Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Anak Kita


Bab 118. Anak Kita


Khalisa terdiam sejenak. Jujur saja terasa berat jauh terlalu lama dari sang anak yang belum lama kembali ke pelukannya. Akan tetapi, menilik situasi yang terbilang sedang genting, untuk saat ini Afkar sudah pasti lebih aman di Bali bersama Maharani dan Barata. Jauh dari jangkauan Dion sekeluarga. Pasti Dion sekeluarga juga tidak akan pernah menyangka, bahwa Afkar yang hendak dijadikan pion untuk memeras dan merundungnya tidak ada di kota ini.


Khalisa menghela napas, tampak berpikir. Bola matanya yang bening masih mengkilap oleh sisa air mata, balas menatap Yudhis dengan sejuta tanya.


"Tapi aku enggak memaksa. Itu hanya saran." Yudhis kembali bersuara sembari membelai lembut kepala Khalisa.


"Enggak ada saran juga ide yang lebih baik dari yang Abang atur dan pikirkan. Tak dipungkiri aku kangen Afkar, maklum saja kami baru berkumpul lagi belum lama. Tapi, sudah pasti jauh dari sini Afkar lebih aman untuk sekarang. Cuma, aku takut merepotkan Bu Rani dan Pak Bara kalau anakku terlalu lama di Bali. Khawatir Afkar rewel," tutur Khalisa terus terang tentang kebimbangan yang menggelayuti kemudian.


"Mami dan Papi justru pasti senang. Dan Afkar pun setiap kita menelepon selalu ceria gembira bukan?"


"Iya sih, Bang. Anakku selalu riang sekarang. Makasih, keluarga Abang sudah mau menyayangi anakku. Entah dengan cara apa aku harus berterima kasih," sahut Khalisa serak.


"Bukan cuma anakmu, tapi anak kita." Yudhis mengecup ujung hidung Khalisa sekilas, menarik Khalisa lebih merapat. "Juga bukan Bu Rani dan Pak Bara. Tapi Papi dan Mami. Biasakanlah mulai hari, kita semua adalah keluarga sekarang."


Khalisa lagi-lagi berkaca-kaca. Tak mampu menguntai kata saking terharunya. Masih merasa seperti mimpi, dirinya beserta si buah hati benar-benar dianggap keluarga, bukan sekadar sebutan titel saja, juga merasa dianggap setara sebagai manusia.


"Saat aku menikahimu dan menjadikanmu bagian dari hidupku yang disebut keluarga, itu berarti termasuk dengan Afkar di dalamnya. Apa yang harus kulakukan untuk memantaskan diri menjadi Papanya walaupun cuma Papa sambung? Aku mungkin bukan ayah biologisnya, seseorang dapat disebut anak tidak selalu harus berasal dari benih dari tubuh kita, tapi terkadang terlahir dari hati kita. Jadi, tolong izinkan aku menyayangi Afkar sebagai anakku juga."


Khalisa tersenyum penuh syukur dalam isakannya. Anugerah besar yang tak pernah disangka-sangka kini menghujaninya tiada henti. "Abang bukan hanya pantas, tapi yang terbaik. Makasih banyak, Abang sudah mau menyayangi Afkar juga."


"Mau video call sebelum tidur dengan Afkar?" tawar Yudhis sembari mengulurkan tangan mengambil ponselnya.


Khalisa mengangguk cepat. "Mau, Bang. Semoga saja Afkar belum bobo."


*****


Di tengah malam ini, Dion sedang berbicara serius dengan salah satu tim pengacara yang lebih cocok disebut kacung bayarannya sembari duduk bersandar ke kepala ranjang, menempelkan gawai ke telinganya, berusaha untuk tidak mendesah di sela-sela perbincangan. Sedangkan di balik selimut yang membungkus bagian bawah tubuhnya yang tak berpenghalang, Gladys tengah beraksi memanjakan pusat tubuhnya.


["Iya, Pak. Kami sudah menemukan alamat tempat tinggal Bu Khalisa yang tentu saja tinggal di alamat pengacaranya. Si pemilik LBH Raksa Gantari."]


"Apakah Afkar juga terlihat ada di sana?" desaknya penasaran.


["Untuk keberadaan Afkar kami belum bisa memastikan. Kami juga mencoba bertanya pada warga sekitar yang lokasinya berdekatan. Tapi, orang-orang di sekitar rumah itu tak mudah diminta keterangan. Mereka begitu teliti dan waspada, banyak menolak menjawab pertanyaan."]


"Untuk persidangan minggu depan, aku tidak mau tahu, kalian harus menyiapkan bahan lain untuk melemahkan peluang menang mereka!" titahnya keras kepala. "Tentang pernikahan mereka bagaimana? Sudah Diselidiki? Mereka benar-benar menikah sungguhan atau cuma rekayasa hanya untuk kepentingan memenangkan perkara?"


["Sayangnya pernikahan mereka sungguhan, Pak. Bukan cuma rekayasa. Bukti konkret yang dilampirkan ke pengadilan baik akta nikah maupun kartu keluarga semuanya asli. Terdaftar resmi. Tidak ada sedikit pun data fiktif."]


"Sial!" umpatnya kesal, merasa kehabisan akal. Dion semakin tak rela melepaskan Khalisa dari kuasanya saat melihat Khalisa semakin cantik bersahaja, Khalisa yang dulu begitu mudah dikendalikan dan sangat menurut padanya, kini bahkan tak sudi meliriknya barang sedetik.


Dion menjambak kasar rambutnya sendiri, terlonjak spontan yang berakibat membuat Gladys tersedak dan terbatuk di bawah sana, disebabkan oleh bagian yang sedang dimanjakan refleks menerobos terlalu dalam mencapai kerongkongan Gladys saat Dion bergerak sembarangan, sehingga kegiatan yang disukai Dion itu terhenti lantaran Gladys harus meredakan batuk tersedaknya terlebih dahulu.


"Tunggu, apa kalian juga sudah memeriksa dan menghitung terkait masa iddahnya?" Dion kembali bertanya, mencari celah walaupun itu hanya sedikit.


["Sudah, Pak. Tidak ada celah atau cacat yang bisa kita gunakan terkait itu. Tanggal pernikahan mereka sudah melewati masa iddah Bu Khalisa. Apalagi dari keterangan Anda ketika peninjauan surat cerai tempo hari, Anda sudah hampir enam bulan tidak menyentuh Bu Khalisa sebelum kata talak terucap. Sehingga tentu saja berimbas pada masa iddahnya yang menjadi lebih ringan."]


Ponsel yang masih tersambung itu dilemparkan, dibanting ke lantai. Gladys yang masih rebah mengatur napas menjadi sasaran pelampiasan kekesalan dan kemarahan Dion. Diperlakukan kasar dan brutal dan Gladys tak bisa banyak melawan karena telah dibayar menjadi budak n*fsu sang bos.


Ponsel yang kembali berdering tak dipedulikan Dion, sibuk melampiaskan angkara murka. Panggilan yang berasal dari adik dan ibunya yang saat ini sedang merengek menyedihkan di kantor polisi.


Bersambung.