Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Terbayang-Bayang


Bab 48. Terbayang-Bayang


Angkasa berangsur terang kala sulur sang surya mulai menunjukkan gemulainya di ufuk timur, menghukum gelap terusir dari singgasananya.


Yudhis sudah segar dan rapi dalam balutan setelan elegan warna abu-abu tua hasil karya berkualitas Nara Boutique, masih merupakan bagian dari VN Fashion yang dikhususkan merancang pakaian formal.


Aroma sedap menggugah selera mendadak menyusupi ruang hidunya, berbarengan dengan perutnya yang bergemuruh lapar. Semalam Yudhis hanya makan malam sepotong burger, tersita waktu akibat sibuknya pekerjaan yang seolah tak ada habisnya.


“Mmmh, aroma lezat dari mana ini, apa dari rumah tetangga? Tapi rumahku berjauhan dengan tetangga lainnya? Mungkinkah terbawa angin? Atau efek perut lapar?” gumamnya sendiri di depan cermin sembari memasang dasi.


Keluar dari kamar, Yudhis menuju dapur hendak membuat kopi pagi dan memanggang roti untuk mengisi perutnya yang bergemuruh. Sarapan cepat ala Yudhis. Maklum, namanya juga bujangan, lebih memilih makanan praktis atau membeli yang sudah jadi di luar.


Tertegun, Yudhis mengerjap begitu memasuki ruang makan yang langsung menyatu dengan dapur bersih. Mengerjap beberapa kali, menggosok matanya khawatir salah melihat, saat disajikan hal tak biasa tampak di kediamannya. Tepat di depan kompornya terdapat sosok wanita terbalut bathrobe dan handuk rambut berdiri membelakangi arahnya datang.


Bulu kuduknya mendadak berdiri tak berkompromi, prasangka aneh merambati nadi dan batinnya bertanya-tanya.


Ada apa dengan dapurku? Mana mungkin rumahku mendadak ada penunggunya? Tapi, bukannya yang dipakainya itu jubah mandiku?


Memijat pelipis sejenak akhirnya Yudis teringat sesuatu. Tak pernah mendapati sosok wanita di rumahnya terlebih di pagi hari, Yudhis terlupa bahwa semalam untuk pertama kalinya ada wanita yang ikut menginap di kediamannya.


“Eh, selamat pagi, Bang Yu- eh Kak Yudhis,” ucap Khalisa kikuk, yang masih belum terbiasa akan panggilannya pada Yudhis. Menyapa si tuan rumah saat mendapati Yudhis sudah berdiri di dekat meja makan begitu ia berbalik dengan piring di tangan.


“Maaf, sudah lancang memakai dapur. Aku sedang membuat sarapan, aku … lapar,” sambung Khalisa lagi yang kemudian tertunduk malu sembari menunjukkan piring berisi telur dadar, sedangkan Yudhis masih asyik tertegun menatap Khalisa tanpa berkedip, gagal fokus.


Dalam balutan bathrobe di pagi hari dengan rambut terbungkus handuk menyisakan beberapa helai rambut basah terjatuh di sisi leher, rupa segar Khalisa dengan makeup yang memudar tidak lagi tebal seperti semalam, membuat Yudhis tak ingin berpaling barang sebentar saja. Terpesona rona malu bersemburat di tulang pipi berkulit putih langsat itu.


Bukan hanya itu membuatnya semakin terpana dan tak kunjung membalas sapaan Khalisa, tanpa disuruh, indra penglihatannya memindai Khalisa yang terbilang mungil jika bersanding dengannya, menyusuri dari kepala sampai ujung kaki. Tak ayal lagi, bayangan semalam saat Khalisa berdiri di hadapannya hanya menyisakan si kain segitiga terlintas dalam benak. Yudhis juga pria normal, terlebih lagi semalam merupakan kali pertama baginya menyaksikan keindahan mulus berlekuk nan molek kaum hawa, wajar saja untuk sesaat nalurinya merongrong pikirannya.


