Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Arti Dirimu


Bab 104. Arti Dirimu


Yudhis duduk di tepian ranjang, tampak serius pada gadget di tangan, seolah tak melihat Khalisa yang celingukan keluar dari kamar mandi, padahal ujung matanya sejak tadi mencuri pandang pada si cantik bertubuh semampai nan seksi itu.


Terbalut kemeja putihnya yang kedodoran, membingkai raga Khalisa kian menggoda imannya. Sepasang dalaman berwarna merah menyala yang berasal dari bingkisan pernikahan, membias jelas dari balik kemeja putih tipis yang dipakai Khalisa, menjadikan Khalisa kian ranum menggoda untuk dipetik dan dinikmati.


Masya Allah, cantiknya istriku, puji Yudhis membatin.


Semula, Yudhis bersorak dalam hati, tetapi kini justru merutuki diri, karena ide siasat kunci ini serupa uji nyali, membuat si pria yang belum kesampaian menyentuh dan mendekap mesra istri cantiknya itu panas dingin dari kepala hingga kaki.


Dengan gerakan santai, Yudhis menggeliat dan berpura-pura menguap. Menaruh gawai ke meja nakas dan naik duduk bersandar di ranjang seraya menarik selimut.


“Kenapa masih di situ, Khal. Memangnya kamu enggak capek atau ngantuk?” tanya Yudhis, berupaya tetap tenang, meski pemandangan yang tersaji di dihadapannya itu membuatnya sulit merealisasikan kata tenang yang terdengar singkat dan sederhana. Sebab insting jantannya berteriak ingin menerkam bulat-bulat sasaran empuk nan jelita yang paling didambakannya.


Kendati ragu jelas menyeruak ke permukaan, dengan jantung berdebar-debar Khalisa melangkah mendekat, sembari menarik-narik ujung kemeja yang hanya menutupi sebatas atas lutut, agak malu juga risi. Ia tak berani menatap Yudhis, menjatuhkan pandangan ke lantai yang dipijak kaki.


Khalisa duduk sangat pinggir. Ingin rasanya Yudhis menarik tubuh ramping itu, merebahkannya di tengah tempat tidur dan mengungkungnya di bawah kuasanya. Melucuti kemejanya, dan mencumbunya penuh cinta.


Bukannya tak mampu Yudhis memaksa, tetapi rasa sayangnya yang begitu besar membuat hati Yudhis selalu melembut meski sedang direcoki hasrat, khawatir Khalisa malah ketakutan jika dia bertindak memaksakan kehendak, dan dia juga merasa jadi kriminal yang memperkosa istri sendiri.


“Kenapa cuma duduk? Naiklah dan pakai selimut, cuaca sangat dingin. Apa kamu enggak merasakannya?”


Yudhis membahas kata dingin. Padahal suhu ruangan menjadi terlampau sejuk pun memang ulahnya. Sengaja menurunkan suhu AC satu sampai dua derajat dari biasanya, sedangkan Khalisa yang tak begitu paham perihal pendingin ruangan tak menaruh curiga sedikit pun. Maklum, dulu di kamarnya hanya dilengkapi kipas angin saja.


“Dingin sih, Bang. Tumben enggak kayak biasanya,” jawab Khalisa sembari mengusap kedua sisi lengannya.


“Memang cuaca sedang lebih dingin. Makanya ayo pakai selimut, nanti masuk angin.”


Patuh, Khalisa menaikkan kedua kaki ke atas kasur dan menarik selimut, bertepatan dengan ponsel Yudhis yang menyala, menampilkan permintaan video call dari Maharani. Yudhis dengan cepat mengusap layar, dan di sana langsung muncul wajah cantik sang mami bersama Afkar yang terlihat amat senang.


“Om Papa!” teriak bocah lucu itu gembira, lalu dengan cepat Afkar meralat sebutannya tadi. “Eh, yupa. Butan Om Papa, tapi Pappah,” ralatnya sendiri.


“Afkar anak pintar,” puji Yudhis yang berbahagia karena Afkar lebih cepat tanggap dibanding bundanya yang telat peka.


Mendengar celotehan Afkar, tanpa diperintah Khalisa terburu-buru mendekat, merapat pada Yudhis yang sedang melakukan video call. Amat bersemangat menyapa sang anak penuh rindu, juga menyapa Maharani penuh hormat dan sopan santun.


Tak menyiakan kesempatan, Yudhis perlahan merangkul pinggang Khalisa yang duduk dekat dengannya supaya lebih merapat, merasakan hangatnya tubuh Khalisa menempel bergesekkan dengannya, membuatnya berdesir ingin menyatukan diri. Sementara Khalisa sibuk mengobrol dengan Afkar dan Maharani, tidak begitu menyadari di mana tangan Yudhis berada sekarang.


Hampir dua puluh menit mereka bervideo call, ditutup dengan kecupan basah Afkar di layar. Khalisa baru sadar dirinya merapat amat dekat dengan Yudhis setelah sambungan panggilan video usai, berniat berjengit menjauh, tetapi lengan kekar yang melingkari tubuhnya menahan posesif.


“Mau ke mana?” kata Yudhis serak juga berat, begitu dekat, jarak wajah mereka hanya dua jengkal saja.


“Itu, Bang. Video callnya udahan,” jawab Khalisa sembari menyerahkan ponsel Yudhis yang entah sejak kapan berpindah ke tangannya, mungkin tadi merebutnya tanpa dikomando.


