Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Yudhistira Lazuardi


Bab 72. Yudhistira Lazuardi


Hening membentang, Yudhis mengamati Khalisa tanpa kata. Sorot matanya jelas berbinar penuh sayang. Inginnya mengelus kepala Khalisa dan menenggelamkannya ke dalam dekapan. Ingin menghibur dalam balutan tanggung jawab seorang pria yang mengasihi seorang wanita juga si balita tak berdosa yang terbaring memejamkan mata.


“Bang Yudhis.”


Suara pelan Khalisa yang memanggil namanya menarik Yudhis dari pandangan terpakunya pada Khalisa juga Afkar.


“Hmm, ada apa?” sahut Yudhis cepat tanggap. Menghampiri lebih dekat.


Khalisa tampak ragu-ragu untuk berkata, melihat Yudhis sebentar kemudian menunduk lagi, terus saja begitu berulang-ulang. Terlihat ingin mengatakan sesuatu namun enggan.


“Kenapa? Kamu mau ngomong apa?” Yudhis yang terlatih cepat membaca situasi langsung dapat menangkap bahasa tubuh Khalisa, terlihat jelas ingin mengatakan sesuatu padanya namun terbendung rasa sungkan.


“Be-begini, Bang. Aku ada perlu sama Abang dan cuma sama Abang aku berani bilang begini. Aku tahu mungkin aku bakal dicap tak tahu diri dan terus saja merepotkan, tapi bisakah kita membahas hal itu nanti setelah Afkar membaik?” ujarnya sedikit membingungkan. Kalimat Khalisa yang tidak merampungkan maksudnya membuat alis tebal Yudhis terkikis celahnya, hampir bertemu di pangkal hidung mancungnya saat mengerutkan dahi sebab tak paham.


“Ada perlu apa? Bilang saja, jangan sungkan. Aku akan selalu berusaha membantu semampuku, membantu orang itu lebih utamanya janganlah setengah-setengah, saling membantu dalam kebaikan terutama bagi yang membutuhkan adalah kewajiban sesama manusia.”


Nada bicara Yudhis yang selalu mengalun menenangkannya memanglah selalu berhasil membuat Khalisa merasa tenteram. Merasa terlindungi, menguarkan rasa aman yang sebelumnya tidak pernah Khalisa dapatkan dari sosok yang seharusnya melindunginya.


“Boleh aku pinjam uang?” kata Khalisa tiba-tiba. “Seratus lima puluh ribu.”


“150 ribu? Untuk?” tanya Yudhis.


“Aku … aku ingin membeli susu yang biasa diminum Afkar beserta botol barunya, juga membeli biskuit keju kesukaannya. Sebetulnya harga susu ukuran kecil biasanya di kisaran lima puluh ribuan dan biskuitnya lima belas ribu, tapi botol susu baru banderolnya agak lumayan. Saat bangun nanti aku khawatir Afkar menangis karena haus ingin minum susu, dan biasanya Afkar selalu mau makan biskuit keju khusus balita kalau sedang jelek selera makannya. Tapi, saat ini aku enggak punya uang untuk membelinya. Bisakah Abang pinjamkan aku uang sekarang? Tentang bagaimana cara membayar semuanya termasuk biaya perawatan terbaik yang diatur Abang buat Afkar, dalam waktu dekat aku pasti belum punya uang untuk membayar, tapi aku punya tenaga sebagai andalan. Bukan hanya pekerjaan rumah tangga yang bisa kukerjakan, memotong rumput halaman belakang juga menebang pohon pun aku sanggup,” jelasnya teguh pendirian. Bola mata sembapnya menatap Yudhis penuh tekad.


Yudhis membalas pandangan dua bola mata sendu itu. Khalisa menatap Yudhis penuh tekad seorang ibu yang memperjuangkan anaknya, sedangkan Yudhis menatap penuh kehangatan juga rasa iba. Si tampan bijaksana itu tidak ingin meremehkan tekad Khalisa yang sedang berjuang keras demi anaknya. Sebagai orang berpunya sudah tentu nominal 150 ribu amat kecil baginya, tetapi dia tidak serta merta melempar uang tersebut dan mengatakan nominal itu jumlah sepele atau mengatakan memberi saja meski dia sangat lebih dari mampu. Yudhis lebih ingin menghargai upaya Khalisa, tidak mau mematahkan kemampuan daya juang Khalisa yang sedang mengais-ngais kekuatan.


