
Bab 97. Ranjang Pengantin
“Khal, kamu ngapain di situ?”
Yudhis baru masuk kembali ke kamar setelah mengambil segelas air dari dapur yang biasa diletakkannya di nakas sebelah kanan tempat tidur. Dia bertanya sembari mengerutkan kening melihat Khalisa duduk bersandar di pada kursi rotan yang biasa Yudhis pakai untuk bersantai memandangi taman dari dalam kamar. Kursi yang hanya muat diduduki oleh satu orang saja, tetapi tentu saja tak bisa dijadikan tempat berbaring.
“Eh, a-aku, aku mau tidur,” sahutnya, mengucek matanya yang mulai berat dan menahan mulut yang ingin menguap.
“Ngantuk?” Yudhis bersedekap, sedikit membungkuk.
“Kayaknya aku kekenyangan pas makan tadi, jadinya ngantuk berat. Maaf, aku ambil bantalnya satu enggak bilang-bilang, pinjam bantalnya ya, Bang.” Khalisa menunjukkan sebuah bantal yang dipeluknya, bantal yang diambilnya dari ranjang Yudhis yang sebetulnya tentu saja sekarang sudah menjadi ranjangnya juga.
“Jadi, kamu mau tidur di sini?” Yudhis semakin membungkukkan badannya.
“Iya, Bang. silakan Abang tidur dengan nyaman di kasur. Aku di sini pun sudah cukup,” jawab Khalisa tetap semringah sembari menahan kelopak matanya yang nyaris terkatup.
Ngantuk beratnya bukan hanya karena efek kekenyangan, tetapi juga ditambah badannya lelah selepas mengikuti rangkaian prosesi acara akad hari ini, ditambah hati yang lega penuh harapan membuat Khalisa terayu kantuk lebih mudah.
Tanpa bertanya lagi, dalam sekali gerakan Yudhis meraup Khalisa dan membawanya terayun di gendongannya menuju tempat tidur, membuat Khalisa yang terkantuk-kantuk terperanjat seketika.
“Eh, kenapa aku dipangku, Bang?” Khalisa yang belingsatan kaget hendak meronta malah berpegangan erat melingkarkan lengan ke leher Yudhis, takut terjatuh.
“Kamu tidur di kasur saja. Nanti punggungmu sakit,” jelas Yudhis setelah menurunkan Khalisa di salah satu sisi kasur.
“Lho, terus Abang tidur di mana?”
“Ya di kasur juga lah. Buat apa ada ranjang besar kalau malah tidur di kursi atau di lantai,” tegas Yudhis lugas tanpa senyuman kali ini, sedikit memberengut. Efek dari khawatir berlebihan pada sosok yang dicinta juga terdorong gemas sebab bidadari hatinya tak kunjung peka dengan ikatan di antara mereka sekarang, sama sekali tak perlu menjaga jarak.
“Tapi, ini kan kasur Abang. Juga, rasanya salah kalau begini. Enggak sopan aku tidur di kasur majikanku,” imbuh Khalisa mengutarakan hal yang memang terpatri di kepalanya.
Yuhdis benar-benar harus meluaskan kesabaran. Mendengus nyaring sembari mengatur napas. Dia juga maklum akan pemikiran Khalisa. Bukan salah Khalisa juga berpikiran demikian mengingat dari mana kesimpulan pernikahan ini berasal.
Sepertinya Yudhis harus mengutarakan bahasa maupun sikap tersirat lebih intens tentang perasaannya juga memberi pengertian tentang status mereka sekarang, tetapi tetap tidak berupaya terburu-buru, khawatir yang telah tergenggam bukannya bergelung padanya melainkan malah terlepas darinya sebab terlalu erat digenggam.
“Tapi bisa dibilang kasur ini punya kita setelah aku mengucap ijab kabul tadi sore. Jadi, sama sekali tidak ada yang salah dengan kita tidur di ranjang yang sama.” Yudhis mencoba menyinggung bagian itu meski agak canggung sembari menelan ludah.
