
Bab 166. Ternganga
Di tengah-tengah suasana canggung, wanita paruh baya penjual ketupat sayur melenggang masuk, memesan semangkuk bubur ayam sembari melirik-lirik dua orang yang sekilas pun terlihat dari kalangan elit, juga jelalatan memandangi mobil mewah yang terparkir.
“Mobil bagus itu punya siapa? Terus pasangan yang kelihatannya orang kaya itu dari mana, Pak? Apakah warga baru di sini. Saya baru melihatnya,” ujarnya.
“Oh, mobil itu punya pak pengacara Yudhistira. Yang datang sama istri dan anaknya. Pemiliknya pun sesuai tampilannya dengan mobilnya ya, berwibawa dan bersahaja. Yang itu orangnya.” Si bapak penjual bubur mengarahkan jempol ke arah punggung Yudhis dan Khalisa. “Mereka bukan warga sini, cuma dulu istrinya pernah tinggal di sekitar kita. Saya buatkan dulu pesanannya, tunggu sebentar ya."
Reaksi impulsif Khalisa mendorong Yudhis cepat tanggap. Genggaman tangan Khalisa yang mendadak erat juga sorot mata resah pada dua wanita paruh baya yang bermunculan di area kedai, menandakan istrinya sedang merasa takut juga tak nyaman. Yudhis balas merangkumkan jemari, lalu berbisik ke telinga Khalisa, menyemangati sang istri yang kentara tiba-tiba menciut.
“Bunda Sayang, ayo lanjutkan pilih-pilihnya. Kenapa malah berhenti? Kalau kamu mau, seluruh dagangan Mbak Windy kuborong semuanya. Biar kamu leluasa milih sendiri di rumah. Yang warna biru laut itu kelihatan bagus, yang ada gambar kerangnya.” Yudhis menunjuk salah satu daster yang berserak di atas meja, menuntun Khalisa untuk kembali memilih dan mengalihkan fokus Khalisa.
Si ibu tukang bubur tertegun sejenak. Mengamati sosok cantik digandeng pria tampan yang berdiri tepat di hadapan daster-daster dagangan Windy yang berserak di salah satu meja. Si pria perlente tinggi tegap itu tampak sedang membantu memilihkan daster dengan raut wajah manis.
“Ini, Bu. Khalisa lagi ngidam dan ingin membeli daster-daster dagangan saya. Dia kepingin milih-milih leluasa jadinya salah satu meja dipakai untuk mengeluarkan dagangan saya. Juga, saya sudah mendapat izin dari suami ibu buat pakai mejanya.” Windy cepat-cepat menjelaskan bahwa dirinya memakai salah satu meja dengan persetujuan.
“Iya, Bu. Bapak yang minta Windy pakai mejanya, biar Neng Khalisa leluasa pilihnya, lagi hamil pasti kurang nyaman kalau milih-milih sambil jongkok.” Si bapak tukang bubur ikut menimpali setelah menyajikan bubur untuk si ibu penjual ketupat sayur yang pagi ini datang untuk sarapan di tempat.
Si istri tukang bubur masih tampak linglung, sementara si ibu penjual ketupat sayur mendadak berhenti mengaduk buburnya saat mendengar nama yang tak asing didengar telinganya. Ikut melirik lagi dengan tatapan berbeda sekarang, sama-sama mengerutkan kening.
“Tapi, nanti kalau ada yang mau makan bubur di sini dan meja lain sudah penuh, dagangan Windy malah menghambat rezeki kita kalau pelanggan yang datang tidak kebagian tempat duduk,” protesnya pada suaminya.
Si bapak tukang bubur mengulas senyum. “Jangan khawatir, Bu. Bubur dagangan kita hari ini sudah habis terjual.”
Si istri tukang bubur mengerutkan kening tak mengerti. “Habis terjual bagaimana? Jelas-jelas barusan ibu lihat bubur di panci masih ada setengahnya. Bapak ini pagi-pagi sudah ngelindur!” protesnya sewot .
“Iya, yang datang ke sini buat makan bubur hari ini tidak usah bayar lagi dan bebas makan sepuasnya. Semuanya sudah dibayar sama Pak Pengacara Yudhistira, suaminya Neng Khalisa, tuh yang itu.” Si bapak mengarahkan jempolnya ke arah punggung Yudhis yang sedang bercakap-cakap penuh perhatian dengan Khalisa.
“Hah. Semuanya dibayar?” imbuhnya diterjang rasa tak percaya.
“Iya, Bu. Ini uangnya.” Si bapak mengeluarkan uang dari saku celana, menunjukkannya pada istrinya. “Bubur kita hari ini benar-benar sudah habis terjual.”
Sembari mengerjap memperhatikan wajah cantik yang seperti pernah dilihatnya juga sembari mencerna penjelasan suaminya, si istri tukang bubur menanyakan keberadaan pesanannya dengan bahasa tubuh linglung.
