
Bab 78. Papa
Sudah lima hari lima malam Afkar dirawat inap di rumah sakit Satya Medika dan selama itu pula Yudhis setia menemani. Pagi ini Afkar sudah lebih ceria, tidak sepucat dan selemas di hari pertama saat dilarikan ke rumah sakit, nafsu makannya berangsur membaik, seiring kondisi fisiknya yang ikut pulih.
“Gimana selera makan Afkar hari ini?” Yudhis yang seperti biasa bari kembali lagi ke rumah sakit setelah mandi dan berganti baju di rumah, ikut nimbrung dan duduk di tepian ranjang perawatan Afkar. Mengelus-elus sayang kaki mungil Afkar, sedangkan Afkar sendiri sedang fokus menikmati sebotol susu penuh penghayatan.
“Lumayan bang, habis setengahnya.” Khalisa menunjuk piring di meja dekat kepala ranjang, berisi nasi tim tersisa separuh.
“Mau beli bubur ayam kampung di daerah Andir lagi kayak kemarin sore? Kulihat kemarin sore Afkar makannya lahap, bahkan sampai habis tak bersisa.”
Ya, kemarin sore Yudhis memang membelikan bubur ayam kampung sehat untuk Afkar setelah si bocah lucu itu mengobrol ala balita dengannya. Mengatakan ingin makan bubur bakso. Semula Yudhis tak paham, menu bubur bakso itu yang seperti apa, dan setelah Khalisa menjelaskan bahwa yang dimaksud Afkar adalah bubur ayam kampung dekat penjual bakso di sekitaran Andir, barulah Yudhis mengerti. Bergegas membelikan dan benar saja Afkar menyantapnya dengan lahap.
“Tidak usah, Bang, makasih. Jangan ngerepotin terus. Walaupun enggak selahap kemarin sore, Afkar lumayan suka nasi tim yang dibuatkan ahli gizi di sini. Kalau dibiasakan beli terus, aku khawatir nantinya Afkar jadi anak yang pilih-pilih makanan. Sayang menu sehat yang sudah disediakan rumah sakit, mubazir kalau dibuang-buang. Di luar sana masih banyak yang kesusahan hanya untuk sekadar mengisi perut.”
Khalisa menyahuti panjang lebar, begitu serius. Terpampang jelas di paras ayunya bahwa Khalisa amat menghargai makanan, terlihat dari bagaimana Khalisa sering menyumpalkan makanan yang disediakan pihak rumah sakit untuk Afkar saat tidak habis dilahap anaknya.
Yudhis mengangguk paham dan memilih tidak membantah, saat ini Khalisa tengah menjalankan perannya sebagai seorang ibu yang sedang mendidik anaknya. Semakin dibuat kagum oleh sosok wanita muda keibuan ini.
“Saat ini mantan suamimu sedang mencari-cari keberadaan kalian. Dia juga mengutus suruhannya datang ke pengadilan negeri, menanyakan soal akta ceraimu. Dan sesuai perkiraanku, mantan suamimu benar-benar kalang kabut mencari Afkar juga kamu ke setiap rumah sakit. Entah itu mencari secara pribadi maupun menyuruh orang.”
“Ada yang mencari ke sini juga kah?” Khalisa menelan ludah, raut terkejut serta cemas tak dapat disembunyikan.
“Ada, aku sendiri pernah mendapatinya sewaktu melewati lobi, kira-kira di hari ke tiga Afkar dirawat juga tadi pagi. Beberapa orang berpakaian rapi menanyakan keberadaan pasien anak usia tiga tahun bernama Afkar dengan wali bernama Khalisa. Tapi kamu tenang saja, identitas kalian di sini terjamin kerahasiaannya,” jelas Yudhis menenangkan, menuturkan lagi supaya Khalisa tidak terus tergerus takut dan cemas yang dapat melemahkan.
Dugaan Yudhis tepat sasaran. Namun, berkat otak cerdasnya yang encer, Yudhis sudah memperkirakan hal ini, mengantisipasi lebih dulu dengan meminta rumah sakit merahasiakan identitas Afkar sebagai pasien yang dirawat di sana, agar keberadaan Afkar dan Khalisa tak terendus. Menyertakan surat resmi perlindungan klien yang sedang terlibat urusan hukum dan butuh keamanan agar rumah sakit pun paham akan maksud dari permintaannya.
Di tengah-tengah obrolan mereka, dokter visit pagi datang untuk memeriksa Afkar seperti biasa.
“Kondisi Afkar membaik lebih cepat dari perkiraan. Saya ikut senang dan siang ini Afkar sudah boleh pulang. Tapi tetap harus ingat kontrol rawat jalan teratur, tepat waktu. Saya akan tuliskan jadwal kontrolnya, supaya Bu Khalisa tidak lupa.”