Wanita yang dicinta berada dalam pelukan merapat padanya, sudah pasti memantik gairah Yudhis meronta menggeliat. Terlebih dia harus menunda menyatu meski telah sah andai ingin menggauli, tetapi Yudhis paham Khalisa pasti butuh waktu sebab mereka menikah bukan berdasarkan dua cinta yang menggebu, hanya dari pihak hatinya saja yang berlumur debaran itu. Meski begitu tak menyurutkan kegigihan Yudhis untuk membuat rasa membuncah dalam dadanya tersampaikan pada wanita yang dipujanya ini secara perlahan-lahan.


“I-itu, Bang. Aku ingin membuka kotak mas kawin, mas kawinku, dari kemarin belum sempat dilihat,” jawabnya gelagapan mencari alasan untuk menyudahi degup jantungnya yang mendadak berbalapan ria di dalam sana, saat tatapan Yudhis padanya tak seperti biasanya, juga rangkulan erat posesif Yudhis membuatnya belingsatan.


“Oh itu. Sebentar aku ambilkan, kamu duduk saja.”


Yudhis menyibak selimut dan mengambil benda yang Khalisa mau, menyerahkannya ke pangkuan Khalisa dan kembali bergabung ke dalam selimut.


Sembari menelan ludahnya gugup, Khalisa membuka kotak beledu warna biru tua yang katanya berisi mas kawinnya. Khalisa melongo, kedua matanya mengamati dengan saksama, lalu menoleh pada Yudhis penuh tanya.


“Bang, bukannya waktu itu mas kawinnya cuma gelang sepuluh gram? Kenapa ini isinya jadi seperangkat perhiasan emas putih? Apa mungkin toko perhiasannya salah mengemas? Sewaktu ijab kabul aku juga seperti salah mendengar, Abang berucap mas kawinnya seratus gram, padahal setahuku cuma sepuluh gram,” selorohnya amat penasaran, semula Khalisa mengira telinganya salah mendengar, tetapi isi kotak yang kini dipegangnya juga tidak sama seperti yang pernah diobrolkan sebelumnya.


“Enggak, memang seratus gram. Justru mungkin kamu yang kurang memperhatikan saat kita mengobrolkan hal ini sewaktu beberapa hari sebelum akad,” ujarnya berkelit.


“Apa iya?” Khalisa mengerutkan kening.


“Aku memang sudah memiliki niat sejak dulu, jika aku menemukan tambatan hati dan menikah, maka jumlah mas kawinnya adalah seratus gram. Seperti halnya rasa hatiku yang juga seratus persen mencintai, seratus persen menyayangi, seratus persen setia, seratus persen bertanggungjawab dan seratus persen menghabiskan hidup bersama. Dan bagiku menikah itu satu kali seumur hidup, berharap selalu bersama hingga ke jannahnya Allah,” tuturnya serius.


“Se-sekali seumur hidup?” cicitnya resah.


“Iya, hanya sekali, sampai aku mati.”


Khalisa menelan ludah, kalimat Yudhis kali ini cukup mengusiknya lebih dari ucapan mengigau Yudhis semalam. Yaitu pada bagian tentang tambatan hati dan menikah sekali seumur hidup. Sedangkan yang Yudhis dan dirinya lakukan adalah ikan kabul pernikahan, mungkinkah kata menikah yang dimaksud Yudhis adalah pernikahan mereka, juga kata tambatan hati tertuju pada dirinya? Namun, apakah mungkin?


Khalisa tertunduk, menjatuhkan tatapan gamang pada kalung indah nan cantik berkilau di dalam kotak dan menyentuhnya.


“Mau dipakai?” tawar Yudhis.


Entah otak atau hatinya yang memerintahkan, Khalisa mengangguk.


Yudhis meminta Khalisa membelakangi serta menyibak rambut sepunggungnya, mengumpulkannya di satu sisi. Yudhis memakaikan kalung tersebut dan Khalisa menggigit bibir tak bersuara, hingga sebuah kecupan hangat mendarat di tengkuknya membuatnya terkesiap, meremang. Kemudian kedua lengan kekar terulur memeluknya, menarik punggungnya mendarat pada dada bidang disusul bisikan begitu dekat ke telinganya.


“Ijab kabul sekali seumur hidupku itu adalah untukmu, denganmu, Khalisa. Karena kamulah sosok tambatan hati itu. Sejak pertama bertemu, ada rasa tak biasa yang menganggu kalbuku, dan setelah sekian lama aku semakin yakin, hatiku tertuju padamu."


"Begitukah? Apakah Abang yakin? Khawatir Abang keliru menafsirkan rasa hati, mungkin saja Abang cuma kasihan padaku. Aku cuma seorang janda tak berpunya, tak berkasta tak bertahta. Hanya banyak merepotkan. Adanya aku di dunia ini pun aku tak tahu entah memiliki arti atau tidak. Sebab kebanyakan orang-orang hanya memandangku berlumur noda."


Kalimat Khalisa bergetar lirih. Bukannya ia tak bahagia akan ungkapan hati Yudhis, malah lebih dari sekadar gembira, ia diserbu haru tak terkira diperlakukan berharga, juga bak lentera pelipur jiwanya yang dipenuhi lara, hanya saja dirinya merasa tak pantas.


Yudhis menolehkan wajah Khalisa supaya bertukar pandang dengannya, dengan satu lengan tetap memeluk Khalisa dari belakang. Mengecup kening Khalisa penuh perasaan bermandikan cahaya temaram syahdu. Khalisa memejam, sudut matanya basah melelehkan butiran kristal beningnya.


"Kenapa kamu berpikir begitu hmm? Adanya kamu terlahir ke dunia sudah pasti memiliki arti. Hanya saja terkadang cerita kita saat dibawa ke alam fana tidak selamanya disambut haru dan diinginkan. Bahkan adanya debu di dunia ini memiliki manfaat, yakni untuk bertayamum. Seperti halnya kamu yang bagiku amat berarti, tanpa kamu sadari, tanpa kamu ketahui."