Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
TAMAT


Ending


Kediaman Yudhis di pagi hari ini tampak hiruk-pikuk. Banyak orang berjibaku dengan tugasnya masing-masing. Garasi tertutup dibuka folding gatenya. Paviliun samping yang cukup luas disulap lebih asri, teduh lagi nyaman. Didekorasi full dengan konsep identik hajatan.


Orang-orang yang berpakaian rapi berhijab serta berbaju koko mulai berdatangan. Memadati area rumah yang sudah didekorasi dan dilapisi karpet tebal nan empuk. Keluarga inti dari Bali dan Jakarta turut hadir. Rekan-rekan Yudhis semuanya diundang termasuk Aloisa. Para warga sekitar, juga keluarga tukang bubur serta keluarga Windy turut diundang. Tak ketinggalan juga para tetangga Khalisa di Buah Batu dulu, walaupun yang datang hanya beberapa, yang datang kebanyakan yang kepo dengan kehidupan Khalisa sekarang, sedangkan sisanya memilih tidak datang karena merasa malu.


Paduan kain satin berhiaskan bunga-bunga, dirangkai dari sepanjang pintu masuk hingga ke podium kecil yang dipenuhi balon dan tumpukan kado. Kado disiapkan sebagai hadiah apresiasi kedua orang tuanya juga keluarga besar Lazuardi serta kerabat dan sahabat kepada Afkar yang telah bersedia disunat secara sukarela.


“Bi, menu katering makanan utama yang kupesan sudah datang semua?” Khalisa yang kini perutnya semakin bulat dan padat mendekati Bi Dijah di area meja prasmanan.


“Hidangannya sudah datang semuanya, Neng. Barusan sudah Bibi Periksa. Tinggal ditata sama petugas dari tempat katering. Dan buat stand jajanan khas Bandung tinggal Siomay yang belum datang,” jawab Bi Dijah yang sedari tadi suka sekali bercermin tak tahu tempat, saking senangnya karena hari ini dia dan Ceu Wati memakai gamis berukat mahal yang dibelikan Khalisa khusus untuk acara syukuran atas disunatnya Afkar juga tujuh bulanan kandungan Khalisa.


“Souvenir juga sudah siap semua?” Khalisa bertanya lagi, ingin memastikan semua persiapan tidak ada yang kurang.


“Sudah siap, Neng. sebaiknya Neng duduk saja. Semuanya dijamin beres. Itu perut sudah gundal-gendol kata orang Sunda mah. Mending temenin den ganteng.”


Khalisa mengusap perut buncitnya, senyumnya mengembang di pipinya yang lebih berisi sekarang. “Oke deh, aku serahkan sama Bibi. Tapi, aku mau minta tolong makanan khusus yang kupesan untuk keluarga dibawa masuk saja ke ruang makan. Biar Mami sama Papi makannya lebih leluasa nanti.”


Suara maskulin penuh sayang memanggil-manggil namanya. Khalisa menoleh dan terlihatlah pangeran bermobilnya datang menghampiri.


“Ibu hamilku yang cantik, sudah kubilang aku ingin kamu jadi ratu hari ini dan jangan pedulikan urusan apapun. Cukup duduk manis.” Yudhis yang sudah rapi dan tampan dalam balutan baju koko merangkul Khalisa posesif.


“Aku cuma ngecek ulang saja, Bang. Takutnya ada yang kurang. Eh, di mana Afkar? bukannya dari tadi pengen terus sama Abang?” Khalisa celingukan mencari-cari keberadaan putra gembulnya.


“Seperti biasa, kalau sudah sama papi semua orang tereliminasi. Afkar lagi nempel sama papi sambil merengek minta digendong. Ini sudah mau jam sembilan. Sebentar lagi acara dimulai. Ayo, kita duduk di dekat tempat Pak Ustadz.”


Khalisa mengangguk. Wajahnya ceria gembira. Menggandeng Yudhis tanpa sungkan dan malu lagi, memperlihatkan sedikit kemesraan tak terlalu berlebihan meskipun ingin.


Syukuran diawali dengan membaca ayat-ayat suci kalamullah, membaca sholawat, kemudian do’a bersama disusul tausiyah. Acara berlangsung khidmat. Khalisa mengaminkan setiap do’a dengan serius. Menitikkan air mata haru. Tak pernah menyangka dirinya yang selalu dinistakan kini diratukan. Masih terasa seperti mimpi baginya. Ia menanamkan dalam kepala juga hati yang harus dilakukannya sekarang adalah banyak-banyak bersyukur dan memelihara diri supaya tidak tergerus kesombongan.


