
Bab 96. Satu Kamar
“Khal?”
Yudhis mengerjap terkejut melihat Khalisa masuk ke kamarnya, berdiri kaku di dekat kaca yang gordennya disibak dibiarkan terbuka. Sengaja kamarnya dimatikan lampunya dan menyisakan temaram dari lampu tidur, kemudian kain penutup kaca besar yang menghadap taman disibak lebar supaya leluasa menikmati syahdunya air kolam berpadu tanaman juga bunga-bungaan indah, ditemani Ikan Koi yang berlenggak-lenggok gemulai berenang.
Yudhis memang sengaja berlama-lama terpaku di sana saat masuk kembali ke kamarnya setelah selesai menyantap semangkuk mie yang pedasnya lebih pedas dari yang biasa dimakannya, berharap rasa pedas juga syahdunya ketenangan alam mampu meredam gejolak dalam dada, sebab bingung harus memulai dari mana mengungkap debaran rasa yang bercokol di hati agar teruntai melalui lisan, juga perihal waktu yang dibolak-balik pikiran pun rasanya belum tepat terucap.
“B-Bang. Maaf aku lancang masuk ke sini. Bukan bermaksud mengganggu, tapi Tantenya Abang nyeret aku supaya masuk.”
Khalisa gelagapan, merasa tidak sopan menerobos masuk ke kamar Yudhis yang dianggapnya sebagai bosnya juga kuasa hukum yang amat dihormatinya, belum terkoneksi sepenuhnya bahwa Yudhis adalah suaminya sekarang.
Sebab pernikahan mereka terjadi bukan atas dasar keinginan membangun rumah tangga bagi pemikiran Khalisa, tetapi di pikiran sederhananya berasumsi, Yudhis melakukan ini semata-mata sebagai bagian dari salah satu usaha sebagai kuasa hukum dalam membantu memenangkan hak asuh Afkar. Bukan jenis pernikahan yang menanti manisnya malam pertama terlebih bulan madu.
Lagi pula tidak mungkin sosok kaya raya, menawan dan sesukses Yudhis benar-benar mempersunting orang sederhana lagi papa seperti dirinya untuk benar-benar diperistri, janda lagi, batinnya. Khalisa hanya fokus pada sang anak sekarang, juga menjaga hati dari berharap pada hal yang jelas bukan porsi gapaiannya.
Menutup gorden dengan cepat, Yudhis menghampiri Khalisa yang malah mengintip lubang kunci pintu.
“Kamu ngapain, Khal?”
“Aku lagi intip kerabat Abang dari Bali yang barusan menyeretku ke sini barangkali sudah berbaring untuk tidur biar aku bisa keluar dan tidur di ruangan menyetrika saja, soalnya semua kamar sudah terisi penuh. Tapi dari sini kelihatannya Tantenya Abang malah mengobrol dengan yang satunya lagi.”
Khalisa mengeluh resah masih dalam posisi membungkuk mengintip lubang kunci, sementara di belakangnya Yudhis yang berdiri dengan kedua tangan terselip ke saku celana, melipat bibir menahan tawa melihat gerak-gerik Khalisa.
“Terisi penuh gimana? Bukannya kamar di sini ada empat dan bukannya sanak saudara dari Bali semuanya menginap di hotel?” imbuh Yudhis keheranan.
Khalisa menegakkan punggung, meringis sembari mengusap tengkuk. “Itu, begini, Bang. Bu Rani ketiduran di kamar tamu sama Afkar. Mau dibangunkan buat pindah tidak enak takut ganggu, tidurnya kelihatan nyenyak sekali. Terus, Pak Barata kembali lagi ke sini sama dua orang keluarga Abang, katanya kamar hotel terdekat terisi penuh. Jadi kamar besar yang satunya lagi diisi papinya Abang dan di ruang tengah digelar kasur buat keluarga menginap yang enggak kebagian kamar hotel. Dan kamar paling belakang dekat ruang cuci ada Mang Darjat juga Bi Dijah yang menginap,” jelasnya.
“Jadi kamu masuk ke sini karena diseret salah satu tanteku begitu?” tanya Yudhis kemudian.
