
Bab 95. Was-Was
Khalisa yang mendengar dari kamar kini tercengang, karena jumlah mas kawin yang disebutkan Yudhis berkali-kali lipat dari yang sebelumnya dibicarakan padanya yang hanya sepuluh gram saja.
“Apa Bang Yudhis salah sebut ya?” gumamnya yang direspons gelengan pura-pura tidak tahu dari Maharani juga Aloisa.
Keduanya kemudian memilih menggandeng Khalisa keluar dari kamar daripada menjawab gumaman Khalisa, yang disambut tatap penuh puja dari si tampan bersahaja yang kini sudah melepas status lajangnya, telah memiliki nyonya secara sah.
*****
Semua acara berjalan lancar. Juna sekeluarga memilih menginap di hotel di daerah Lembang, katanya ingin sekalian nge-date dengan sang istri di daerah yang cuacanya dingin, tidak panas seperti Jakarta. Juga Arimbi si bungsu adik Brama, ingin mengeksplor daerah-daerah wisata di Lembang.
Keluarga dari Bali pun memilih menginap di hotel, tidak ingin mengganggu momen pengantin baru katanya. Dan keluarga besar dari Bali bersama Barata tentu saja, tetap merencanakan resepsi besar pernikahan Yudhis Khalisa yang akan digelar di Bali tanpa sepengetahuan dua sejoli itu.
Khalisa tidak kikuk maupun gugup, tidak sibuk bersiap maupun bersolek selayaknya pengantin wanita pada umumnya, karena di kepalanya bukan pernikahan yang kini dipikirkan, tetapi harapan besar nan indah tentang hak asuh sang anak.
Khalisa terlihat santai saja, malah lebih ceria bermain bersama Afkar di malam pertama pernikahannya dengan Yudhis, masih bercengkerama di ruang tengah bersama Maharani karena Barata memilih menemani keluarga dari Bali di hotel sesuai permintaan istri tercinta, berbagi tugas, setelah semua rangkaian acara akad sejak sore tadi usai.
Sementara di kamar Yudhis yang disiapkan sebagai kamar pengantin dengan dekorasi sederhana saja, Yudhis terlihat resah. Mirip anak perawan yang was-was dan cemas menanti dibuka segelnya. Menarik dan membuang napas dalam rangka menenangkan degup jantungnya yang berlarian rusuh di dalam sana. Tak pernah dirinya setegang ini selama hidupnya, bahkan berhadapan dengan kriminal kelas kakap pun Yudhis biasanya tetap tenang terkendali, tidak seperti sekarang.
“Pfuuuh,” Yudhis meniupkan napasnya kasar.
Si tampan berjambang tipis itu keluar dari kamar, lewat ke ruang tengah dengan berpura-pura tak melihat keseruan di ruang tengah.
Khalisa yang melihat Yudhis seperti hendak ke dapur, bangun dari duduk lesehannya dan menghambur menghampiri. Di kepalanya tertanam bahwa dirinya adalah ART di rumah ini, bukan istri Yudhis, masih belum terkoneksi akibat euforia kebahagiaan bersama sangat anak.
“Abang mau apa ke dapur? Mau bikin sesuatu? Biar aku saja, sekarang kan aku kerja di rumah ini,” tawarnya bersemangat.
Yudhis ingin membantah ucapan Khalisa, ingin menjelaskan bahwa sekarang mereka adalah pasangan suami istri meski menikah demi hak asuh Afkar, bukan majikan dan pembantu. Namun, raut semringah Khalisa membuat Yudhis tak tega merusak luapan gembira Khalisa yang pasti saat ini dipenuhi harapan indah tentang Afkar.
“Aku lapar, saat acara makan bersama tadi, aku tak begitu berselera,” jawab Yudhis yang berusaha tetap cool.
“Abang mau makan apa? Hidangan katering menu makan bersama tadi masih ada. Mau kuhangatkan atau mau buat makanan lain?” tanyanya dengan senyum indah yang membuat Yudhis ingin mengecup bibir merekah indah itu sekarang juga. Teringat kembali sensasi lembut si merah delima menggoda itu yang menderaskan desiran dalam darahnya.
“Bang, Abang?” Khalisa mengibaskan tangannya di depan wajah Yudhis yang malah terpaku menatapnya, bukan menjawabnya.
“Ehm, bu-buatkan mie instan saja. Pakai cabai rawit yang banyak, aku butuh makanan bercitarasa segar untuk mengenyahkan pening di kepala.”
Bersambung.