“Selamat Khal. Semoga kandunganmu selalu sehat, lancar sampai lahiran nanti. Juga semoga Afkar selalu sehat, panjang umur, makin pinter setelah disunat, juga jadi anak kebanggaan.” Windy menghampiri Khalisa begitu sesi makan bersama dibuka.


“Makasih banyak, Win. Makasih kamu sudah datang.” Khalisa jelas sangat gembira Windy memenuhi undangan. “Ayo, silakan dicicipi hidangannya. Semoga suka.”


“Nanti saja, Khal. Nunggu agak kosong dulu. Masih penuh yang antri. Lagian aku masih pingin ngobrol sama kamu,” kekeh Windy.


“Mau ngobrol apa? Yuk duduk di sana.” Khalisa menarik Windy duduk si salah satu kursi yang terdapat di bawah pohon rindang.


Windy termenung sejenak. Seolah sedang merangkai kata di kepalanya. “Khal, sebenarnya dari tiga hari yang lalu sewaktu kamu ngundang aku lewat telepon aku mau ngabarin beberapa hal. Cuma enggak enak, takut ngeganggu rencana acara pentingmu. Tapi kurasa kamu harus tahu,” tutur Windy serius.


“Ada apa, Win. Ngomong aja.”


“Kamu tahu kabar Amanda?”


Khalisa menggeleng. “Enggak sama sekali.”


“Perusahaannya gulung tikar karena izin koperasinya ternyata ilegal. Semua uangnya habis yang penting enggak masuk bui. Kabarnya Amanda dan ibunya pulang ke Kalimantan dan jadi petani di lahan milik orang lain.Juga aku ada kabar tambahan.”


“Apa itu?”


“Kabar ini aku pun baru tahu minggu-minggu kemarin. Bu Wulan ternyata terkena stroke sejak berbulan-bulan lalu. Kabarnya dibawa ke Cilacap sama Dania, ke kampung halamannya Bu Wulan dulu karena Dania enggak mau mengurus Bu Wulan dengan alasan sibuk bekerja di ibukota. Berarti sewaktu kamu cari-cari aku pingin beli daster, saat itu Bu Wulan sudah stroke. Kabar lainnya adalah tentang mantan suamimu katanya divonis terkena HIV, dia sakit keras tanpa ada yang menjenguk karena Dania tak pernah peduli lagi dan Bu Wulan tak bisa pergi ke manapun. Kamu tahu enggak? Dengar-dengar Dania jadi per*k. Aku tahu kabar perihal Dion dari tetanggaku yang bekerja di lapas, katanya dia juga sering meracau ingin bertemu Afkar.”


Windy membisikkan kalimat di bagian akhir dan seketika Khalisa membekap mulut, terkaget-kaget. Tak menyangka akan nasib buruk orang-orang yang dulu merundungnya kini sangat jauh dari ekspektasi yang dulu digadang-gadang mereka.


*****


“Bang, sudah selesai ngobrolnya?”


Khalisa yang seharusnya sudah tidur, duduk di sisi kasur menunggu Yudhis selesai berbincang dengan keluarga besar hingga larut.


“Aku sengaja nunggu Abang. Mau minta sesuatu.”


Yudhis mengenyakkan diri di sebelah Khalisa. “Mau minta apa, Istriku?” ujarnya merayu, menjawil dagu Khalisa gemas.


“Aku... aku ingin membawa Afkar bertemu Mas Dion. Maukah Abang mengantar kami?” pinta Khalisa lambat-lambat. Jujur saja agak tak enak hati, takut Yudhis tersinggung atau salah paham.


“Kabarnya dia sakit keras, dirawat di RS khusus para napi. Kata Windy, Mas Dion ingin ketemu Afkar. Aku harap Abang enggak salah paham. Aku hanya takut kemungkinan waktu yang dimilikinya enggak lama lagi dan aku enggak mau dihantui rasa bersalah nantinya karena tidak mempertemukan Afkar dengan Mas Dion di saat masih ada waktu. Bagaimanapun ingin kudustakan, pria brengsek itu tetap ayah kandung Afkar.”


Yudhis terdiam, tak langsung merespons. Menelisik bola mata Khalisa, lantas tatapannya melembut. Mencerna kalimat panjang lebar Khalisa dengan pikiran jernih, bukan dengan emosi.


