Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Makan Malam Keluarga


Bab 132. Makan Malam Keluarga


Paviliun sayap kanan hunian Barata dan Maharani ditata sebagai ruang makan ukuran besar untuk acara makan keluarga malam ini. Memilih area outdoor untuk tempat berkumpul supaya lebih leluasa juga menciptakan kesan menyatu dengan alam.


Khalisa sibuk membantu. Menata hidangan di meja bersama beberapa ART. Khalisa tak mempan dilarang saat diminta duduk saja oleh para asisten rumah tangga, ia yang tak terbiasa dilayani, merasa tangannya gatal jika harus menonton saja di saat banyak hal harus dikerjakan.


Dari dekat kolam renang Yudhis yang sedang mengajak Afkar bermain, sesekali melirik istrinya yang tengah sibuk membenahi ini itu penuh semangat. Menatap Khalisa dengan binar riak-riak cinta begitu nyata.


Kerabat yang diundang berdatangan, entah itu dari pihak Maharani maupun Barata. Maharani dan Barata menyambut tamu mereka, dan sebagai menantu Khalisa mau tak mau ikut menyambut mendampingi Yudhis meski jujur saja ia gugup bukan main.


“Jadi, ini cucu menantuku?” Marina yang baru saja datang digandeng Erlangga, langsung menghampiri Khalisa dengan wajah semringah.


“Iya, perkenalkan, ini istriku, Nek, Khalisa.” Yudhis merangkul Khalisa yang terlihat kikuk seperti orang mulas-mulas, bereaksi begitu karena saking gugupnya.


“Saya Khalisa, Nek. Senang bertemu Anda.” Khalisa balas menyapa Marina, yang tidak lain adalah ibunya Maharani.


Mengulurkan tangan, Khalisa bersegera mencium punggung tangan Marina penuh hormat begitu ulurannya bersambut. Khalisa berusahalah untuk tidak gemetaran meski lututnya lemas. Orang-orang yang hadir, hampir semuanya memiliki karisma tak biasa, elegan, berkelas. Ruang lingkup asing yang begitu baru bagi si cantik sederhana bermata sendu itu, yakni berada di tengah-tengah pergaulan kalangan atas.


“Perlu Nenek tahu, selain cantik, istriku ini pandai memasak. Papi saja dibuat ketagihan dengan masakan Khalisa.” Dengan bangga Yudhis menyanjung sang istri, membuat Khalisa salah tingkah karena malu.


“Mamimu selalu bawel menceritakan tentang istrimu. Dan sekarang bisa bertemu langsung Nenek percaya seratus persen, kalau Maharani bukan membual saat menyombong bahwa anak sulungnya pandai memilih istri.”


Makan malam berlangsung meriah juga hangat. Dibuka dengan do’a yang dipimpin oleh tuan rumah. Semakin meriah berkat celotehan cadel menggemaskan Afkar yang menjadi hiburan tersendiri, mengundang tawa, menghidupkan suasana.


Makan malam utama usai, saatnya beranjak pada acara berbincang santai yang akan ditemani hidangan pencuci mulut.


Khalisa menarik diri dari obrolan para kerabat wanita yang bercengkerama dengan mertuanya. Memilih ke dapur membantu mengambilkan hidangan penutup.


Para pria kebanyakan tertarik pada Afkar, mengajak Afkar yang digendong Yudhis untuk mengobrol. Mereka berkumpul bersama Yudhis di dekat kolam renang, sedangkan beberapa wanita kebanyakan duduk bersantai, ada pula para kerabat yang mencari kesempatan dalam kesempitan, menempeli Marina demi mendapat simpati.


Salah satu tamu menghampiri Khalisa yang sedang merapikan wadah-wadah berisi buah-buahan segar. Seorang wanita paruh baya berbaju kuning yang sejak tadi terus mengamati Khalisa dengan raut muka tak terbaca. Tamu yang datang paling terlambat.


“Iya, benar.” Khalisa menjawab ramah, mengajak bersalaman. Namun, si wanita yang bertanya tak menyambut, membuat Khalisa menarik kembali uluran tangannya dengan gerakan canggung.


Wanita tersebut memindai Khalisa dari ujung kepala hingga kaki. Mengamati Gamis juga pashmina yang dipakai Khalisa.


“Ternyata selera Yudhis tipe wanita yang gaya berpakaiannya agak kampungan seperti ibu-ibu tua. Kukira wanita modis,” ujarnya.


Sudut bibirnya menyunggingkan cibiran tipis. Walaupun dalam hati harus diakuinya bahwa menantu Maharani ini berparas ayu dan lembut keibuan. Aura yang pasti disukai Maharani serta keluarga Syailendra juga Barata.


“Apa profesi orang tuamu?”


“S-saya, saya tidak punya orang tua,” sahut Khalisa tergagap.


“Oh, sudah meninggal rupanya. Lulusan universitas mana?” cecarnya mengintimidasi.


Khalisa meremat jemari, lidahnya kelu entah harus menjawab apa. Ia mulai terusik, merasa diri ditelanjangi mentah-mentah.


“Berapa usiamu?”


“Sebentar lagi 23 tahun,” sahut Khalisa tetap sopan sembari menelan ludah, mulai merasa tak nyaman dengan aura tak bersahabat yang merebak dari wanita ini.


“Mau 23 tahun tapi sudah pernah menjanda dan sudah punya anak umur tiga tahun lebih. Di usiamu ini seharusnya baru selesai kuliah strata satu kan? Atau jangan-jangan, kamu tidak kuliah dan menikah di usia belia?” sindirnya dengan nada mengejek yang kental.


Bahasa tubuh Khalisa yang kentara amat resah membuat wanita itu merasa di atas angin.


“Kenapa gugup begitu? Apakah tebakanku benar? Wah, yang benar saja. Ini berita besar. Reputasi keluarga Lazuardi juga Syailendra benar-benar jatuh karena memiliki menantu yang tidak mumpuni pendidikan akademiknya. Sedangkan kami semua di sini paling rendah berpendidikan strata satu. Tapi memang cocok sih. Mungkin memang takdir si anak pungut berjodoh dengan wanita kalangan bawah, sesuai dengan derajat asal muasalnya.”


Wanita itu berlalu dengan raut puas, bahkan bersenandung riang meninggalkan Khalisa yang dibuat terkejut dan terhenyak dengan cecaran pedasnya. Tanpa wanita itu ketahui, Yudhis yang sedang berdiri di balik tanaman bonsai dekat meja hidangan pencuci mulut, mendengar semuanya tanpa kecuali.


Bersambung.