Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Tersangka Utama


Khalisa Bab 141. Tersangka Utama


Mang Darjat menyanggupi bersama dengan deraan khawatir menghebat setelah mengiyakan permintaan Khalisa. Sebelum membuka pagar depan, dia mengajukan usulan untuk mengajak serta Bi Dijah juga satpam rumah.


Mang Darjat mengatakan, bahwa rumah sama sekali tidak perlu dikhawatirkan. Adanya satpam di kediaman tuannya ini adalah demi melindungi dan menjaga sang nyonya dari marabahaya selama tuannya tidak berada di rumah.


"Maaf, usulan Mamang ini buat jaga-jaga. Lebih banyak yang ikut lebih baik, khawatir ada ancaman mengintai membuntuti kita saat keluar dari rumah. Apa lagi Den Yudhis tidak boleh dikasih tahu, Mamang takut terjadi apa-apa," jelas Mang Darjat, raut wajahnya bingung juga sungkan.


Khalisa mengulum senyum penuh pemakluman. Paham akan kekhawatiran Mang Darjat akan keselamatannya.


"Ya sudah. Kita berangkat beramai-ramai."


Menjelang Magrib mereka sudah kembali dari klinik. Beruntung sore ini klinik terdekat terbilang lengang dari serbuan pasien. Perjalanan mereka juga aman tanpa hambatan, seolah semesta melindungi Khalisa dari niatan buruk orang-orang jahat yang mengincarnya.


Sesampainya di rumah, Khalisa tak bisa menyembunyikan raut bahagia meski paras ayunya agak pucat. Hasil diagnosis dari gejala masuk angin tak biasa yang melandanya, ternyata membawa kabar baik yang tak disangka-sangka.


Selepas menunaikan tiga rakaat salat Magrib yang diikuti salat sunnah rawatib ba'diyah setelahnya. Khalisa yang masih duduk di atas hamparan sajadah sembari menunggu waktu Isya, tak henti membasahi bibir dengan tasbih syukur atas anugerah rezeki luar biasa yang dititipkan di rahimnya kini.


Ia teringat kembali akan ulasan kejadian sore tadi. Di mana saat dirinya malah diminta memeriksakan diri ke poli obgyn setelah melakukan prosedur pemeriksaan oleh dokter umum yang praktik sore itu.


“Kenapa saya harus diperiksa di poli ini ya? Padahal, yang sedang bermasalah itu lambung saya, juga seperti yang saya jelaskan tadi pada dokter umum, saya ini baru pulang dari luar pulau dan kemungkinan masuk angin,” jelasnya pada si dokter yang bertugas di poli kandungan.


“Karena, menurut hasil pemeriksaan dokter umum rekan saya, mual muntah Anda bukan berasal dari masuk angin seperti perkiraan Anda tadi. Melainkan dari hal lain. Untuk itu kita pastikan menggunakan pemeriksaan lebih lanjut di sini. Silakan berbaring.”


“Kapan terakhir Anda menstruasi?” tanya si dokter.


“Entahlah, Dok. Saya tidak ingat. Semenjak melahirkan anak saya sekitar tiga tahun lalu, menstruasi saya tak pernah teratur lagi. Terkadang bisa tiga atau empat bulan tidak dapat, atau kadang sebulan dua kali.”


Memang benar, jadwal bulanan Khalisa kacau balau akibat terlalu banyaknya tekanan yang akhirnya membuatnya stress berat. Berimbas pada siklus haidnya yang menjadi acak-acakan.


“Hmm, pantas saja Anda tidak menyadarinya. Ada sesuatu di rahim Anda sekarang,” ucap si dokter sembari tetap fokus pada layar monitor.


“Ke-kenapa, Dok. Apakah saya mengidap penyakit berbahaya?” tukasnya terkejut, seketika pikiran buruk menerjang.


Pasalnya, saat dulu sempat bertanya pada tetangga yang sering sinis padanya perihal jadwal haidnya yang kacau balau, si tetangga malah mengatakan kemungkinan Khalisa mengidap kista atau tumor di rahim.


“Apakah berbahaya?” tanya Khalisa resah, galau tak karuan.


“Tidak usah panik, sesuatu di rahim Anda itu janin. Selamat, Nyonya. Anda sedang mengandung, usianya tujuh minggu. Itulah tersangka utama penyebab gejala masuk angin Anda yang sebenarnya."


Kalimat dokter membuat Khalisa mengerjap sejenak, mencerna kata demi kata, sebelum kemudian dia membekap mulut diserbu haru juga gembira tak terkira. Tak menyangka secepat ini menyemai buah cintanya dengan pria luar biasa yang memuja dirinya yang dicap penuh noda ini, memuliakannya, menjadikannya sebenar-benarnya ratu hati.


Bersambung.