
Bab 47. Deep Talk
Khalisa tampak ragu untuk bercerita. Yudhis dapat membaca kegundahan itu, bukan hanya keraguan, tetapi bercampur berbagai kecamuk lain di benak Khalisa.
Di mata Yudhis, Khalisa ini ibarat berlian di balik kotak transparan. Walaupun tertutup rapat, tapi pancaran perasaan dari hati murninya yang sedang dirundung himpitan juga lara terpampang nyata, amat mudah dibaca. Ditambah profesi yang digeluti Yudhis, menuntut si tampan berdaksa tinggi tegap menawan itu harus terasah kemampuannya dalam membaca raut lawan bicaranya.
“Kamu harus bercerita secara terbuka kalau memang betul ingin dibantu. Bagaimana aku bisa mengambil tindakan membantumu kalau kamu tidak mau menjabarkan permasalahanmu? Tidak semua masalah bisa digenggam seorang diri, ada kalanya kita butuh bantuan orang lain dalam upaya mencari solusi,” ucap Yudhis memberi pengertian, memaklumi Khalisa yang sebatang kara pasti selalu mendoktrin dirinya untuk menelan segala kepahitan hidup bulat-bulat, tidak biasa berbagi cerita terlebih pada orang yang belum begitu dikenalnya.
Yudhis kemudian menarik kursi lain dan duduk berhadapan dengan Khalisa. “Kamu harus menaruh sedikit saja kepercayaanmu padaku, agar aku bisa mencarikan jalan keluar. Mungkin kamu lupa, profesiku adalah pengacara. Lagi pula, bukankah sesama manusia sudah seharusnya saling menolong ketika sesamanya kesusahan dan saling mengingatkan ketika sesamanya keliru? Itulah yang kulakukan padamu sejak pertama kali bertemu sampai sekarang,” jelasnya.
Kalimat penjelasan Yudhis akhirnya mendorong Khalisa menuturkan problemanya. Juga dia semakin yakin membuka diri setelah ingat Yudhis ini adalah seorang pengacara. Meyakinkan diri bahwa sudah saatnya berbagi cerita.
“Sa-saya.”
“Bicara santai saja, Khalisa. Jangan gunakan bahasa formal dan kaku. Rileks, anggap saja kamu sedang bercerita pada teman lama. Atau, haruskah kita berteman secara official?” Yudhis menyunggingkan seulas senyum, berupaya membangun suasana untuk membuat Khalisa lebih nyaman bercerita.
“Ba-baiklah.”
Untuk pertama kalinya Khalisa menuturkan kesulitannya dibarengi meminta bantuan pada seseorang setelah selama tiga bulan ini terkatung-katung. Tidak membiasakan diri meminta bantuan orang lain karena khawatir merepotkan terlebih jika itu menyangkut uang, membuatnya sering sungkan meminta tolong secara gamblang dan memilih menghadapi setiap masalah beratnya sendiri selama ini. Akan tetapi seperti yang dikatakan Yudhis, sekarang ia harus mengaku pada dirinya sendiri, ternyata tidak semua permasalahan dapat diatasi seorang diri.
Khalisa bertutur hampir satu jam lamanya tentang permasalahan perceraiannya, hal-hal pemicunya, tuduhan Dion sekeluarga padanya, terutama menitikberatkan perihal Afkar yang dipisahkan paksa darinya, tak lupa menyampaikan juga tentang dua opsi yang ditawarkan Dion agar dirinya bisa bebas kembali memeluk anaknya.
“Afkar dipisahkan paksa dariku malam itu juga setelah kata talak terucap, dan hanya akan diberikan padaku kalau aku memilih salah satu syarat. Aku bisa saja memilih opsi pertama, tapi aku tidak ingin lagi mengemis rendah pada mereka. Sudah cukup aku diinjak-injak selama bernaung dengan mereka yang kusebut keluarga. Aku memilih yang kedua, meski tahu risikonya tak lebih baik, karena aku juga tidak tahu harus mencari uang sebanyak itu ke mana. Yang kuinginkan adalah mendapatkan anakku kembali dan terbebas dari mereka, menjauh dari keluarga mantan suamiku dan hidup bersama Afkar dengan tenang. Untuk itulah, aku nekat mengambil pekerjaan yang dipandang hina ini. Tapi aku juga tidak tahu ke mana mereka pindah dengan membawa anakku, benar-benar merampasnya dariku sampai-sampai aku tidak diberitahu di mana Afkar tinggal sekarang.”
