
Bab 55. Bidadari Hebat
Tanpa memberitahu Khalisa, ternyata Yudhis bukan hanya membawanya membeli baju dan segala perintilannya. Si pengacara tampan tinggi rasa peduli itu juga membawa Khalisa masuk ke gerai tas dan sepatu bermerek yang melihat harganya pun membuat Khalisa mulas-mulas bukan kepalang.
Yudhis dan Khalisa berjalan beriringan membawa paper bag dalam jumlah banyak, belanjaannya cukup kerepotan memenuhi tangan kanan dan kiri mereka.
Melewati butik-butik gerai pakaian anak bermerek, langkah Khalisa melambat. Mendadak dadanya kembali sesak, setelah beberapa jam ke belakang berupaya fokus berpikir jernih dalam mengelola rasa tak tahan ingin bersua si buah hati, melihat deretan pakaian lucu anak-anak, Khalisa teringat kembali pada Afkar, terhunjam rindu tak terperi.
Naluri seorang ibunya menjerit, tak kuasa lagi menunggu untuk memeluk sang anak. Menarik napas panjang, Khalisa memilih tak berlarut-larut dan melanjutkan langkah. Ia harus kuat sekarang demi berjuang di jalan yang benar, memperjuangkan kembali si separuh napas kembali ke pelukannya secepatnya, bukan dengan keputusasaan maupun menempuh jalan pintas yang salah lantaran tergerus perasaan dan terlupa akan akal sehat.
Erika dan Raja saling berpandangan saat Yudhis membawa Khalisa ke kantor dan mengenalkannya sebagai klien. Erika tetap profesional, sedangkan Raja malah belingsatan, pahatan cantik Khalisa di siang hari makin jelas terlihat membuatnya sebagai kaum Adam jujur saja terpesona, meskipun prasangka miring akibat kejadian semalam masih merecoki otaknya.
Yudhis langsung menjabarkan permasalahan Khalisa pada keduanya, menceritakan poin-poin penting.
“Erika, Raja. Khalisa akan menjadi klien dengan permasalahan urgent juga selain klien kita semalam. Yang paling awal harus dilakukan adalah memastikan surat cerainya sudah terbit atau belum. Menurut keterangan Khalisa, mantan suaminya pernah mengabari sudah hampir rampung mengurus semuanya. Kita berbagi tugas, besok pagi kalian pergilah ke pengadilan agama, sekarang buat surat kuasa untuk pengambilan berkas akta cerainya, dan Khalisa silakan berkoordinasi dengan Erika untuk pembuatan surat kuasa. Kalau kamu ikut pergi, khawatir bertemu anak buah si mucikari di perjalanan. Jadi demi keamanan, perihal urusan akta cerai biar Erika dan Raja yang pergi ke sana.”
“Baik, Bang. Aku serahkan semuanya pada Abang dan rekan. Aku akan mematuhi semua prosedur juga rencana, karena jujur saja aku benar-benar buta dalam hal-hal begini,” sahut Khalisa sembari mengangguk.
“Sikap kooperatif klien seperti kamu memang sangat dibutuhkan, membantu kami memudahkan mengurus permasalahannya. Sedangkan aku akan mencari informasi di mana letak rumah baru mantan suamimu. Sebagai informasi untuk Erika dan Raja, anak Khalisa yang masih balita ditahan mantan suaminya tanpa memberitahu ke mana mereka pindah dari rumah semula. Dan Khalisa ingin secepatnya menemukan alamat tersebut supaya bisa membawa anaknya dari sana minimal untuk sementara waktu, terlebih lagi kabarnya sedang kurang sehat.”
“Ya ampun, laki-laki macam apa yang menggunakan anak kecil sebagai pion kepuasan amarahnya? Anak sakit juga masih ditahan-tahan kayak sandera. Dasar bajingan!” Erika spontan menyumpah, tak habis pikir, sebagai sesama wanita dia ikut emosi mendengarnya.
Khalisa penuh semangat mengikuti apa pun arahan Erika, tekad memperjuangkan si buah hati dengan cara yang benar kini dimulai. Bersama jerit do'a dalam hati yang dilangitkan.
Pukul delapan malam Khalisa diantar Yudhis kembali ke rumah Aloisa dan Ghaisan. Kali ini Yudhis tidak mengantar sampai masuk, langsung tancap gas pergi dari sana.
Begitu masuk ke kamarnya setelah selesai mengangkut belanjaan dibantu si nyonya rumah, Khalisa tertegun di balik pintu yang baru saja tertutup. Di kamarnya, terdapat gundukan paper bag yang tak kalah banyak dengan belanjaannya, berlogo merek butik anak yang tadi dilihatnya di The Royal Departemen Store.
“Lho, apa ini?”
Penasaran, Khalisa membukanya. Isinya baju-baju anak laki-laki usia tiga sampai empat tahunan, sepuluh stel banyaknya. Di salah satu paper bag terdapat secarik kertas berisi rangkaian huruf yang membuat Khalisa lagi-lagi dibanjiri haru, serasa mendapat anugerah bertubi-tubi tiada henti.
Semua ini untuk persiapan dan berjaga-jaga kalau nanti kamu berhasil menjemput Afkar. Semangat, bidadari hebat.
Bersambung.
Note:
Halo-halo, just info. Ini penampakan tumbler giveawaynya ya 😁.