Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Papa Sayang


Bab 102. Papa Sayang


Khalisa dan Yudhis baru saja menyelesaikan acara makan kencan mereka di lantai teratas mall, yakni di restoran langganan Yudhis saat Dion mendapati keduanya keluar dari lift.


Membuang puntung rokoknya sembarangan, Dion pontang-panting menuruni eskalator. Tak peduli pada langkahnya, dia bahkan menabrak beberapa orang yang berjalan dari arah berlawan, karena fokusnya terus tertuju pada wanita cantik bergamis biru yang digandeng pria tampan perlente.


Sosok yang sedang dicari-cari keberadaannya tanpa sepengetahuan Amanda, kini membuat matanya nyaris meloncat keluar saat melihat langsung bukan hanya melalui rekaman CCTV buram. Wanita yang disia-siakannya dulu, nyata semakin cantik dan bersinar dalam balutan busana muslimah, terasa ada yang goyah berdecit di balik rongga dadanya.


Dari kejauhan, Dion melihat punggung dua orang itu menuju lorong yang mengarah ke area parkir, jarak mereka cukup jauh, meski Dion berlarian sembari memanggil nama Khalisa, hal itu belum berhasil membuat langkahnya menyusul maupun membuat Khalisa menoleh.


Berupaya lebih keras lagi, dia akhirnya semakin memangkas jarak. Setelah cukup dekat, saking tak sabarnya Dion berteriak kencang, tepat saat mencapai pintu yang menjadi batas area dalam mall dengan tempat parkir kendaraan.


“Khalisa! Khalisa tunggu!” teriaknya dengan napas ngos-ngosan.


Tanpa sadar, sedari tadi Khalisa membalas genggaman tangan Yudhis yang menggamit telapak halusnya, masih dalam posisi tangan saling bergandengan, Khalisa menoleh ke arah sumber suara memekakkan telinga yang memanggil namanya, disusul Yudhis melakukan hal serupa.


“Mas Dion,” cicitnya terkesiap dengan netra membola.


Paduan antara terkejut juga sakit hati yang kembali merambati begitu perih saat bertemu muka lagi dengan seseorang yang telah menoreh luka teramat dalam di hatinya, memandangnya sebelah mata, menyepelekan dan membuang bakti cintanya, memisahkannya dari sang anak secara keji.


Kesiap yang melanda Khalisa juga dapat Yudhis rasakan dari genggaman tangan Khalisa yang menguat. Mendengar nama Dion, naluri kumbang jantannya sebagai pemilik si bunga pujaan menyeruak ke permukaan. Sorot mata Yudhis menajam dengan rahang mengeras, menarik Khalisa dengan gerakan pelan supaya lebih merapat padanya.


“Khalisa, kamu benar Khalisa kan?”


Dion melangkah perlahan, masih sembari mengatur napasnya yang berantakkan. Memicingkan indra penglihatan, mengamati dalam bias tak percaya. Kakinya seolah mengambang tak menapak, mata keranjangnya tersihir pesona disertai dongkol keegoisan tak rela melepas yang kian betah bercokol dalam dadanya sekarang.


Dion sibuk memindai Khalisa yang kini membuatnya pangling. Wanita yang dicampakkannya dan dianggap tak berarti semakin memikat dan lebih jelita parasnya dari sebelumnya, tak sebanding dengan Gladys terlebih Amanda, membuatnya tak terima karena Khalisa tidak terpuruk. Dion terlampau jumawa, yakin Khalisa teramat bucin padanya dan pasti menderita dibuang olehnya, tetapi justru yang terjadi di luar espektasi, tak pernah menyangka Khalisa malah menjadi lebih memesona setelah berpisah darinya.


Memberanikan diri Khalisa mengangkat dagu, seperti yang pernah dikatakan Yudhis padanya, bahwa dirinya harus berani, melawan rasa minder juga trauma dalam dirinya, sisa-sisa dari intimidasi yang dulu sering didapatkan Khalisa akibat diperlakukan tidak manusiawi oleh sekitar terutama keluarga Dion.


“Kurasa mata Mas Dion masih normal dan bagus bukan? Tentu saja ini aku, Pak mantan suami!” ketus Khalisa tajam, menekankan kata mantan suami dengan intonasi yang lebih tegas.


“Di mana Afkar? Ke mana kamu membawa Afkar dan di mana kamu tinggal sekarang?” cecar Dion menekan. Ingin kembali mengulang intimidasi dan percaya diri Khalisa akan menciut seperti yang sudah-sudah.


“Di mana aku tinggal dan ke mana aku membawa Afkar saat ini semua itu tidak perlu aku laporkan pada Mas Dion. Tapi yang pasti aku mengambil anakku melalui prosedur resmi bersama pengacaraku, bukan dipisahkan paksa seperti yang Mas lakukan padaku. Membawanya pindah tanpa aba-aba, tak memberitahuku meski aku memohon ke mana kalian mendadak pindah membawa anakku, memisahkannya paksa dariku, mengajukan persyaratan egois bahkan tak berperikemanusiaan membanderol rasa ingin bertemuku dengan Afkar, memasang tarif tebusan dengan sejumlah uang yang artinya sama saja Mas menjual Afkar! Urusan kita akan diselesaikan melalui jalan yang seharusnya yaitu di pengadilan,” seloroh Khalisa tegas, kilat bola matanya penuh kemarahan.


