Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Mulai Menuai


Bab 119. Mulai Menuai


Di persidangan kedua dan ketiga posisi Dion kian terpojok. Peluang menang semakin unggul di pihak Khalisa, membuat Dion kelimpungan saat ambisinya ingin merebut Afkar yang berniat digunakan sebagai pion agar Khalisa kembali menghamba padanya terus menipis peluangnya.


Kedatangan Wulan ke kantor di sore harinya melengkapi kerunyaman, menjadikan suasana hati Dion yang sedang kacau balau bertambah buruk lagi.


Wulan datang sembari menangis-nangis setelah mendapat berita yang membuatnya terkejut juga syok. Dania dilarikan ke rumah sakit dari klinik aborsi satu jam lalu, hampir meregang nyawa. Teman kuliah Dania yang memberi kabar pada Wulan, teman yang turut mengantar Dania menggugurkan kandungan.


“Ibu harus bagaimana, Dion? Ibu butuh uang dalam jumlah yang banyak sekarang. Selain untuk membayar biaya rumah sakit yang menggunakan fasilitas privat VVIP, kita juga butuh uang untuk membungkam mulut orang-orang serta pihak kampus, supaya aib Dania yang memalukan ini bisa diredam secepatnya agar tidak menjadi buah bibir. Pokoknya kamu harus mengusahakan, Ibu tidak mau dicemooh dan dihina orang-orang kalau sampai berita ini tersebar. Ini juga demi masa depan adikmu, Dania tetap harus melanjutkan kuliah di kampusnya sekarang sampai menjadi sarjana bagaimanapun caranya, jangan sampai terjegal karena hal ini. Mau ditaruh di mana muka ibu nantinya. Sebagai anak sulung dan juga Kakak Dania, kamu mutlak harus membantu menyelesaikan masalah ini.”


Wulan merengek memaksa. Tidak tanggap maupun peduli dengan air muka Dion yang menggelap sekarang. Matanya berkilat tajam. Setelah jabatan tinggi juga berlimpah materi Dion bukan lagi Dion yang dulu manut saja apa kata ibunya. Memberontak, membangkang dan semakin congkak setelah tergerus yang namanya kekuasaan juga rasa bosan diperbudak oleh wanita yang berstatus ibunya.


“Kenapa Dania bisa sampai hamil? Dia itu seharusnya belajar dengan benar setelah kubayar biaya kuliahnya juga kupenuhi uang sakunya!” bentak Dion marah. Menggebrak meja dan membanting asbak.


“Kenapa kamu malah jadi bentak-bentak ibu? Mana Dion yang dulu? Mana Dion yang selalu patuh pada Ibu!” Wulan menukas berang tak terima, suaranya meninggi.


“Ibu juga ngapain saja sih kerjanya? Punya anak gadis satu saja tidak diawasi dan diurusi dengan benar, dibiarkan bergaul liar, hamil tidak jelas dan sekarang malah menggugurkan kandungan!” cecarnya murka sembari mendaratkan pinggulnya kasar ke atas sofa.


“Ibu juga tidak tahu kenapa jadi begini. Dania itu anak yang rajin belajar dan pintar, terbukti dari nilai akademiknya yang selalu bagus. Ini pasti karena salah pergaulan, bukan salah Ibu! Sekarang pokoknya kamu harus menyiapkan uang yang banyak sesuai permintaan Ibu. Jangan lupa, Ibu juga turut membantu hingga kamu sekarang berada di posisi ini, di posisi berkuasa. Kamu harus ingat itu, jangan jadi orang yang tidak tahu balas budi!”


“Balas budi? Memangnya siapa yang lelah dan capek mengerjakan pekerjaan di jabatan tinggiku ini? Ibu kah yang bekerja? Tetap saja aku yang capek dan stres! Harus mengurusi dua bidang usaha belum lagi harus memanjakan Amanda yang sama sekali enggak pernah kucintai! Aku tak peduli dengan balas budi karena Ibu sudah memerasku selama ini. Sewaktu ditangkap polisi pun aku harus mengeluarkan banyak rupiah untuk membebaskan ibu dan Dania tanpa sepengetahuan Amanda, lantaran Amanda sudah tidak respek lagi terhadap kalian. Juga Amanda akan curiga kalau aku terus-terusan memakai uang perusahaan dalam jumlah yang banyak. Tentang aib Dania biarkan dia tanggung sendiri, supaya tidak manja dan tahu enaknya saja! Hanya biaya kuliah, biaya rumah sakit kelas dua dan biaya bulanan untuk makan yang masih akan kupenuhi. Selebihnya tidak akan lagi!” Dion pergi dari ruangannya setelah berseloroh panjang lebar, tak memedulikan teriakan ibunya yang marah juga putus asa.


