
Bab 21. Lepaskan Aku
Seorang wanita umur tiga puluhan berpapasan dengan Khalisa begitu ia menuju halaman belakang, di mana dirinya berniat berbicara berdua dengan sang suami yang telah menduakannya. Mereka nyaris bertabrakan.
“Maaf, Neng. Ceceu kurang hati-hati,” ucapnya pelan dan sopan, membungkuk beberapa kali. Sesekali melirik prihatin pada Khalisa yang sembap dan pucat.
“Anda siapa?” tanya Khalisa. Di rumah ini mendadak begitu banyak orang yang tak dikenalnya membuat Khalisa merasa terasing seorang diri di tempat yang selama empat tahun ini menaunginya dari panas dan hujan, kendati hatinya tak mendapat peneduh serupa. Bermodalkan kesabaran diluaskan serta senyum si buah hati dibumbui secuil harapan janji cinta dari sang suami yang pernah ingin menjadikannya ratu hati, itulah yang selama ini menjadi penyejuk jiwanya.
“Saya Ceu Wati, pembantu pribadi Non Manda, Neng,” jawabnya tetap sopan dan hati-hati, amat kentara takut salah ucap, terlihat banyak tekanan dalam pekerjaannya.
“Khal, kamu enggak usah banyak tanya sama Ceu Wati. Jangan buang-buang waktu, kita perlu bicara hal penting kan?” potong Dion yang muncul di belakang punggung Khalisa. “Ceceu ke depan saja, turunkan barang-barang Manda dari bagasi dan angkut ke kamar depan. Kamar yang paling besar,” titah Dion.
Dion seakan mati rasa, dibutakan harta, tahta, kasta dan puji puja makhluk fana. Sama sekali tak meraba perasaan wanita yang lebih dulu diperistrinya yang sudah pasti kian terluka. Mengingat kamar depan pernah diinginkan Khalisa dulu ketika hamil Afkar, hanya saja Wulan bersikeras tak mengizinkan, berdalih kamar depan yang paling besar dan bagus itu sejak dulu memang dibuat untuk kamar tamu.
Menelan bulat-bulat semua duri yang menghujaninya, Khalisa berderap lebih dulu menuju halaman belakang, mendorong kasar pintu hingga berdentam sebagai ajang pelampiasan impitan nyeri di jiwanya.
“Khal, sudah kubilang kamu harus tenang dulu kalau memang ingin bicara serius denganku,” protes Dion.
“Apa? Mas minta aku tenang?” Khalisa berdecih perih, sikap yang selama ini tak pernah muncul dari si lembut dan lugu Khalisa.
“Ya, aku minta kamu tenang supaya kita bisa berkomunikasi dengan baik,” timpal Dion cepat sembari mondar-mandir dan berkacak pinggang.
“Beritahu aku, memangnya di dunia ini wanita mana yang masih bisa bersikap tenang saat mendadak tahu dirinya dimadu? Tiba-tiba suaminya membawa istri mudanya pulang dalam keadaan hamil?” tuntutnya mendesak Dion yang kembali tutup mulut.
“Jangan diam saja, katakan padaku! Istri mana yang masih bisa tenang saat tahu suaminya menduakan cinta dengan teganya di belakang punggungnya! Masih tetap waras dan enggak mati mendadak saja sudah untung!” teriaknya tepat di depan wajah Dion. Meluapkan kobaran amarah. Nyeri di hati tak terperi melecut Khalisa yang lembut dan penurut kini membangkang.
“Enggak usah berlebihan lah, Khal. Pelankan suaramu! Jangan kekanak-kanakkan!” geram Dion, mengusap mulutnya kasar.
“Berlebihan? Aku enggak peduli! Mana janji Mas yang akan selalu menggenggam tanganku dan takkan menghiraukan akan padangan orang-orang terhadapku? Mana Mas Dion yang dulu berkata hanya cinta aku, bersumpah setia untukku? Aku bahkan tetap mengabdi pada keluarga ini dengan sepenuh hati demi kamu meski ibu tak pernah memandangku setara. Berharap suatu hari, pelangi yang kunanti melengkung manis saat kita menua bersama. Aku tahu, kita terburu menikah karena aku yang meminta demi bisa lepas dari tempat asalku. Tapi, bukankah saat itu aku pun enggak memaksa dan Mas pun tahu betul asal-usulku? Lantas, kenapa sekarang dengan teganya Mas mencela kelemahan istri Mas sendiri! Di sini sakit Mas, sakit!” Khalisa meracau, menepuk-nepuk dadanya sendiri, sebah luar biasa.