“Iya juga sih. Tapi, alasan pernikahan ini untuk keperluan pengadilan. Abang beneran enggak apa-apa berbagi kasur denganku?” ujarnya benar-benar belum menangkap maksud hati Yudhis yang sesungguhnya. Hanya persoalan hak asuh yang terus berdengung di kepala.
“Walaupun untuk kepentingan pengadilan tetap harus begini?”
“Ya, sebaiknya kamu dengarkan apa kataku, Khal. Kecuali kamu ingin kecurigaan merebak ke luar tentang pernikahan ini yang pasti dapat melemahkan kekuatan kita di pengadilan. Sebaiknya kita segera beristirahat. Hari ini rasanya capek sekali.” Yudhis menyibak selimut dan naik ke sisi lain kasur luasnya. Sengaja memangkas percakapan takut dirinya tak tahan dan naluri primitifnya menerkam Khalisa mentah-mentah.
Khalisa mengangguk paham, meraih guling dan menaruhnya di tengah.
“Kenapa gulingnya disimpan di situ?” tanya Yudhis lagi begitu merebahkan punggung.
“Aku takut tidurku bergerak sembarangan. Ini adalah kali pertamaku rebah di kasur seempuk ini. khawatir lupa diri saat nyenyak dan malah ganggu wilayah berbaring Abang,” jawabnya apa adanya, sembari mengulas senyum dengan mata berat karena kantuk.
“Yang benar? Enggak kebalik? Mungkin saja kamu takut tidurku mepet sama kamu,” goda Yudhis yang membuat Khalisa tertawa renyah menganggap kalimat Yudhis lelucon.
“Kenapa jilbabnya enggak dibuka saja? Bukannya kamu ngantuk?” Yudhis berkomentar saat Khalisa hendak merebahkan kepala ke atas bantal.
“Dokter Aloisa bilang, kalau sudah memutuskan berjilbab maka harus konsisten untuk terus memakainya. Dan di sini juga ada Abang,” ujarnya bingung.
“Tapi setelah kata sah digemakan para saksi, bukankah aku adalah suamimu sekarang? Jadi, tidak apa-apa kalau kamu membuka jilbabmu di hadapanku karena kita mahrom sekarang. Bahkan membuka baju pun tak mengapa.” Kalimat paling ujung hanya dapat Yudhis ucapkan dalam hati.
Khalisa tampak berpikir sejenak, lalu terkekeh kering nan sumbang.
“Iya ya? Berarti Abang adalah suamiku sekarang,” imbuhnya, kentara masih linglung. “Tapi lebih enak begini, cuacanya dingin, jadi enggak usah dibuka jilbabnya. Makasih, udah bolehin aku tidur di kasur. Selamat malam dan selamat tidur, Bang,” sambung Khalisa, yang kemudian merebahkan badan miring membelakangi, berbaring amat ujung.
“Y-ya, tidurlah,” gumam Yudhis yang ikut mengubah posisi menjadi berbaring miring, melipat lengan menopang kepala. Akan tetapi berbaringnya Yudhis bukan membelakangi, melainkan menghadap punggung Khalisa.
“Bang?” cicit Khalisa.
“Hmm?”
“Kira-kira berapa lama proses persidangan hak asuh Afkar?” tanya Khalisa yang hampir terlelap.
“Persidangan hak asuh anak memang lumayan panjang, kadang bisa menempuh sekitar sembilan kali persidangan, bahkan lebih. Semoga dengan fakta-fakta memberatkan nyata yang kita miliki sekarang tentang hak asuh Afkar, prosesnya bisa lebih singkat dari biasanya.”
“Makasih banyak, Bang. Buat semuanya,” balas Khalisa amat pelan serupa angin lalu. Dan setelahnya Khalisa benar-benar jatuh dalam lelap, mendahului Yudhis yang masih terjaga dengan mata menatap punggungnya mendamba.
Bersambung.