
Khalisa Bab 143. Final
“Yang Mulia, Saudari Wati kami dihadirkan di sini untuk memberikan keterangan sejelas-jelasnya tentang bagaimana Bapak Dion yang terhormat memperlakukan Afkar ketika di bawah pengasuhannya sewaktu dijauhkan dari Ibu Khalisa.”
Yudhis berbicara dengan sopan ketika persidangan sudah dimulai. Berdiri penuh wibawa dengan salah satu tangan masuk ke saku celana.
“Apakah saksi hadir secara sukarela tanpa paksaan?” tanya hakim langsung pada Ceu Wati, dan Ceu Wati mengangguk mantap, juga berkata ya tanpa ragu.
Ceu Wati bersaksi secara terperinci setelah dipersilakan. Mengungkap semua fakta yang terjadi pada Afkar di rumah Amanda. Meski dengan takut-takut, Ceu Wati berhasil melaluinya.
Porsi kelalaian Dion pada sang anak semakin menumpuk, mengikis habis kesempatan menangnya, belum lagi tim kuasa hukum yang masih setia mendampinginya hanya tinggal dua orang saja dari yang semula empat orang. Menurut kabar burung, dua orang yang tak nampak itu telah didepak karena tidak sanggup memenuhi keinginan serakah Dion, yang memaksa menggunakan berbagai cara untuk berbuat licik.
“Dimohon untuk tenang!” Salah satu hakim bersuara lantang, mengetuk palu beberapa kali saat Dion tak terima dan meneriaki Ceu Wati yang sedang bersaksi, membuat wanita paruh baya itu berjengit kaget.
“Saksi, silakan dilanjutkan,” pinta hakim pada Ceu Wati.
Sebanyak apapun Dion menyangkal, fakta-fakta kelalaiannya terhadap Afkar memang terpampang nyata sekarang. Diperkuat dengan keterangan Ceu Wati, data-data dari klinik yang pertama kali didatangi Yudhis dan Khalisa sewaktu penanganan darurat Afkar, juga ditunjang keterangan terperinci dari RS Satya Medika.
Komnas perlindungan anak ikut berpartisipasi, memaksa keangkuhan Dion untuk mundur. Belum lagi dari segi sandang, pangan dan papan, Khalisa lebih mumpuni sekarang, sebagai faktor-faktor penunjang penting dalam urusan putusan hak asuh. Tak kalah dari Dion, bahkan lebih, setelah statusnya menjadi istri Yudhistira Lazuardi. Menjadikan posisi Dion kian terjepit.
Suasana tegang menyergap ruangan saat para hakim berdiskusi dan menilai ulang semua bukti serta kesaksian, sebelum memutuskan putusan akhir seadil-adilnya.
Tim pengacara dari pihak lawan pun sepertinya mulai kehabisan amunisi. Dion juga merasa kena tipu, salah satu hakim yang disuap tidak nampak hadir di persidangan final ini. Dion kentara sangat resah, ambisinya ingin menaklukkan Khalisa lagi telah mengisyaratkan kegagalan, takkan dapat diraih dan dia harus bersiap untuk mengucap selamat tinggal.
“Setelah meninjau, menimbang, mengkaji dan menilai semua bukti-bukti serta kesaksian, kami memutuskan, hak asuh Afkar jatuh pada Saudari Khalisa sebagai ibu kandungnya. Demikian keputusan kami. Dengan ini kasus dianggap selesai.”
Bunyi palu yang diketuk tiga kali menjadi penanda hak asuh Afkar telah benar-benar mutlak jatuh ke tangan Khalisa. Secara sah melalui jalan legal yang diakui negara. Juga menandakan kemenangan dan keberhasilan kerja keras Yudhis serta tim selama beberapa bulan ini.
Khalisa memeluk Yudhis saat itu juga, terisak-isak haru bersama derai syukur serta terima kasih tak henti terucap dari lisannya.
Dion menatap tajam punggung mantan istrinya juga si pria yang balas memeluk Khalisa. Mendadak menggebrak meja dan berteriak-teriak membuat keributan.
“Pak Hakim. Pasti di antara bukti-bukti yang diberikan Khalisa dan pengacaranya terdapat manipulasi! Terutama tentang pernikahan mereka, saya sangat yakin itu hanya siasat licik demi memenangkan kasus ini! Hal ini perlu diusut lebih lanjut!” tuntutnya berang, berapi-api.
Khalisa yang sedang tersedu-sedu menangis bahagia, mengurai pelukan sejenak. Menghunuskan kilat tajam pada Dion, ia merogoh tas Hermes yang dipakainya dan mengeluarkan sebuah amplop dari dalamnya.
“Silakan buang waktu Anda untuk mengusut, Pak Dion. Karena saya punya bukti kuat juga konkret untuk membuktikan bahwa pernikahan saya dengan Pak Yudhis bukan manipulasi. Kami benar-benar suami istri sah secara agama dan negara. Selain surat nikah serta kartu keluarga yang menjadi bukti, hari ini saya membawa bukti lainnya.” Khalisa melebarkan selembar kertas tersebut dan menaruhnya ke atas meja. “Saya yakin Anda dan tim kuasa hukum Anda tidak buta huruf. Silakan dibaca.”
Dion dan kuasa hukumnya merangsek tak sabaran ingin membaca selembar kertas di atas meja yang ditunjukkan Khalisa, dan Yudhis yang penasaran ikut mengintip bukti lain yang dibawa istrinya tanpa sepengetahuannya, bukti yang belum pernah dibicarakan padanya sebelumnya.
Bukan hanya Dion yang terbelalak, tetapi juga Yudhis ikut terkesiap. Iris hitamnya beralih dari kertas di meja, bergulir menatap Khalisa lamat-lamat. Bertanya-tanya melalui sorot mata tanpa kata, yang direspons Khalisa dengan anggukan seolah dapat membaca pertanyaan di benak pendamping hukum juga pendamping hidupnya itu. Bersama ukiran senyum lebar sebagai jawaban mengiyakan.
Bersambung.