu senang malah membuat wanita bermata sendu yang kini telah sah menjadi istrinya itu jatuh sakit, meski si empunya belum merasa menjadi seorang istri.
Bukan Khalisa bodoh sampai tidak merasa bahwa dirinya telah sah menjadi Nyonya Yudhistira Lazuardi. Hanya saja saat tumpukan masalah pelik yang menerpanya menemukan jalan keluar yang dipenuhi kelegaan harapan indah dan impiannya akan sepenuhnya tercapai, pikiran Khalisa tak ubahnya ibarat air yang semula tersumbat jalurnya, menemukan celah besar untuk mengalir bebas, sehingga pikirannya hanya fokus mengalir pada satu titik, yakni pada hak asuh si buah hati penyejuk jiwa, tak terbagi pada yang lain.
“Belum sih, Bang. Aku makannya nanti saja. Pengen main sama Afkar dulu, nanti kalau Afkar sudah bobo, baru aku akan makan. Afkar lagi suka banget main lego yang dikirimkan bersama sepeda minggu lalu,” jawabnya yang tak henti mengukir senyum manis, pertanda hati Khalisa sedang senang.
“Kalau aku minta ditemani makan bagaimana?” Kali ini kalimat Yudhis bernada lebih mirip perintah, bukan pemintaan, begitu pula dari sorot mata.
“Oh, boleh. Sebentar, aku ambil Afkar dulu. Enggak enak sama Bu Rani kalau harus jagain Afkar lama-lama.”
“Khalisa kamu makanlah, sewaktu acara makan bersama tadi kamu juga cuma makan beberapa suapan saja. Biar Afkar sama Mami, kita lagi asyik main ya?” Maharani muncul di dapur mengambil wadah berisi buah-buahan dingin dari kulkas bersama Afkar di gendongannya. Dan bocah lucu itu mengangguk-angguk setuju.
“Tapi, Bu Rani.”
“Sudah, isi ulang perutmu dengan tenang ya, sambil temani Yudhis makan,” sela Maharani cepat, sembari mengulum senyum sebelum kembali ke ruang tengah.
*****
Khalisa bersedekap bingung di depan pintu kamar tamu. Di dalam sana Afkar sudah terlelap sembari dipeluk Maharani.
“Waduh, pasti aku makannya kelamaan. Sampai-sampai Bu Rani ikut ketiduran di sini sama Afkar,” cicitnya tak enak hati. “Kalau dibangunkan biar pindah juga enggak enak, Bu Rani tidurnya kayak nyenyak banget,” gumamnya bingung sendiri, seraya menggigiti kuku.
Di saat Khalisa tengah termenung bingung di ambang pintu kamar tamu yang terbuka, Barata ternyata kembali pulang ke kediaman Yudhis bersama dua orang sepupunya, sekitar pukul sepuluh malam. Katanya hotel terdekat sudah penuh, sehingga untuk dua orang ini memilih kembali ke rumah Yudhis, sementara yang lainnya menginap di hotel..
Barata meminta Mang Darjat dan Bi Dijah yang juga ikut menginap malam ini menggelar kasur lain di ruang tengah untuk kerabatnya menginap karena keempat kamar di rumah itu sedang penuh terisi. Dan setelahnya Barata menghampiri ambang pintu kamar tamu.
“Wah, Mami nyenyak banget kelihatannya bobok sama Afkar. Papi juga mau tidur duluan ya, udah capek, sakit pinggang.” Barata melenggang masuk ke kamar lain yang biasa ditempatinya bersama Maharani setelah menyapa Khalisa.
Salah satu kerabat Barata yang akan menginap di ruang tengah yakni seorang wanita paruh baya menghampiri Khalisa.
“Dedeknya dijamin aman sama Mami Rani. Pengantin baru sebaiknya segera masuk ke kamar pengantin. Sudah malam, sudah waktunya naik kasur,” ujarnya penuh arti yang sepertinya tidak tahu menahu perihal penyebab menikahnya Yudhis dengan Khalisa. Menyeret lengan Khalisa penuh semangat ke depan pintu kamar Yudhis dan tetap berdiri di sana sebelum Khalisa benar-benar masuk.
Seseorang yang melamun di dalam kamar yang sedang memandangi gemercik air mancur kolam dari kaca besar yang tembus ke taman samping, terperanjat dan menoleh seketika saat mendengar derit engsel pintu kamarnya. Dan pupilnya melebar melihat siapa sosok yang kikuk di depan pintu.
“Khal?”
Jangan lupa vote, hadiah dan tonton iklannya sebagai dukungan ya 🥰.
Bersambung.