“Windy, di mana daster pesananku?” tanyanya, bertepatan dengan Yudhis yang memanggil Windy.
“Se-semuanya? Diborong empat puluh potong begitu?” tukas Windy agak bingung sekaligus antusias.
“Iya, silakan dihitung berapa totalnya. Mau dibayar cash ataupun transfer terserah Mbak Windy lebih enaknya bagaimana.”
“Baik. Boleh sekali. Ya ampun, mimpi apa aku semalam. Dapat Rejeki nomplok.” Windy bersemangat membuka buku kecil daftar harga, tak ingat lagi untuk menjawab pertanyaan si istri tukang bubur.
“Lho, Win, kalau dijual semuanya, terus gimana dengan daster pesananku?” Si istri tukang bubur yang masih kebingungan menyela Windy yang mengeluarkan ponselnya hendak menghitung total jumlah yang diminta Yudhis.
“Pesanan buat ibu aku bawakan besok siang saja ya. Lagi pula ibu kan belinya kredit tanpa mau kasih DP, jadi saya dulukan yang cash. Namanya juga jualan, Bu. Sama-sama penjual ibu pasti paham mana yang harus diprioritaskan, yang cash tentu harus diutamakan.”
“Bang enggak usah dibeli semuanya. Kebanyakan, bentar lagi aku pasti selesai milih kok,” bisik Khalisa hendak menghentikan niatan suaminya.
“Enggak apa-apa, Sayang. Setelah kamu puas memilih, sisanya bisa diberikan sama Ceu Wati dan Bi Dijah. Atau mungkin kamu mau bagi-bagi buat ibu-ibu beruntung yang ada di sini. Bukannya dulu kamu tinggal di daerah ini? Barangkali kamu ingin berbagi pada tetanggamu dan warga sekitar di daerah sini. Selain menjaga silaturahmi, juga sekalian larisin dagangannya Windy. Mungkin di antara yang sedang makan bubur di sini ada tetangga akrab yang kamu kenal?”
Suara Yudhis lantang terdengar. Yudhis memang sengaja menaikkan nada suaranya. Menohok dengan kata tetangga akrab karena pada faktanya kebanyakan memusuhi Khalisa. Setelah beberapa saat lalu mengobrol banyak hal dengan Windy tentang masa lalu Khalisa yang baru diketahuinya terutama tentang kerasnya penghakiman warga di sini pada cela noda sang istri yang sama sekali bukan salahnya, keinginan Yudhis membela dan melindungi Khalisa semakin berkobar, lebih dari sebelumnya. Karena ternyata bukan hanya keluarga mantan suaminya saja yang tidak manusiawi memperlakukan Khalisa, tetapi juga warga sekitar.
Khalisa mengulas senyum perih. “Tapi sayangnya enggak pernah ada tetangga yang mau akrab denganku. Cuma Windy yang mau berteman denganku. Itu pun dari kampung sebelah, bukan warga sini,” sahutnya, sembari mengedarkan pandangan kepada semua orang yang sedang berada di kedai bubur.
“Unda, Papa, Af udah mamamnya. Cudah abis bubulnya.” Afkar yang tadi ingin melanjutkan makan sendiri dan menolak disuapi, menghambur pada Yudhis seraya mengangkat kedua tangannya meminta digendong. Yudhis segera memenuhi permintaan si balita lucu yang mulutnya belepotan itu, menyeka mulut Afkar penuh sayang menggunakan sapu tangannya.
“Pinternya anak Papa. Sudah bisa makan sendiri sampai habis.” Yudhis memuji tulus, mengapresiasi usaha Afkar.
“Kan sudah mau jadi Kaka, Pa. Jadinya Afkar tambah pinter ya, Nak,” sambung Khalisa yang kini dirangkul Yudhis.
Si istri tukang bubur juga si ibu penjual ketupat sayur memucat seketika. Kerongkongan mereka mendadak kerontang. Si istri penjual bubur berpegangan pada suaminya, sedangkan si penjual ketupat sayur menjatuhkan sendok yang dipegangnya.
Sedari tadi telinga mereka seolah lambat mencerna saat nama Khalisa disebut berulang kali lantaran Khalisa yang mereka ketahui tidak bersinar seperti ini, sangat berbeda jauh seratus delapan puluh derajat. Namun, saat Khalisa berucap lebih keras dan Afkar yang menghambur pada pasangan yang mencuri perhatian itu, seketika mereka tersadar, bahwa sosok bak berlian yang hadir di tengah-tengah mereka didampingi pria luar biasa itu adalah Khalisa yang dulu mereka caci maki, yang mereka cap dengan label rendahan kotor hina dina.
“Kha-Khalisa?”
Bersambung.