Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Memilikimu


Bab 112. Memilikimu


Memekik kecil.


Ya Khalisa memekik kecil ketika tanpa aba-aba Yudhis menggendongnya dalam sekali ayun tepat saat Khalisa keluar dari kamar mandi. Setelah beberapa saat lalu meminta izin sejenak untuk membasuh mulut juga, ingin memantaskan diri sebaik-baiknya, tidak ingin membuat kecewa serta guna mendorong kepercayaan dirinya.


“Abang bikin kaget,” cicit Khalisa terkekeh, memaklumi Yudhis yang mungkin sudah tak sabar setelah beberapa hari ke belakang harus menahan hasratnya yang menuntut dibebaskan.


“Kamu harus terbiasa, mungkin saja ke depannya aku akan lebih sering membuatmu terkejut,” Yudhis menggesekkan hidung mancungnya gemas ke pipi Khalisa, membuat Khalisa merona dan memilih membenamkan wajah di pundak si pria yang menggendongnya.


Bukan merebahkan Khalisa ke atas ranjang, melainkah Yudhis duduk di tepian kasur dan memangku Khalisa, melingkarkan kedua lengannya posesif, saling mempertemukan kening hingga beradu. Yudhis meresapi setiap irama detak jantungnya yang kini berdenyut merdu kala rasa menggebu di hatinya pada Khalisa benar-benar nyata berbalas.


“Aku mungkin bukan ahlinya di atas ranjang, karena ini pertama kalinya bagiku. Tapi, bisakah kamu percaya padaku?” ucap Yudhis sembari menyelami bola mata Khalisa yang semakin sayu memikat di bawah temaramnya lampu tidur, begitu dekat sehingga napas hangatnya yang beraroma mint segar berembus menerpa mengelusi pipi Khalisa.


“Aku mungkin pernah menikah. Tapi belum tentu lebih ahli. Aku percaya Abang lebih dari mampu untuk membimbingku menjadi istri yang sepenuhnya memenuhi nafkah batin kita berdua.” Khalisa menyahuti dengan kalimat menguatkan, bukan hanya di bibir saja, tetapi juga melalui sorot mata. Memasrahkan diri pada Yudhis, karena memang Khalisa pun bukan maestro meski pernah menikah sebelumnya.


Ucapan Khalisa melebarkan senyuman di wajah tampan Yudhis, menampakkan lesung pipi manisnya. Sesuai ajaran, Yudhis membimbing Khalisa membacakan do’a penuh takzim sebelum memadu kasih sembari menaruh telapak tangan di ubun-ubun Khalisa. Hal yang teramat baru bagi Khalisa, sebab saat dulu menikah dengan Dion, ia tidak diajarkan hal-hal semacam ini juga tidak tahu. Lantaran terbatasnya pengetahuan Khalisa yang selalu tersandung riwayat noda hitam saat ingin belajar, tak menemukan orang yang bersedia mengajarinya dengan tulus ikhlas.


Bersama Yudhis lah, ia banyak diajarkan hal-hal baru terutama dalam pengetahuan agama. Dan jujur saja Khalisa juga baru tahu, hendak menyatu raga pun ternyata ada tata cara juga adab yang teramat khidmat serta syahdu, menggetarkan hatinya penuh haru, merasa telah menemukan imam yang sesungguhnya dalam hidupnya. Seperti impiannya ketika remaja dulu, ingin dipertemukan dengan seseorang yang mampu membimbingnya menjadi lebih baik dan tidak memandangnya sebelah mata.


Doa yang dibaca Yudhis dan Khalisa dimaksudkan agar pemenuhan nafkah batin terhindar dari turut campur setan, juga berisi doa harapan, andai dianugerahi keturunan, bersemoga menjadi anak soleh dan solehah.


“Aku sayang Abang,” cicit Khalisa spontan begitu do’a disudahi. Polos dan tulus berasal dari lubuk hatinya yang murni.


“Aku lebih sayang kamu, Khalisa,” kata Yudhis serak dan berat, tergulung naluri kelelakiannya yang menguat, tanpa basa basi lagi merengkuh pinggang Khalisa supaya semakin merapat. Mengikis jarak dan menyatukan bibir dengan si bunga pujaan.


Khalisa membuka diri, balas memagut sesapan Yudhis yang begitu lembut memuja sekaligus menuntut. Rasa yang entah kenapa begitu hebat menggetarkan jiwa, meremangkan raga. Kali pertama yang lebih manis, lebih indah dari yang pernah dicicipi di masa lalu, mungkin karena kini ia mempersembahkan diri pada orang yang tepat, tulus mencintai lebih dan kurangnya.


Khalisa mengalungkan lengan, membiarkan dirinya direbahkan, menyambut hujan cinta yang Yudhis berikan, yang baginya laksana embun penyejuk di jiwa gersangnya. Membasuh duka, menyapu lara, menyucikan segumpal hati yang tersayat luka, menjadi penawar nestapanya. Menyingkirkan kelabu, menggantinya dengan benderang mengharu biru, menghiburnya yang dirundung pilu.


“Jangan sungkan untuk bilang, kalau nanti aku lepas kendali dan mungkin menyakitimu tanpa kusadari,” kata Yudhis begitu Khalisa rebah sempurna dan dia mengungkung di atasnya.


