Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Sindrom Getar Rasa


Bab 65. Sindrom Getar Rasa


Khalisa dan Yudhis sampai di rumah Ghaisan ketika penunjuk waktu memasuki pukul sembilan. Suasana kediaman Ghaisan tampak masih ramai malam ini. Pintu utama dibiarkan terbuka, canda tawa saling menimpali menguarkan kehangatan. Sepertinya sedang banyak orang.


Di dalam sana, Syafa dan Farhana juga nyonya rumah ternyata sedang berkumpul, berbincang bersama menghabiskan malam Minggu selepas membuat kue bersama. Duduk bersantai menikmati teh madu ditemani nougat cake yang baru keluar dari pemanggang, sedangkan Ghaisan sedang mencari angin di kursi teras, mengaso ditemani secangkir kopi susu juga dua potong kue di piring kecil, menghindari cicit berisik para wanita di dalam sana.


Ghaisan menyambut Yudhis yang memasuki pekarangan rumah diikuti Khalisa di belakangnya. Menaruh cangkir yang sedang disesap isinya. Turun dari kursi dan berpelukan dengan sahabatnya itu, saling menepuk-nepuk punggung seperti biasa.


“Tumben pakai si merah?” Ghaisan mengarahkan ekor matanya pada Audi R8 yanga baru saja diparkirkan Yudhis.


“Lagi pengen pakai saja. Sekalian manasin mesinnya. Terlalu lama terkurung di garasi dia butuh sinar matahari juga udara segar.”


“Begitu ya? Tapi sepertinya bukan cuma si merah yang perlu dipanasi mesinnya, pemiliknya juga perlu,” usil Ghaisan yang memang gemar menjahili sahabatnya itu.


“Maksudmu?’ sambar Yudhis sengit.


“Ya, kukira kamu memanaskan mesinmu juga, takut lupa cara kerjanya walaupun sering mengikuti kelas edukasi. Tadinya, kupikir kamu bakal menyekap seseorang yang kamu namai 'Bidadariku' di kontak hapemu untuk latihan pemanasan. Padahal aku sudah bersiap-siap menggerebek kediaman Yudhistira Lazuardi, pasti menarik kalau beritanya jadi trending topik. Tapi kamu mengantarkannya kembali tepat waktu sebelum jam sembilan. Hhh, jadinya tidak seru,” ujar Ghaisan berbisik ke telinga Yudhis, yang kemudian menggaruk ujung hidung, sengaja mengejek sembari menyengir.


“Dasar bisikan sesat!” Yudhis menjauh dari Ghaisan, memelotot galak. “Kamu sendiri yang paling berisik mewanti-wanti dan mengingatkan supaya aku menjaga pandangan juga ini itu sebelum waktunya!" geramnya kesal sembari berbisik, berharap Khalisa tidak mendengar.


Ghaisan tak kuasa menahan tawa cekikikan hingga pundaknya ikut berguncang. “Baguslah, berarti rem seorang Yudhistira teruji kualitasnya, bukan abal-abal,” timpal Ghaisan di sela-sela gelak kecilnya sembari menepuk-nepuk pundak Yudhis.


“Pak Ghaisan, maaf saya pulangnya kemalaman,” ucap Khalisa sopan, masih agak sungkan. Aura Ghaisan yang merupakan seorang polisi tak jauh beda dengan Yudhis, sama-sama berkarisma juga berwibawa.


“Tidak apa-apa, Khal. Aku dan Aloisa juga tahu kamu pergi ke mana bersama Abang Yudhistira yang ganteng ini. Dia rutin melapor padaku hendak membawamu pergi ke mana. Yang penting kamu kembali pulang tetap utuh, tidak kurang suatu apa pun. Rasanya aku ini jadi seperti orang tua yang sudah punya anak gadis,” ujarnya terkekeh, sementara Yudhis berdecak malas.


“Dasar vibes bapak-bapak tua!” ledek Yudhis tak mau kalah.


“Kalau begitu panggil aku calon ayah mertua,” imbuh Ghaisan lagi yang membuat Khalisa ikut melipat bibir menahan tawa. Saling ejek dua pria dewasa itu berhasil menjadi hiburan bagi Khalisa.


“Tak sudi!” dengus Yudhis sebal, lalu beralih pada Khalisa, tak memedulikan Ghaisan yang masih terkekeh.


“Khal, kamu pasti capek, cuaca juga dingin. Masuk sana, istirahat, jangan begadang. Vitamin buat kamu yang tadi kubeli di perjalanan pulang jangan lupa diminum sebelum tidur. Kamu harus punya fisik yang sehat dan kuat dalam upayamu memperjuangkan Afkar kembali padamu. Aku masih ingat, kamu sempat terdiagnosis malnutrisi. Diminum teratur ya,” pesan Yudhis pada Khalisa, penuh perhatian.


Ghaisan menggosok-gosok hidung, berusaha menahan tawa geli yang lagi-lagi ingin menyembur menyaksikan kelakuan Yudhis yang kentara khawatir pada Khalisa dalam konteks jenis perhatian terhadap wanita yang dipuja, bukan sekadar kepedulian kuasa hukum pada kliennya, kendati sahabatnya ini masih belum mau mengakui secara gamblang memang menaruh hati pada si janda cantik ini.