“Cih, baru pertama kali didampingi pengacara saja kamu sombong sekarang. Tunggu saja, kesombonganmu itu takkan bertahan lama, kita lihat siapa yang bakal menang nanti. Kamu juga harus ingat, Khalisa. Aku berhak menemui Afkar dan mengetahui di mana dia berada karena aku adalah ayahnya! Kamu tidak bisa seenaknya begini!” desak Dion tak tahu malu.


Sebelah tangan Khalisa terkepal, napasnya berderu, sudut matanya menggenang terakumulasi marah terpendam, serta nelangsa mengingat kembali momen saat melihat Afkar yang sakit tergolek tak berdaya di ranjang pembantu.


“Kamu pikir kamu pantas disebut sebagai ibu, huh? Memangnya kamu punya biaya untuk menghidupi Afkar? Punya rumah untuk tempat Afkar bernaung? Juga ini mencurigakan, dari mana kamu punya modal untuk membayar pengacara juga biaya untuk mengubah penampilan kampunganmu, padahal setahuku kamu sudah berhenti bekerja sebagai OB? Ini tidak masuk akal, walaupun kamu masih bekerja, gaji OB tidak mungkin cukup untuk memenuhi semua itu. Jangan-jangan kamu menggaet pria kaya dan jadi peliharaan sugar daddy? Bisa jadi penampilan tertutupmu cuma kamuflase. Memang benar-benar cocok, sesuai dengan asal usul miringmu, murahan! Apakah dia sugar daddynya?” cerocos Dion dengan nada mengejek, mengedikkan dagunya pada Yudhis yang sedari tadi tak bersuara, hanya mengamati datar tanpa ekspresi.


“Jaga mulut Anda Pak Dion!” geram Khalisa semakin emosi.


Mengurai genggaman, Yudhis merangkul pinggang Khalisa posesif, mesra. Meremasnya lembut, menyalurkan ketenangan dan kekuatan pada Khalisa yang wajahnya sudah merah padam diliputi amarah disertai bola matanya mengkilap basah.


Dion membelalak melihat di mana tangan Yudhis mendarat. Yudhis mengukir senyum, tetap tenang kemudian berkata, “Bukan sugar daddy, tapi saya pendamping hukumnya Khalisa.”


“Pendamping hukum? Jadi kamu si pengacara yang mau-mau saja membantu Khalisa yang tak berduit? Dengan apa Khalisa membayarmu, huh? Dia itu sudah pasti tidak punya uang. Apakah dia membayar jasamu dengan tubuhnya?” Dion menyeringai remeh pada Khalisa. Dia juga memindai Yudhis dari kepala hingga kaki, dan tak sulit menyimpulkan betapa tajirnya sosok berkharisma ini hanya dari jam tangan yang dipakainya saja.


“Ah, sayangnya bukan begitu konsepnya. Karena selain pendamping hukum, saya juga pendamping hidupnya sekarang,” jawab Yudhis lugas. Tetap elegan berkelas.


“Apa maksud Anda?” sambar Dion cepat.


“Perkenalkan, saya Yudhistira Lazuardi. Pengacara Khalisa sekaligus suaminya. Kami sudah menikah, apakah Anda tidak ingin memberi selamat?”


“Menikah?” Dion membeo mirip orang bodoh yang dilempar bom tepat di ubun-ubunnya. Terkejut bukan kepalang.


“Ya, menikah. Ah, begini Pak Dion, urusan Anda dengan istri saya akan kita selesaikan di meja hijau secara resmi. Tapi, mungkin saya akan melayangkan somasi lain, dengan tuduhan pencemaran nama baik karena Anda telah mengatai istri saya simpanan juga murahan. Bersiap saja, karena itu bisa jadi salah satu faktor yang dapat melemahkan peluang menang Anda di pengadilan,” jelas Yudhis tanpa teriakan seperti yang Dion lakukan.


“Dan satu hal lagi, Khalisa tidak memerlukan sugar daddy untuk membantu urusannya juga membuatnya jadi lebih menawan dari sebelumnya, karena cantiknya Khalisa berasal dari hatinya yang secantik parasnya ditambah perhatian penuh dari suami, maklum suaminya dulu tidak memberinya perhatian dengan semestinya,” sindir Yudhis menohok. “Ayo, Bunda Sayang, kita pulang, nanti kamu masuk angin kalau terlalu lama di sini.” Yudhis berujar penuh perhatian sembari melirik mesra pada Khalisa, membuat Dion semakin terbakar berang.


Khalisa secara impulsif melingkarkan lengan ke pinggang Yudhis, ingin membuat Dion semakin berang begitu mendapati reaksi Dion tak terima dirinya telah menikah lagi.


“Ayo, Papa Sayang, bawa aku pulang secepatnya. Di sini suasananya enggak enak. Mungkin banyak dedemitnya. Sampai jumpa di pengadilan, Pak Dion,” tegas Khalisa sembari melenggang pergi, meninggalkan Dion yang mematung linglung.


Mobil Yudhis melesat pergi, sementara Dion yang membeku, diteriaki dan didatangi dua orang satpam akibat telah membuang puntung rokok sembarangan. Tak melawan maupun memberontak saat para satpam menarik lengannya kasar, terlalu terkejut akan kalimat menikah yang dilontarkan si pria yang menyatakan diri sebagai pengacara sekaligus suami Khalisa.


“Menikah?” gumamnya tak percaya. “Pasti kalian membual!” teriaknya tak sadar diri sedang diseret masuk sembari diomeli karena telah melanggar peraturan mal.


Bersambung.


Jangan lupa hadiah dan votenya ya🥰, terima kasih pembacaku tersayang.