“Kita pergi lusa. Di Sabtu sore.”


“Beneran boleh, Bang? Enggak marah?”


Yudhis terkekeh, mencium kening Khalisa.


“Iya, beneran boleh. Orang sakit wajib dijenguk oleh orang yang sehat, kewajiban sesama manusia pada manusia lainnya. Juga, aku memang papanya Afkar, tapi Dion akan selalu menjadi ayahnya.”


Jawaban bijak Yudhis membuat Khalisa terharu bukan main, selalu merasa begitu beruntung karena semesta mempertemukan dengan Yudhis di titik terendah hidupnya. Menolongnya, mengangkat derajatnya. Memeluk sang suami penuh syukur yang bertasbih merdu dalam kalbu.


“Makasih, Bang. Aku sebenarnya ingin meminta hal lain lagi. Tapi nanti saja setelah melahirkan. Supaya lebih aman,” ucap Khalisa yang menengadah di pelukan Yudhis.


“Kenapa enggak sekarang saja?”


“Aku ingin mencari keberadaan Mbak Tya. Yang pernah kuceritakan pada Abang, yang selalu melindungiku sewaktu aku di bawah kuasa Jordan.”


“Masih bisa diusahakan walaupun mungkin agak sulit. Karena Black Paradise dan jaringannya sudah ditutup pasca penggerebekan penangkapan atasannya Ghaisan. Si pria buncit yang pernah hendak membayarmu tempo hari. Aku sudah pernah memberitahumu kan kalau Jordan melarikan diri dengan membawa beberapa wanita malamnya dan salah satunya Tya. Dan kemungkinkan pergi jauh dari daerah Bandung.”


“Iya, Bang. Abang sudah pernah bilang. Tapi aku tetap berharap, semoga aku bisa dipertemukan lagi dengan Mbak Tya untuk mengucapkan terima kasih.”


“Kalau Allah mengizinkan, InsyaAllah kamu akan dipertemukan lagi dengan Mbak Tya. Tentang keluarga kandungmu, apakah kamu masih ingin mencarinya selain mendiang ibumu?”


“Sudah cukup, Bang. Yang penting aku sudah tahu di mana pusara Ibuku. Walaupun aku benci dengan kenyataan bahwa dia memang seorang bunga malam, sesuai dengan perkiraan orang-orang.”


“Tentang tes DNA, apakah juga sudah cukup membuatmu tenang?” ujar Yudhis setengah merayu.


Ya, Khalisa sempat resah. Takut ia dan Yudhis adalah saudara kandung seayah setelah mengetahui ibunya adalah wanita nakal. Ia baru bisa tenang dan bersedia disentuh intim lagi setelah hasil tes keluar dan menyatakan mereka tidak memiliki keterkaitan biologis sama sekali.


“Sudah lebih dari cukup,” sahut Khalisa penuh terima kasih.


“Kalau begitu. Sekarang saatnya mencukupkanku. Karena aku kekurangan dirimu dalam diriku sebab tidak bisa memilikimu selama beberapa malam.” Yudhis menggesekkan hidung mancungnya di ujung hidung Khalisa.


Khalisa tersenyum manis. “Kalau begitu, miliki aku dan penuhi dirimu, Papa Sayang.”


Keduanya kembali melebur dalam cinta yang kian membara. Terbungkus penerimaan segala ketidaksempurnaan cela dan noda. Mensyukuri lebih dan kurangnya jiwa raga. Berharap ikatan yang semula tercipta tanpa rencana, menjadi perwujudan rencana indah yang terikat kuat tak pernah terputus lagi sampai di jannah-Nya.


TAMAT.


Alhamdulillah wasyukurillah. Akhirnya kita sampai di penghujung kisah ini. Terima kasih yang tak terhingga tercurah dariku untuk seluruh pembacaku tersayang yang telah menemani perjalanan kisah Yudhis-Khalisa dari awal sampai akhir. Berharap, semoga ada hikmah baik yang bisa dipetik dari cerita ini. Bukan hanya sekadar bacaan hiburan semata.


Terima kasih juga atas semua cinta dan dukungan kalian berupa vote, hadiah, like komentar dan lainnya untuk kisah-kisah yang kutulis. Apresiasi kalian sangat berarti buatku.


Sampai jumpa lagi di cerita-ceritaku berikutnya. Follow instagramku untuk mengetahui info-info terkini seputar cerita yang kutulis @Senjahari2412


Love & Hug 💞🤗


Senjahari_ID24