“Aku bosan, Khal. Aku bosan!” sembur Dion dengan nada naik beberapa oktaf.
“Mas bilang apa? Bosan?” ujar Khalisa mengambang, tak mempercayai pendengarannya.
“Ya, aku bosan dipergunjingkan, aku capek melulu direndahkan, aku malu dibicarakan di belakang lantaran asal muasalmu. Semula kukira sanggup menghalau semua itu, tapi ternyata sulit. Aku juga ingin disanjung, ingin dihormati, dan berkat Manda aku mendapatkan itu semua.”
Nelangsa menerjang, tercabik untaian kata dari mulut pria yang dicinta tak ubahnya bak sebilah pedang merajam raga tanpa ampun. “Jadi, maksudnya, Mas menyesal pernah memutuskan menikah denganku, begitu?”
Dion lagi-lagi bungkam, hanya gulir netra resahnya yang terpantul di hamparan tirai air mata Khalisa.
Sembilu lara menancap memperdalam luka hati Khalisa yang masih basah. Andai punya tempat pulang, mungkin ia akan memilih untuk menyingkir dan membawa Afkar dari rumah tak ramah yang kini menjadi neraka baginya. Namun, di dunia ini Khalisa hanya sendirian, tanpa keluarga dan sanak saudara. Hanya Dion lah rumahnya, dan kini seseorang yang dijadikannya rumah tak lagi berpihak padanya.
Kecamuk tanya datang silih berganti. Tak tahu harus bagaimana, harus ke mana. Khalisa yang terluka, bergelut dengan kekalutan sebatang kara. Meremas ujung dasternya sendiri, Khalisa menguatkan dirinya mengatakan kalimat yang dalam mimpi pun tak berani mengucapkannya. Terasa perih mengiris sekeping hatinya yang lara. Meski setelah ini entah apa yang harus dilakukannya.
“Kalau aku sudah enggak berarti lagi buat Mas. Kenapa Mas gak menceraikanku saja? Untuk apa tetap mempertahankanku di sisimu kalau hanya untuk disakiti tak henti seperti ini!” jeritnya pilu. “Lepaskan aku, biarkan aku pergi dengan anakku. Aku enggak sanggup lagi melanjutkan semua ini. Aku relakan Mas mengoyak cintaku. Milikilah kehormatan yang Mas mau, dan lepaskan saja aku yang hanya memberi malu," sambung Khalisa dengan bibir bergetar, diiringi buliran bening menderas berjatuhan membasahi pipi.
Rahang Dion mengetat saat kalimat tak terduga meluncur mulut si lugu sebatang kara itu.
“Jaga bicaramu. Jangan besar kepala! Terima saja semua ini. Lagi pula andai kuceraikan pun kamu mau pergi ke mana? Mau membawa Afkar terlunta-lunta? Semua orang menghujatmu, hanya di rumah ini tempat yang masih mau menerimamu ingat itu!”
Dion menggunakan celah lain untuk melemahkan dan menundukkan Khalisa. Masih tak rela melepas wanita berparas ayu nan sendu ini, tak mampu meraba hatinya sendiri yang sesungguhnya masih menyimpan rasa cinta, terkubur terlalu dalam di sanubari, sulit digali sebab enggan mengakui.
“Seharusnya memang sejak lama kamu menceraikan Khalisa! Dia itu cuma bikin malu!” suara Wulan menggelegar di ambang pintu. Datang dengan ekspresi berang.
“Tolong, Bu. Ibu sudah janji untuk yang satu itu hanya aku yang berhak memutuskan!” Dion menyela cepat. “Jangan memperkeruh suasana,” pintanya sedikit memaksa pada Wulan, tak seperti biasanya. Memijat pelipisnya sendiri.
“Yakin kamu akan terus begini? Lihat ini, selama kita pergi, dia pulang malam diantar pria. Pasti dia kelayapan mencari kesempatan dalam kesempitan!” Wulan memberikan ponselnya, menunjukkan rekaman yang baru saja diberikan tetangganya.
“Turunan wanita nakal ya begini, murahan!” lagi, Wulan mencaci, memanaskan situasi.
Raut wajah Dion mengeras tak terima. Mempersembahkan tatapan menusuk penuh cela pada Khalisa. “Kamu? Berani-beraninya!”
Bersambung.