
Bab 161. Bumerang
Kebingungan, itulah yang tergambar di wajah Yudhis siang ini sudah satu jam lamanya. Raut bimbang yang sangat jarang terlihat menyambangi wajah tampannya.
Kasus rumit juga kompleks, tak pernah satu kalipun membuatnya kelimpungan. Namun, justru keinginan sederhana Khalisa lah yang membuatnya dilanda bingung sekarang.
"Raja, bagaimana caranya berbelanja baju di pasar?" tanya Yudhis pada Raja yang sedang mempelajari berkas perkara.
Raja mengerjap keheranan. beranjak dari mejanya dan menghampiri.
"Ya biasa saja, Pak. Tinggal pilih terus bayar. Tapi kalau Anda masuk ke pasar, para ibu-ibu penjual pakaian di dalamnya pasti bakalan heboh kalau lihat cowok ganteng perlente lewat. Alamat diserbu ibu-ibu minta foto dan tanda tangan." Raja cengengesan geli, membayangkan raut horor atasannya yang tidak begitu suka menjadi pusat perhatian di tempat umum, berbeda dengan di ruang sidang.
Yudhis berdecak sebal. "Haruskah kupakai masker juga topi?"
"Silakan saja. Sayangnya karisma Anda tidak bisa tersembunyi di balik masker maupun topi. Tapi, Anda sudah punya saudara tajir yang memiliki mall mewah dan biasanya juga pergi ke sana untuk berbelanja. Memangnya baju apa yang mau dibeli? Tumben sekali Anda mau beli di pasar? Pasar tidak senyaman mall milik saudara Anda," cerocos Raja penasaran.
"Jam dua siang ini kita punya waktu jeda sampai menjelang salat Asar," ucap Yudhis yang terlihat sedang berpikir.
"Iya, saya tahu. Memangnya kenapa, Pak?"
Yudhis menoleh pada Raja yang serius menunggu jawaban dari mulutnya. "Antar aku beli daster, ke Pasar Baru."
"Hah, a-pa, be-beli daster. Bu-buat apa?" Raja gelagapan, mulai tak enak hati.
Melangkah gontai ke mejanya kembali, raut wajah Raja frustrasi, tak pernah membayangkan harus membeli daster ibu hamil di saat dirinya bahkan belum punya istri. Andai berpapasan dengan tetangganya yang sering berbelanja ke pasar tersebut, entah apa kejulidan serta asumsi yang akan muncul di kepala mereka di saat dirinya membeli daster untuk wanita hamil.
*****
Breaking news sore ini membuat Wulan yang sedang menggoreng nasi sisa tadi siang, menjatuhkan spatula yang dipegangnya.
Wulan berlari menuju ruang tamu sempit di mana televisi sedang dinyalakan saat mendengar nama putra sulungnya yang sudah berbulan-bulan entah di mana rimbanya disebut si pewarta.
Wulan sekarang tinggal di kontrakkan sempit dan kumuh, tidak ada barang-barang mewah. Tidur pun hanya memakai kasur lipat. Sewa bulanan dibayar oleh Dania yang katanya bekerja sebagai endorse pakaian sembari kuliah di luar kota.
Wulan tidak tahu, Dania mengendorse pakaian dalam murah dan sudah putus kuliah sebab uang hasil menjual emas ibunya dipakai hura-hura, bukan membayar ke kampus. Dania kini mendapat uang dengan membuka jasa BO mengunakan nama samaran. Tinggal sendiri di apartemen sebagai cem-ceman om-om selangk4ngan gatal. Tidak sudi mengajak ibunya yang menurutnya kampungan.
Menaikkan volume televisi, Wulan mendengarkan berita yang dibawakan pewarta dengan seksama.
Tersangka otak kematian wanita malang yang ditemukan di Pantai Pangandaran telah tertangkap. Dion Pramadana akhirnya berhasil diringkus aparat di sebuah panti pijat terselubung prostitusi para pria di pinggiran ibukota. Dan tersangka terancam Hukum 20 tahun penjara.
"Tidak, tidak. Ini tidak boleh terjadi. Tidak mungkin Dion jadi pembunuh. Kenapa jadi begini, kenapa jadi begini!" teriaknya histeris, berakhir ambruk ke lantai tak sadarkan diri.
Bersambung.