“Dion, kamu kenapa jadi begini? Kamu enggak boleh begini sama ibu! Dion, Dion! Ibu enggak sudi hidup begini!” teriak Wulan meraung histeris.


*****


Harapan memiliki Afkar seutuhnya tinggal dua langkah persidangan lagi. Siang ini Khalisa berbelanja bahan makanan cukup banyak sepulang dari pengadilan. Diantar pergi oleh Raja dan salah satu satpam kantor karena Yudhis tak bisa mengantar, memiliki janji temu penting dengan klien setelah persidangan usai.


Khalisa hendak memasak makan malam lengkap spesial. Untuk menjamu sahabat dan teman Yudhis yang akan berkumpul di rumahnya nanti malam. Yudhis ingin mengadakan acara do’a bersama di kediamannya. Ingin memanjatkan harapan terbaik agar ikhtiar dan usaha dalam memenangkan hak asuh Afkar dipermudah dan dilancarkan jalannya.


“Menu makan malamnya aku mau buat ayam bakar bumbu rujak, rempeyek udang, gurami goreng siram saus asam manis, cah pokcoi, sayur asem Sunda, tahu dan tempe bacem. Kerupuk udang sama sambal baby cumi kesukaan Bang Yudhis masih banyak stok yang kemarin aku buat, bisa ditambahkan sebagai pelengkap teman lalapan. Camilannya ada risol sama dimsum yang kubeli dari tetangga sekitar sini yang kemarin sore berjualan keliling, sudah ada di freezer. Untuk hidangan Pencuci mulut, tadi aku tadi sudah beli puding kelapa pandan, brownies coklat dan pai buah. Tambahannya ada buah-buahan sama manisan mangga Cianjur di kulkas, kiriman klien Bang Yudhis yang katanya sekarang buka usaha di sana.”


“Kalau menunya itu, biar Bibi saja yang masak dan siapkan. Neng kan baru pulang, bisi capek. Lebih baik istirahat terus berendam, biar wangi sama pulihkan tenaga buat nanti malam. Nanti kan malam Jum’at, waktunya dinas spesial memetik pahala buat para istri. Apalagi kalau menikah baru mau dua bulan itu lagi hot-hotnya, masih suasana pengantin baru,” cerocos Bi Dijah sembari cengar-cengir. Cekikikan baper sendiri. “Ya ampun, Bibi jadi pengen muda lagi.”


“Ish, Bibi. Hot hot apaan? Memangnya kompor dan wajan panas!” Khalisa bersungut-sungut merona, memilih memeriksa ungkepan ayam yang nantinya akan dibuat menjadi menu ayam bakar.


“Sudah, Bibi saja yang masak. Yang penting kalau sambal harus buatan Neng Khalisa, Sambal yang bikin Den Yudhis ketagihan. Bibi tebak, pasti ngasurnya juga bikin Den Yudhis nagih iya kan? Kayak sambal buatannya.”


Bi Dijah tak tahan untuk tidak menggoda, Khalisa masih sering tersipu dengan lugunya saat digoda walaupun sudah berstatus sebagai Nyonya Yudhistira Lazuardi. Tak lantas menjadikan Khalis berubah sombong atau tinggi hati bersuamikan lelaki luar biasa seperti Yudhis.


“Bibi!” protes Khalisa malu.


“Iya, iya maaf. Abisnya Neng itu gemesin, pantas saja Den Yudhis klepek-klepek jatuh cinta,” ujarnya lagi, bukannya berhenti.


“Tapi, nanti Bibi capek kalau masak sebanyak ini sendirian. Kita masak berdua saja, biar lebih cepat selesai.”


“Mmm, gini Neng. Sebetulnya Bibi punya sepupu yang pengangguran sekarang. Kalau misalnya di rumah ini butuh tenaga bantuan tambahan, dia pasti bersedia membantu. Yang penting dapat uang buat menyambung hidup. Namanya Ceu Wati, baru dipecat sebulan lalu tanpa diberi pesangon, malah dituduh bersekongkol mencuri perhiasan anak si majikan. Padahal, yang berniat mencuri itu adik ipar majikannya sendiri dan sepupu Bibi yang bertugas mengasuh ikut kena getahnya.”


“Ceu Wati? Apakah majikannya dulu namanya Amanda?” tanya Khalisa memastikan dengan sorot menelisik, yang diangguki cepat oleh Bi Dijah.


“Kok Neng Khalisa tahu?” imbuhnya keheranan.


“Ya sudah, minta dia datang sekarang juga, buat bantu-bantu masak hari ini. Aku yang akan minta izin sama Bang Yudhis supaya sepupu Bibi yang namanya Ceu Wati itu diperbolehkan membantu pekerjaan di rumah ini.”


Bersambung.