Kepala Yudhis berdenyut menahan emosi setelah selesai mendengarkan penuturan panjang lebar Khalisa. Tak bisa menahan diri untuk tidak mengumpat dalam hati, mengumpati kaumnya yang berbuat demikian pengecut terhadap wanita lemah dan rapuh seperti Khalisa.
Yudhis meraih tisu di meja dan menyerahkannya ke pangkuan Khalisa yang kembali terisak-isak.
“Jangan merasa tak enak hati, lagipula biduk rumah tanggaku yang sudah rusak dihancurkan oleh nahkodanya sendiri.”
“Kamu percaya suamimu akan membebaskanmu membawa Afkar setelah permintaan persyaratannya kamu penuhi? Apa ucapannya bisa dipegang?” tanya Yudhis, mencoba membuka pikiran Khalisa yang sudah pasti tertutup kabut tebal kekalutan, sangat rentan terdistraksi.
“Aku... aku juga tidak yakin,” cicitnya yang baru terpikir ke arah sana setelah Yudhis menyinggung hal tersebut. “Aku sudah tidak percaya lagi pada kata-kata maupun janji yang diucapkannya. Dia bahkan tanpa ragu menghancur leburkan janji suci kami bagai seonggok sampah tak berharga,” lirih Khalisa nyeri, menggigit bibirnya kuat-kuat.
“Dari ceritamu, aku yakin mantan suamimu tidak akan melepas kalian dengan mudah walaupun uang yang diinginkannya dipenuhi. Dia hanya ingin menyeretmu kembali sebagai bentuk keegoisannya, dengan cara keji menjadikan Afkar pion di antara kalian. Tidak ada jaminan dia benar-benar akan menepati ucapannya dan membebaskanmu juga Afkar dari cengkeramannya nantinya.”
“Lalu aku harus bagaimana? Aku cemas dengan anakku yang sudah tiga bulan tertahan dengan mereka. Enggak ada yang menyayangi Afkar di sana, tidak ada seorang pun. Dan mantan suamiku bilang anakku sedang sakit sekarang. Apakah ini teguran atas keputusanku mengambil jalan yang salah demi dia?” Tangis Khalisa kembali pecah. Sesenggukan tak tertahankan. Inginnya Yudhis memeluk, namun dia menahan diri. Hanya mampu memeluk dengan sorot mata hangatnya melingkupi punggung Khalisa yang berguncang.
“Anda tadi sudah berjanji akan membantu setelah aku bercerita. Bisakah meminjamkan uang itu sekarang? Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi nanti, aku harus bertemu Afkar sekarang!" mohonnya pilu, berurai air mata.
“Kamu yakin anakmu benar-benar sakit?” tanya Yudhis tiba-tiba.
“Maksudnya bagaimana?” balas Khalisa tak mengerti sembari menyusut wajah basahnya.
“Aku merasa mantan suamimu hanya ingin menggertakmu. Coba cari informasi valid. Adakah orang di sekitar Afkar yang bisa kamu tanyai selain suamimu? Untuk membuktikan ucapannya benar atau tidak.”
Pikiran Khalisa yang melulu keruh sejak dipisahkan dengan Afkar berangsur jernih sekarang, kemungkinan yang Yudhis katakan bisa saja benar adanya.
“Paling hanya adik dari mantan suamiku yang bisa kutanyai. Tapi aku tidak yakin teleponku akan diangkat. Juga pasti Dania sedang tidur."
“Hubungi saja, orang yang bangun tersentak dari tidur penuh kantuknya biasanya berkata jujur. Sebab dia tidak sempat memikirkan kebohongan saat menjawab. Juga kalau kamu benar ingin merebut Afkar kembali bersamamu seutuhnya, ikuti saran-saranku, aku akan membantumu dengan cara yang benar. Cara yang sah dan diakui sehingga nantinya suamimu tidak bisa lagi mengganggu gugat. Mendapatkan anakmu kembali tanpa harus memenuhi permintaan mantan suami serakahmu, Khalisa. Bisakah kamu percaya padaku?”
Bersambung.