“Alhamdulillah. Terima kasih atas perawatan terbaiknya, Dokter,” ucap Khalisa.
Kelegaan tergambar jelas di wajah Khalisa bersama syukur menggema dalam hati. Walaupun sebetulnya diiringi keresahan disembunyikan saat mendengar kata rawat jalan yang sudah tentu artinya merujuk pada keuangan untuk merealisasikannya, sedangkan biaya rawat inap selama lima hari ini pun Khalisa menghitungnya sebagai hutang pada Yudhis. Akan tetapi, demi si buah hati lentera jiwa, Khalisa yakin pasti ada jalan asalkan mau berusaha, terlebih lagi mulai hari Senin mendatang ia sudah punya pekerjaan sebagai OB di LBH milik Yudhis.
“Sudah, Bang, semuanya sudah selesai. Tinggal tunggu perawat lepasin infusan Afkar.”
“Tapi, Khal. Ada sesuatu yang harus kusampaikan sama kamu dan ini penting.”
“Bilang saja, Bang. Ada apa?” Khalisa menghampiri, bola matanya bergulir harap-harap cemas menanti kalimat yang akan meluncur dari bibir Yudhis yang dibingkai janggut samar tipis jejak bercukur dua hari lalu. Mungkinkah Yudhis hendak menjabarkan berapa nominal biaya rumah sakit? Pikirnya.
“Begini, Ghaisan dan Aloisa baru saja menghubungi. Aloisa pergi ke Bogor, ke rumah mertuanya, katanya diminta datang sekalian ingin membantu menyelenggarakan acara selamatan berangkat ibadah haji ayah dan ibu mertuanya dan kemungkinan menginap beberapa hari. Kamu dan Afkar tidak mungkin pulang ke tempat Ghaisan di saat Aloisa tidak ada di rumah. Jadi untuk sementara, kalian akan tinggal dulu di rumahku. Mempertimbangkan keamanan, tempat tinggalku sudah pasti terjamin. Aku akan meminta si mamang tukang kebun juga istrinya untuk menginap.”
Khalisa menunduk dalam, tak enak hati. “Maaf, aku terus saja merepotkan Abang, merepotkan banyak orang, tapi jujur saja aku memang butuh bantuan saat ini,” ungkapnya dengan embusan napas berat. “Andai saja aku punya keluarga,” lirihnya sedih.
“Hei, kenapa sedih, hmm? Kalau begitu anggap saja aku keluargamu, semudah itu bukan? Keluarga tidak selalu harus memiliki darah yang sama mengalir dalam nadi. Senasib dan sepenanggungan pun bisa disebut keluarga. Seperti kita,” imbuh Yudhis yang tidak membiarkan kalimat di bagian akhirnya menggantung tanpa embel-embel penjelasan membuat Khalisa mengerjap bingung.
“Selamat siang, Pak, Bu. Saya diminta dokter untuk membuka infusan putra Anda.” Seorang perawat yang diutus dokter memasuki kamar dan menyapa sopan. Kali ini perawatnya bukan yang biasanya. Dia datang untuk membuka infusan karena Afkar akan segera pulang.
“Halo dedek, maaf ya, suster mau pinjam tangannya sebentar.”
“Endak mau!” seru Afkar karena takut. Bocah ini sering menolak orang baru menyentuh dan dekat-dekat dengannya terutama setelah hari dipisahkan dengan Khalisa, seolah tertinggal trauma tersendiri di dalam memori Afkar.
“Sayang. Yuk dengerin kata suster, anak pintar, biar bisa megang botol susunya dua tangan lagi,” bujuk Khalisa lembut.
“Endak mau!” jeritnya histeris, malah menangis kencang. Proporsi Khalisa yang mungil lumayan kewalahan menenangkan anaknya yang ketakutan.
“Maaf, bisakah Papanya saja yang memeluk dedeknya supaya lebih tenang? Mamanya terlihat kewalahan dengan amukan dedeknya, Pak.” Si perawat beralih pada Yudhis yang menonton di ujung ranjang, si perawat itu terlihat agak kesal karena mengira Yudhis adalah ayah dari si bocah menangis ini, yang malah diam saja tidak ikut bertindak.
“Eh, maaf suster, dia ini bu_” Belum juga kalimat Khalisa rampung, Yudhis menyela lebih cepat.
“Baik, suster. Biar saya saja,” tukas Yudhis cepat.
“Kalau sama Papa dipeluknya mau ya dibuka infusnya? Af kan anak pintar,” ucapnya lugas, membuat si bocah merajuk itu terdiam seketika dan mengedip polos, terlebih lagi ibunya.
Bersambung.