“Iya, Bang, makasih. Aku pasti bakal jaga kesehatan mulai sekarang. Abang juga hati-hati di jalan pulangnya,” cicit Khalisa tulus.


“Besok pagi enggak usah datang dulu ke rumahku untuk berbenah, aku akan menjemput ke sini dan kita akan langsung berangkat ke Lembang. Cepat masuk dan tidur. Aku pulang nanti, ada beberapa hal penting yang harus kubicarakan dengan Ghaisan,” titahnya yang diangguki Khalisa patuh.


“Ehm, ehm. Cie cie, perhatian banget Abang ini?” ledek Ghaisan tak tahan setelah punggung Khalisa masuk ke dalam rumah.


“Berisik! Ada apa dengan Pak AKP yang biasanya berwibawa ini? Doyan banget ganggu suasana!” kesal Yudhis, menarik kursi lain di teras dan duduk di sana, menyambar cangkir di meja dan mencicipi isinya tanpa permisi.


“Heh, itu kopiku!” serunya lantang.


“Kelamaan membujang jadi begini nih. Kapan rencanamu mengungkap isi hati, Pak Yudhistira Lazuardi? Aku tahu kamu perayu andal jika itu berhubungan dengan urusan mencari informasi pada setiap kasus yang kamu tangani, tapi kenapa pada wanita yang disuka malah jadi mati kutu?” Ghaisan masih belum puas mengganggu Yudhis, juga dalam rangka menyadarkan Yudhis untuk segera mengakui perasaannya sendiri.


“Bicara apa kamu ini?” sanggahnya, menghindari pertanyaan Ghaisan.


“Ya ngomongin masalah hatimu. Kamu itu jelas terlihat terpampang nyata suka sama Khalisa. Sampai-sampai rela nyari Khalisa ke mana-mana secara pribadi cuma buat kembalikan KTP. Apa namanya kalau bukan tertarik rasa lain. Pasti ini pertama kalinya rasa spesial di hatimu yang mahal itu bergetar oleh seseorang. Keduluan digondol orang baru tahu rasa! Yang pasti harus pelan-pelan dan hati-hati, tapi jangan lengah juga. Mengingat mungkin Khalisa masih memiliki trauma tersendiri akan sebuah hubungan antara pria dan wanita karena dia pernah gagal sebelumnya.”


Yudhis tak menimpali, berpura-pura tak mendengar. Ghaisan menggerutu sebal karena Yudhis bukannya menanggapi ocehannya, tetapi malah mengambil piring kue miliknya.


“Itu kueku! Kenapa jatuh cinta malah mengubahmu jadi tukang palak? Palakin hati Khalisa sana!”


“Bawel!” balas Yudhis cepat.


“Kamu bilang ada yang mau kamu bicarakan denganku? Awa saja kalau enggak penting!” Ghaisan duduk di kursinya setelah merebut kembali piring kue dari tangan Yudhis. “Perlu bantuan untuk masalah Khalisa?”


“Bukan itu. Permasalahan Khalisa masih bisa kuatasi bersama tim. Bagaimana kondisi kesehatanmu?” tanya Yudhis tiba-tiba.


“Aku baik, hasil general check up terbaruku seluruhnya baik? Ada apa? Kenapa hawa di sini mendadak tidak enak? Jangan-jangan kamu butuh donor ginjal? Tapi aku tidak bersedia menjadi pendonor untuk orang kaya raya sepertimu!”


“Haish, bukan itu juga! Aku hanya ingin memastikan berita yang kubawa ini tidak menyebabkanmu terkena serangan jantung,” jelas Yudhis, nada bicaranya mulai serius.


“Berita apa?” Ghaisan langsung waspada, menajamkan pendengaran.


“Ini mungkin berita besar yang akan membuatmu tercengang. Ini sangat rahasia dan aku belum mengatakanya pada siapa pun. Aku khawatir salah melihat. Tapi aku sangat yakin indra penglihatanku masih sehat dan bugar.”


“Berita apa? Cepat katakan saja, jangan bikin penasaran!”


“Kamu tahu siapa pemilik kafe Black Paradise?” tanya Yudhis pelan, setengah berbisik.


“Kafe mewah itu milik salah satu pejabat tinggi di kota ini dan pemiliknya cukup dekat dengan aparat. Taat pajak juga patuh peraturan."


“Pernah melakukan sidak ke sana?”


“Pernah, beberapa kali, dan semua hasilnya bersih, tidak ditemukan hal mencurigakan walaupun sempat ada isu sekilas bahwa kafe tersebut adalah kafe remang-remang yang terbungkus kemewahan. Tidak ada yang aneh di sana. Memangnya apa yang kamu lihat?”


Yudhis


terdiam sejenak, tampak merangkai kata sebelum membuka mulut lagi. Mencondongkan tubuh lebih dekat pada Ghaisan.


“Aku melihat Alpha1 di kafe Black Paradise. Sedang berpesta miras, juga melakukan transaksi prostitusi. Aku merekam bukti meski durasinya singkat, mungkin bisa membantu penyelidikan lebih lanjut walaupun pasti tidak mudah,” tukas Yudhis hati-hati dan reaksi Ghaisan benar-benar terkesiap, amat terkejut dibuatnya.


Bersambung.