“Astagfirullahala’zim!” Yudhis mengusap wajahnya kasar, berusaha mengenyahkan bayangan tak seharusnya yang mendadak singgah.


“Ke-kenapa, Kak?” Takut-takut, Khalisa menaruh piring di meja makan, terkejut dengan reaksi Yudhis, raut wajahnya menegang khawatir Yudhis marah padanya sebab telah lancang menginterupsi dapur si tuan rumah.


“Ehm, bukan apa-apa. Itu tadi ada kecoak di dekat kompor,” ujarnya beralasan, tetap tenang sembari mengedikkan dagu.


“Arghhhhhhhhhh!”


Mendengar kata kecoak Khalisa memekik kaget, secepat kilat berlari dan melompat pada Yuhdis saking kagetnya, merangkul erat leher pria itu.


“Di mana kecoaknya? di mana!” serunya panik.


“Ehm, ehm, sudah pergi,” jawab Yudhis singkat, malah dia yang kikuk sekarang.


“Ffuhh, syukurlah. Aku punya pengalaman buruk dengan kecoak. Kenapa di rumah mewah begini bisa ada kecoaknya?” cicit Khalisa sebelum kemudian memelotot terkejut begitu menyadari ternyata dirinya dipangku Yudhis sekarang.


Khalisa melompat Turun terburu-buru , hampir terjengkang andai ia tak berpegangan ke lengan Yudhis, menjauh cepat dan menunduk sangat dalam karena malu.


Yudhis merasakan wajahnya memanas. Beranjak mengambil sebotol air dingin dari kulkas, meneguknya berupaya meredam detak jantungnya yang mendadak ribut tak beraturan.


“Masak apa?” Yudhis kembali membuka kalimat, mati-matian tetap bersikap cool, berusaha memecah kecanggungan yang terbentang antara mereka berdua.


Khalisa yang terus menatap lantai, mau tak mau mengangkat wajah begitu Yudhis bertanya tentang apa yang dimasaknya.


“Aku buat telur dadar keju dan roti panggang, maaf aku membuka kulkas tanpa izin dan mencari-cari bahan makanan karena lapar. Tapi, sebagai kompensasi aku sudah menyapu seisi rumah,” aku Khalisa.


“Apa aku juga dibuatkan? Tidak etis kalau kamu memasak di rumah orang cuma buat dimakan sendiri.”


“Tentu saja. Yang kedua ini buat Abang, eh Kak.” Khalisa sebal ada dirinya sendiri, terus saja gagap saat mencoba menyebut nama Yudhis disertai embel-embelnya.


“Jadi, sebetulnya kamu itu lebih nyaman memanggilku Abang atau Kakak?” Yudhis melipat bibir sekarang. Menahan tawa yang ingin berderai. Bagi Yudhis, bola mata Khalisa yang mengedip-ngedip di saat tegang begini tampak lucu.


“Boleh aku pikirkan lagi?” pinta Khalisa dengan polosnya, tertawa bingung.


“Ambil waktu berpikir sebanyak yang kamu mau. Asalkan jangan sampai hasil berpikirmu malah memanggilku ‘Mbak’.” Yudhis terkekeh, berkelakar, memancing tawa Khalisa ikut terbit.


“Bukannya tadi kamu bilang lapar? Terus, Kenapa masih berdiri di situ. Duduklah dan makan. Setelah ini aku pinjamkan trening dan kaosku sebagai baju ganti, aku akan membawamu ke suatu tempat sebelum menghubungi si bos mucikari. Memastikanmu aman dulu sebelum mengambil tindakan,” kata Yudhis, menarik kursi makan untuk Khalisa dan setelahnya dia menghampiri laci kabinet dapur, mengambil gelas juga sendok.


“Mau buat apa?” tanya Khalisa, menelengkan kepala memerhatikan kegiatan Yudhis.


“Mau seduh kopi latte,” jawabnya sembari mengulas senyum sekilas.


“Mau aku buatkan?” tawar Khalisa. “Sebagai bentuk terima kasihku walaupun mungkin amat sederhana.”


“Mmm, boleh. Buatkan yang enak ya.”


Bersambung.