Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Kabur


Bab 32. Kabur


“Suster, di mana pasien yang menempati kamar VVIP 311?” Dengan napas tersengal ngos-ngosan akibat dari berlarian, Yudhis bertanya tak sabaran pada perawat yang bertugas di area ruang perawatan pasien berfasilitas terbaik itu.


“Itu juga yang ingin saya tanyakan. Pasien yang dirawat inap di sana, sudah tidak ada di tempat ketika pergantian jam kerja perawat. Setiap pukul delapan kami berganti sif. Saya lah yang seharusnya bertugas untuk merawat pasien bernama Nyonya Khalisa, tapi ketika saya hendak memantau kondisinya sebelum jam visit dokter, ruangan 311 sudah kosong, bahkan terdapat jejak tetesan darah di lantai, pasti efek dari jarum infus yang dicabut sendiri. Kami juga sudah menghubungi nomor penanggung jawab yang terdapat pada data informasi pasien untuk mengabari hal ini, tapi tidak kunjung diangkat. Apakah Anda yang bernama Pak Yudhistira Lazuardi?”


Penjelasan panjang lebar si perawat membuat Yudhis nyaris mengumpat dalam hati, geram pada dirinya sendiri. Dia memang sengaja mengaktifkan mode hening supaya perbincangan pentingnya di kantor tadi tidak terinterupsi.


Memeriksa gawainya, di sana tertera tiga panggilan tak terjawab yang sudah pasti dari rumah sakit ini. “Ya, saya Yudhistira. Terima kasih atas gerak cepatnya menghubungi saya. Maaf, saya tadi sedang berada dalam pertemuan penting, jadi tidak memeriksa ponsel. Tapi, bagaimana dengan KTPnya?”


“KTPnya masih ada di bagian administrasi. Anda bisa mengambilnya sekalian mengurus pembayaran.”


Mengurus administrasi terlebih dahulu itulah yang dilakukan Yudhis, membayar semua biaya pengobatan yang rumah sakit berikan pada Khalisa. Secarik kartu penting berwarna biru milik Khalisa tak lupa diambilnya kembali dan diamankan, juga sekantung obat serta vitamin yang diresepkan dokter untuk Khalisa ikut dibawanya.


“Ke mana wanita itu pergi? Dia itu terlihat rapuh tapi nekat!” gerutunya kesal begitu mendaratkan pinggul di kursi kemudi mobil hitamnya, imbas dari cemas menggerus si segumpal daging yang bersemayam di balik rongga tubuhnya. Penjelasan dokter sebelum meresepkan obat serta vitamin membuatnya terus teringat pada Khalisa, terutama kondisi kesehatannya yang memprihatinkan.


Mengambil kembali KTP Khalisa, Yudhis membaca tanggal lahirnya, ternyata usia Khalisa baru akan menginjak 22 tahun, selisih enam tahun dengannya. Dia juga mengamati foto wanita itu lamat-lamat. Pahatan paras Khalisa pada foto ala kadarnya itu tetap terlihat ayu, walaupun jika dibandingkan dengan aslinya jauh lebih jelita saat dilihat langsung. Hanya saja riak dari wajah cantik itu juga sorot matanya mendung kelabu, entah apa yang menggayuti, yang jelas mendung tersirat di wajah Khalisa terus terngiang-ngiang di kepalanya.


Menimbang-nimbang sejenak, Yudhis memutuskan untuk mengembalikan KTP Khalisa ke alamat rumah yang tertera, yakni alamat yang sudah dua kali disambanginya tanpa sengaja. Bukan hanya KTP, Yudhis juga hendak memerikan obat-obatan yang dibungkus kantung putih dari rumah sakit.


“Haruskah aku mampir ke toko mainan dan membeli beberapa sebelum ke sana?” cicitnya sendiri, teringat pada Afkar. “Beli mobil-mobilan atau motor-motoran?” ujarnya bingung.


Aroma desinfektan menyergap penciuman saat Khalisa terbangun dari tidurnya. Kepalanya pusing, sekujur tubuhnya terasa remuk redam. Cahaya lampu yang menerangi ruangan menghantam indra penglihatan begitu ia membuka mata, menyerukan kelopaknya untuk mengatup kembali guna menetralkan ruang pandang.


Akh, silaunya, ini di mana ini? ucapnya dalam hati, menelan ludah guna membasahi tenggorokannya yang terasa kerontang.


Seorang wanita dalam balutan seragam warna toska, sedang mengganti cairan infus yang tersambung ke tangan kirinya ialah yang pertama kali tertangkap sepasang netra Khalisa begitu matanya terbuka sempurna. Mengamati sekitar, ia mulai paham sedang berada di mana. Cukup dibuat terkejut juga terkesiap bersamaan dengan jantung bertalu kencang.


“I-ini di rumah sakit?” tanya Khalisa, memastikan dugaannya.


“Anda sudah bangun rupanya. Iya, ini di rumah sakit. Semalam Anda pingsan dan dilarikan ke sini. Maaf kalau kegiatan mengganti cairan infus mengganggu tidur Anda. Tapi memang sebaiknya Anda bangun, Bu. Sudah waktunya sarapan.” Si perawat menunjuk meja di samping ranjang tempat Khalisa berbaring. Di sana tersedia senampan makanan sehat lengkap, menyajikan standar empat sehat lima sempurna.


Menyapu pandangan ke sekitar, lagi-lagi Khalisa mengajukan pertanyaan sembari meringis resah. Setelah diamati dengan benar, ruang perawatan ini sangatlah mewah. Sudah pasti tarifnya mahal. “Ini … ini ruang perawatan apa ya?”


“Ini kelas VVIP, Bu Khalisa. Semoga pelayanan rumah sakit ini berkenan. Jika ada yang kurang, silakan segera sampaikan pada saya, jangan sungkan.”


Mendapati dirinya terbangun di rumah sakit saja sudah membuat Khalisa ibarat mendapat terapi kejut jantung, terlebih lagi sekarang mendengar kata VVIP sukses memacu degup di balik rongga rusuknya bergemuruh tak karuan. Otaknya menolak berpikir panjang, terbungkus panik tak terelakkan. Terkejut juga cemas bukan kepalang, sebab ia tak memiliki rupiah melimpah ruah. Jangankan membayar biaya rumah sakit, untuk membeli makan saja Khalisa tidak yakin uangnya cukup menyambung hidup.


Oleh sebab itu, meski Khalisa tahu tindakannya tak bisa dibenarkan, ia memilih keluar kamar secara sembunyi-sembunyi lantaran sudah jelas takkan mampu membayar. Kabur dari sana setelah perawat berpamitan hendak berganti jam kerja, setelah menungguinya menelan beberapa suap makanan. Mengendap-endap sembari memeluk tas coklatnya, celingukan was-was dengan cepat mencegat angkot di depan rumah sakit dan pergi dari sana.


Bersambung.