“Tapi, memangnya Abang enggak keberatan beli barang-barang yang kusebutkan tadi? Enggak malu? Abang kan bukan ibu-ibu?” imbuh Khalisa ragu.


“Huh? Memang apa salahnya?” Yudhis menukas tak paham.


“Dulu sewaktu Afkar masih bayi, mantan suamiku pernah menolak saat kumintai tolong membelikan botol baru yang kuinginkan karena mertuaku membelikan yang jenisnya kurang lembut. Tapi dia bilang barang-barang begini seharusnya wanita yang membeli, tidak cocok dan memalukan kalau pria yang membeli, begitu pula kata mertuaku, sehingga seringnya ibu mertuaku yang berbelanja dan aku hanya diberikan kepercayaan membeli susunya saja yang mereknya direkomendasikan bidan terdekat.”


Yudhis mendadak naik darah mendengarnya. Kepalanya mendidih. Seorang ayah begitu perhitungan dan mengatakan malu ketika dimintai tolong membelikan botol susu untuk darah dagingnya sendiri, membuatnya ingin menghantarkan bogem mentah bertubi-tubi ke wajah mantan suami Khalisa.


Terlebih Yudhis tumbuh di lingkungan orang tua yang berkasih sayang penuh kehangatan. Dia masih ingat kenangan manis masa kecilnya, bagaimana Barata sang ayah menyayangi dan mencintai anak-anaknya. Tidak pernah membedakan antara dirinya yang anak adopsi maupun Erlangga yang anak kandung. Tak segan membeli popok dan keperluan bayi ketika Erlangga masih bayi sewaktu mereka berlibur ke Singapura. Ibunya menunggu di hotel bersama sang adik dan ayahnya pergi ke supermarket sembari menggendongnya memakai kain gendongan padahal saat itu usianya sudah lima tahun, tidak membiarkannya berjalan kaki dan mengatakan takut Yudhis hilang di negeri orang.


Membuang napas kasar, Yudhis berusaha meredam emosi yang mendadak mencuat. “Aku tak keberatan sama sekali. Tidak ada batasan pantas atau tidak mengenai jenis barang yang dibeli ketika berbelanja. Semuanya sama saja antara pria dan wanita, yang penting membayar, bukan mencuri. Dan yang perlu kamu ingat, aku bukan mantan suamimu walaupun kami sama-sama pria,” jelas Yudhis, tetap memasang senyum selama bertutur.


“Ayo ketikan mereknya. Aku akan membelinya sekarang juga, buat berjaga-jaga, nanti Afkar keburu bangun.”


Melihat ketulusan pada seraut wajah tampan di hadapannya, Khalisa menuruti permintaan Yudhis, mengetikkan dengan teliti dan beberapa kali mengingatkan merek susunya, khawatir Yudhis salah membeli.


Hanya butuh waktu satu jam saja, Yudhis sudah kembali dengan empat kantung besar belanjaan. Khalisa sampai melongo dibuatnya. Barang-barang pesanannya hampir sepuluh kali lipat banyaknya dari yang diminta. Cukup untuk dua sampai tiga bulan memenuhi kebutuhan Afkar.


“Bang, ini enggak salah? Kenapa sebanyak ini? Gimana aku bayarnya?” Khalisa langsung syok, dihitung sekilas saja, banyaknya belanjaan ini sudah pasti hampir menyentuh harga dua jutaan. Kakinya lemas, bingung cara membayar.


Yudhis menggoyangkan telunjuk di depan wajahnya. “Belanjaan yang kamu inginkan aku beli sesuai permintaanmu, seharga 150 ribuan. Sedangkan sisanya adalah bingkisan dariku. Lumrahnya orang sakit sering ditengok sembari dibawakan bingkisan sebagai hadiah penyemangat untuk pasien, jadi sisanya adalah buah tangan dariku, anggap saja aku menjenguk,” sahutnya santai.


Yudhis malah menata beberapa barang belanjaan ke atas meja dekat ranjang pasien. Memeriksa dispenser juga menaruh beberapa kotak minuman kesehatan yang turut dibelinya ke dalam kulkas yang disediakan di ruang perawatan. Memilih menyibukkan diri dan bercakap-cakap dengan Aloisa yang baru masuk kembali ke kamar, guna menghindari rentetan pertanyaan wanita cantik yang mengusik hatinya. Berpura-pura tidak melihat dan tidak merasa saat Khalisa terus menatapnya lekat.


Bersambung.