
Bab 87. Terciduk
Segelas kopi latte racikan Khalisa mengepulkan uap panasnya. Harum memenuhi udara. Dengan cangkir desain khas Eropa di tangan, Khalisa mengetuk pintu ruang kerja Yudhis yang terbuka. Bukan hanya sekadar karena saran Bi Dijah Khalisa mengantarkannya sendri, tetapi ia juga ingin sekalian berterimakasih secara pribadi atas perhatian besar Yudhis untuk anaknya, bahkan membelian mainan mahal juga kebutuhan kelengkapan harian untuk Afkar.
Tok tok tok.
“Masuk saja, Bi,” sahut si penghuni ruangan tanpa melihat ke arah pintu. Yudhis fokus pada setumpuk dokumen juga pada layar macbook yang dinyalakan.
Ruang kerja Yudhis memang sengaja disetting temaram oleh si empunya. Mematikan lampu utama dan mengandalkan pencahayaan dari lampu sorot di atas meja, memokuskan cahayanya langsung menerpa pada ketas-kertas penting yang sedang dibacanya.
Khalisa menaruh kopi ke atas meja tanpa suara, dan Yudhis langsung meraih cangkir. Yudhis menyesap isinya dari pinggiran cangkir, dan seketika bunyi lega nan nikmat terlontar dari mulutnya, sesaat setelah lidahnya dibanjiri paduan rasa sempurna kopi latte dalam racikan yang sangat pas.
“Mmmhh, ini kopi latte tereenak kedua yang pernah aku minum. Kopi buatan Bibi kali ini mirip buatan Khalisa, sangat nikmat. Sebetulanya aku ingin bilang ketagihan kopi latte buatan dia, ingin dibuatkan lagi, tapi rasanya sungkan mau kukatakan, khawatir merepotkan. Dari mana Bibi belajar membuat kopi yang racikannya mirip dengan buatan Khalisa ini?” ujarnya sembari tersenyum mendamba.
Yudhis menaruh cangkir dan mengangkat wajahnya yang sedari tadi asyik menunduk. Untuk beberapa saat Yudhis mengerjap mengamati sosok yang berdiri di dekat meja kerjanya, menyesuaikan daya kerja mata di ruangannya yang temaram. Sepasang netranya membeliak mendapati Khalisa lah yang kini berada di sana, bukan Bi Dijah, membuat Yudhis belingsatan.
“K-Khal?” Yudhis tergagap, berusaha menguasai diri yang merasa terciduk tengah curhat dan tak disangka malah mengungkapkannya pada yang bersangkutan. Membetulkan posisi duduknya yang mendadak berantakan akibat terperanjat.
“Jadi, Abang suka kopi buatanku? Kenapa tidak bilang langsung saja, Bang? Aku akan membuatkannya dengan senang hati kalau Abang meminta,” ujar Khalisa sembari merekahkan ukiran senang di wajah cantiknya menguarkan sensasi berbeda di bawah penerangan yang kurang, semakin memikat parasnya.
“Sama sekali enggak merepotkan, Bang. Seperti yang pernah kukatakan, justru aku senang punya sesuatu yang bisa kukerjakan sesuai dengan kemampuanku setelah banyak merepotkan Abang. Sama sekali tak sebanding dengan bantuan Abang buatku juga perhatian besar Abang buat Afkar. Makasih, Abang sudah baik pada anakku, pada anak yang dicemooh orang-orang karena terlahir dari seseorang yang dicap bernoda sepertiku, yang bahkan tidak disayangi semestinya oleh ayahnya sendiri,” tuturnya serak.
Khalisa meremat jemarinya sekarang, menunduk dan menyusut sudut mata yang berair. Berbicara tentang sang anak yang harus menanggung cemooh imbas dari dirinya yang juga tersemat noda bukan karena salahnya, membuat hati Khalisa tak bisa terhindar dari rasa nyeri di ulu hati, merasa berdosa pada si buah hati.
Yudhis bangkit dari kursinya, mengambilkan beberapa helai tisu dan menggengamkannya ke tangan Khalisa. Menepuk-nepuk lembut pundak Khalisa, menghibur tanpa kata sebab ikut sebah di dada. Turut merasakan apa yang dirasakan hati Khalisa, sebab Yudhis pun sempat dicemooh oleh beberapa kerabat jauh orang tua angkatnya sewaktu remaja dulu, hanya saja dia lebih beruntung karena memiliki orang tua yang selalu sigap membela dan membentenginya dengan cinta juga kasih sayang.
“Andai saja dulu sewaktu dia masih bayi kita menemukannya ya, Pi. Mami pasti akan mengadopsi anak malang itu menjadi putri kita. Sekilas saja Mami bisa menilai kalau Khalisa ini anak baik yang tidak neko-neko, tapi perjalanan hidupnya dari yang diceritakan Yudhis benar-benar miris.” Maharani yang memang sejak Khalisa masuk ke ruangan Yudhis tak tahan ingin mengintip dari dekat pintu, bergumam pelan pada Barata yang juga ikut mengintip menempel merapat di belakang punggungnya mirip cicak sedang kawin.
Seiring bertambahnya usia, Maharani maupun Barata semakin berempati tinggi terhadap anak-anak yang kurang beruntung. Sudah sepuluh tahun Barata mendirikan panti asuhan khusus anak-anak terlantar di Bali didukung oleh para orang tua juga tentunya, entah itu anak yatim piatu maupun bayi merah yang dibuang orang tuanya.
“Sebetulnya sekarang juga bisa, Mi. Kalau Mami mau dia jadi putri kita,” bisik Barata tak kalah pelan.
“Bagaimana caranya?”
“Yudhis sangat kentara menaruh hati pada janda muda ini, tapi Khalisa yang mungkin masih trauma akan sebuah hubungan jadinya tak membaca gesture putra kita yang naksir padanya. Bagaimana kalau kita turun tangan agar Yudhis bisa menikah dengan Khalisa? Dengan begitu kita mendapat dua burung sekali melempar batu, bahkan tiga. Dapat menantu buat bujang lapuk kita iya, dapat anak perempuan iya, bonusnya dapat cucu yang lucu juga iya. Ide Papi brilian kan?’
Bersambung.