“I-iya, Bang. Kayaknya mereka salah paham, mungkin karena enggak tahu duduk permasalahan yang sebenarnya, bilang sama aku buat tidur di sini, dan menyuruhku segera masuk ke kamar karena ini malam pengantin. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya, masalahku malah bikin Abang jadi terjepit situasi semacam ini dan aku jadi mengganggu ketenangan Abang,” ujar Khalisa tak enak hati, membuang napas frustrasi sembari membetulkan jilbabnya yang miring.
Yudhis mengangguk-angguk, berusaha tetap mengendalikan keinginan meneriakkan suara hatinya pada Khalisa bahwa sessungguhnya dirinya menikahi Khalisa bukan demi menolong semata, melainkan juga karena terpanah asmara oleh si lugu nan jelita di hadapannya.
“Duduk perkara sebenarnya memang hanya sahabatku dan istrinya, Erika dan Raja, serta Mami dan Papi saja yang tahu, sedangkan keluarga besar, kerabat, juga hadirin lainnya yang hadir tadi sore saat akad, tidak ada yang diberitahu, jadi wajar saja mereka bersikap demikian. Dan memang sebaiknya kamu tidur di sini bersamaku demi menguatkan asumsi. Tentang fakta sebenarnya lebih sedikit yang tahu itu lebih baik, agar potensi menang di pengadilan semakin besar lagi cepat terealisasi. Akan timbul kecurigaan kalau kita tidur terpisah, dan khawatir gosip yang meragukan pernikahan kita berdampak pada kasus yang sedang kita hadapi, khawatir melemahkan peluang unggul.”
“Jadi, aku benar-benar harus tidur di sini sama Abang malam ini?” tukas Khalisa bingung. “Aku takut menggangu Abang.” Ya, itulah pikiran Khalisa, cemas keberadaannya yang terlalu dekat mengganggu Yudhis.
“Ya, tentu saja harus di sini, supaya tidak menimbulkan kecurigaan,” pungkas Yudhis kemudian yang membuat Khalisa mengangguk menyerah.
Bersambung.
Bagi yang aplikasi Noveltoonnya sudah di update, sudah tersedia juga dukungan berupa iklan selain vote & gift. Jangan lupa vote & giftnya, plus tonton iklannya juga sebagai dukungan tambahan untuk cerita Yudhis dan Khalisa. Kalian bisa tonton iklan sampai 10 kali setiap harinya sebagai dukungan di laman beri hadiah. Dukungan dan apresiasi kalian amat sangat berarti buatku. Ini screenshot posisi iklan ya.
Alhamdulillah wasyukurillah, aku ucapkan banyak-banyak terima kasih buat semua teman-teman pembaca tersayang. Terharu sangat hati ini atas antusiasme juga apresiasi, dukungan dan cintanya untuk cerita ini melalui vote, gift, like, favorit dan komentarnya. Semoga semua kebaikan kalian, dibalas Allah dengan ribuan kebaikan lainnya yang tak terhingga.
Sebagai tanda cinta dan sayangku atas apresiasi luar biasa kalian, aku mengadakan giveaway yang akan diumumkan pemenangnya begitu novel ini tamat. Hanya sebuah kenang-kenangan dari Senjahari, si binar jingga di ufuk Barat yang ingin mengindahkan dan menghangatkan hati kalian layakanya senja di sore hari.
Hadiah giveaway berupa kenang-kenangan akan diberikan pada akun pembaca yang menempati podium dukungan vote dan gift 3 teratas.
*Podium dukungan 1 hadiah giveaway berupa paket hampers berisi tumbler spesial Senjahari, kerudung spesial Senjahari, dan satu buah frame kacamata (Untuk frame bisa custom, nanti bisa pilih sendiri)
*Podium dukungan dua akan mendapat hadiah giveaway tumbler spesial Senjahari dan minigram.
*Podium dukungan tiga akan mendapat hadiah giveaway kerudung spesial Senjahari dan minigram.
*Dukungan posisi 4-10 akan mendapatkan hadiah hiburan.
Dukung terus cerita Suci Dalam Noda,
Ingin lebih dekat dengan author? Follow Instagramku di @Senjahari2412
With love,
Senjahari_ID24