Khalisa merekahkan senyum seindah purnama, Yudhis memperlakukannya bak permata juga ratu, bukan hanya dianggap sebagai pemuas nafsu.


Di atas peraduan berseprai putih itu, Yudhis membiarkan naluri juga insting lelakinya membimbingnya menuju ritual pemenuhan nafkah batin untuk pertama kalinya, sekaligus melepas keperjakaan yang selama ini dijaganya dengan iman. Diberikannya sepenuh hati, seluruh jiwa raga hanya untuk si pemilik hatinya seorang.


Napas Yudhis memburu berat, saat hidungnya berangsur menyapu setiap inci kulit Khalisa. Menghidu rakus keharuman leher Khalisa yang menguarkan aroma wangi spa bercampur feromon tumpah ruah, membuatnya kian bergelora, sembari menurunkan kedua sisi tali spaghetti si gaun hitam menerawang.


Mata Yudhis berkabut, gairahnya berkobar. Melihat wajah Khalisa yang memerah merona, juga kemolekan Khalisa yang lebih dari sekadar menggoda, saat gaunnya tesingkap di bagian atas maupun bawah berkat ulahnya, menyajikan pemandangan menyembul berkulit mulus nan indah yang membuatnya kehausan ingin meneguk madu manisnya, seindah-indahnya perhiasan dunia yang halal untuknya.


Bibir Yudhis kini bukan hanya memuja lewat kecupan, tetapi juga merasai permukaan kulit Khalisa. Menyesap bagian-bagian spesial yang memang seharusnya disesap, membuat Khalisa melentingkan punggung dengan mata memejam dan bibir sedikit terbuka, sembari menyusupkan jemari lentiknya menjambak belantara rambut Yudhis, menyalurkan segenap rasa. Menggelinjang diterjang desir melenakan, menyeretnya ingin berkubang lebih dalam lagi.


Yudhis menyentuh Khalisa dan mencumbunya penuh cinta. Tetap tidak tergesa-gesa meski aliran darahnya menggebu, ingin membuat setiap detik momen penyatuan pertama kali mereka penuh penghayatan.


Yudhis memastikan Khalisa siap menerimanya dengan membelai gerbang surgawi sembari tak berhenti memesrai. Sesuai edukasi dari para psikolog juga seksologi yang pernah berbincang dengannya tentang bagaimana menyentuh pasangan yang seharusnya, supaya sama-sama terpenuhi nafkah batin satu sama lain, bukan hanya sepihak saja yang merasa puas.


Khalisa telah siap sepenuhnya, hangat dan lembap. Yudhis tetap memimpin peleburan, dan Khalisa yang walau bukan pertama kali tetaplah butuh bimbingan mengingat ia bukanlah pribadi agresif.


Yudhis berbisik mesra pada Khalisa, meminta izin menyatukan diri. Dan saat Khalisa mengangguk ternyata di bawah sana Yudhis sudah menerobos tanpa aba-aba, memenuhi dirinya hingga penuh sesak, membuat Khalisa memekik terkejut kala gerbangnya diketuk dan disambangi setelah sekian lama gersang tak terjamah.


Bahagia tiada tara itulah yang membanjiri keduanya terutama Yudhis, saat hatinya telah terpaut dan raganya bertaut dengan wanita yang menggetarkan hatinya sejak kali pertama. Memiliki Khalisa dalam arti sebenarnya, dalam ikatan halal yang menjadikan puja cintanya berpahala.


“Bang.” Khalisa mengerang feminin saat diterjang rambatan rasa luar biasa yang begitu dahsyat kala pria yang menatapnya penuh cinta itu mulai bergerak seirama. Meski masih belumlah mahir, tetapi ternyata mampu membawanya melambung menggapai awan tinggi. Lebih indah dari yang pernah didapatkannya.


“Ya, sayangku, cintaku yang paling cantik dan paling indah,” pujinya dengan nada manis juga tulus, yang efeknya membangkitkan kepercayaan diri Khalisa sebagai seorang istri juga wanita.


Khalisa balas mengayuh, turut bekerja sama, ingin mempersembahkan yang terbaik, saling bergandengan mengusak tempat tidur. Saling berbalas kecup tak henti semakin intens seiring kayuhan yang dipercepat, hingga akhirnya teriakan keduanya menggema berpadu bulir keringat. Sama-sama mengejang dibanjiri kenikmatan surga dunia dengan ranjang peraduan yang ikut tersiram jejak cinta sebagai saksinya.


Yudhis ambruk menindih Khalisa, menenggelamkan wajah di ceruk leher Khalisa sembari mengatur napasnya yang berantakan. Tak berlama-lama, Yudhis berguling dari posisi mengungkungnya. Ditariknya selimut yang hampir terjatuh ke lantai dan melebarkannya menutupi daksa mereka berdua, Yudhis juga meraup tubuh ramping Khalisa yang masih menetralkan laju napas ke dalam dekapan posesifnya bersama hati membuncah bahagia, mengecup kening Khalisa penuh kasih sayang lalu berbisik mesra.


“Makasih banyak Istriku. Aku bahagia dan semakin cinta kamu.”


Bersambung.