Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Silau Dunia


Bab 34. Silau Dunia


Niatan Yudhis mengembalikan KTP Khalisa ke alamat yang tertera harus tertunda, Barata sang ayah mengabari bahwa neneknya di Bali masuk rumah sakit ketika Yudhis sedang membeli sekeranjang barang di toko khusus mainan anak-anak.


Oma masuk rumah sakit. Papi minta kamu datang ke Bali, secepatnya. Khawatir terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Omamu terus bertanya tentangmu juga Brama, ingin bertemu kalian, ingin berkumpul dengan anak cucu. Om Juna dan Tante Anggi beserta Brama sudah terbang ke Bali, sedang dalam perjalanan. Juga mamimu menangis terus melihat Omamu mendadak kritis, cuma penghiburan dari kamu yang paling mempan menenangkan mamimu. Pulanglah dulu, Nak. Kami membutuhkan kehadiranmu.


Mengesampingkan hal tentang Khalisa dipilih Yudhis meski hatinya mendorong kuat untuk tetap melanjutkan niatannya hari ini juga. Namun, sosok Marina sang nenek merupakan bagian yang teramat penting dalam hidupnya. Juga Maharani sang ibu si pelita yang meneranginya dengan kasih sayang luar biasa merupakan sosok yang begitu berarti baginya sedang membutuhkannya. Memprioritaskan keluarga lebih utama untuk saat ini kendati bagi Yudhis keduanya tak kalah penting sekarang. Tak lupa menghubungi Erika sebelum bertolak ke pulau Dewata.


“Erika, tolong berkoordinasi dengan Raja dan beberapa advokat lainnya di kantor untuk menangani urusan LBH selama aku pulang ke Bali. Aku belum bisa memastikan kapan kembali karena belum tahu situasi di sana seperti apa, tapi kuusahakan cepat.”


*****


Kabar kepindahan mendadak Dion dan keluarganya membuat perasaan Khalisa tak menentu. Kini, ia bukan hanya dipisahkan paksa dari Afkar, Khalisa merasa anaknya seolah dicuri dan dibawa lari, membuatnya ingin berteriak dan menjerit, seakan seluruh sukmanya dipereteli.


Khalisa berteduh di sebuah pos ronda setelah meninggalkan kawasan di mana rumah Wulan berada. Menghalau terik yang menyengat kulit kepala. Wajah pucatnya dihiasi titik-titik peluh, belum lagi tulang selangkanya yang terlihat menonjol membuatnya tampak semakin mengkhawatirkan.


Memeriksa ponselnya yang untungnya masih terisi baterai. Dengan tangan gemetaran imbas dari berbagai macam kecamuk emosi yang bertubi-tubi menghantam jiwanya yang memang sudah rapuh terkikis oleh tekanan batin terus-menerus sejak lama, Khalisa mengecek pulsa yang terisi. Ia hendak menghubungi Dion, hendak mencecar ke mana Dion membawa Afkar.


“Gimana ini, pulsanya habis,” cicitnya kalut juga perih.


Teringat pada celengan yang dibawanya, Khalisa membuka dan membongkarnya di pos ronda itu. Membuka penutup kaleng susu dan mengeluarkan semua isinya yang seluruhnya hanya kepingan uang koin. Menghitung dengan hati-hati uang koin yang didominasi angka lima ratus rupiah itu, dan jumlah yang didapat sekitar dua ratus ribu, hasil dari upayanya menabung ala kadarnya selama hampir satu tahun. Sebuah minimarket di seberang pos ronda menjadi tujuannya sekarang, untuk mengisi pulsanya supaya bisa menghubungi Dion dan meminta penjelasan.


****


“Unda … unda ….”


“Uluh, Sayang, mau Bunda ya? Kasihannya kamu, Nak,” cicit Ceu Wati sedih, merasa tak tega. Mengayunkan Afkar dengan sabar dalam gendongannya memakai kain jarik.


“Mau unda, mau peluk unda,” isaknya tersedu-sedu.


Sebab hal inilah Dion sekeluarga pindah rumah atas usulan Amanda, usulan yang lebih cocok dinamai titah. Manda mengeluh terganggu dengan suara tangisan Afkar, sedangkan di rumah mewahnya sudah dilengkapi anti kedap suara, sehingga tangisan berisik Afkar tidak terlampau mengganggunya.


“Aku setuju dengan keinginan Mas untuk tetap mengurus Afkar karena aku cinta sama Mas, walaupun sebetulnya aku inginnya anak itu diberikan saja pada ibunya. Aku takut, nanti kasih sayang Mas sama bayi kita enggak maksimal,” keluh Amanda sembari bersandar manja pada Dion. Mereka sedang bersantai di loteng lantai dua.


Dion tidak menjelaskan alasan gamblangnya yang sesungguhnya berat melepas Khalisa membawa Afkar, mendoktrin diri melakukan hal tersebut berlandaskan kemarahan untuk memberi pelajaran pada Khalisa yang telah berani membuatnya murka. Berdalih pada Amanda tetap mengikat Afkar dekat dengannya dengan alasan karena bagaimanapun juga Afkar adalah putra kandungnya, yang merupakan haknya.


“Enggak mungkin begitu lah, Sayang. Walaupun Afkar ada di sini, cintaku buat bayi kita enggak akan berkurang sedikit pun porsinya.” Dion berkata dengan nada membujuk, mengusap perut Amanda lembut. Walaupun sekarang dia gamang akan perasaannya sendiri setelah kata cerai untuk Khalisa berderai, ada rasa tak biasa yang mengganggu jauh di dasar hati.


“Semalam Mami mengirimiku pesan, keputusan mengangkat Mas sebagai kepala koperasi kantor pusat akan dipercepat jadi minggu depan. Kalau menunggu sampai bayiku lahir, takutnya nanti Mas enggak fokus momong bayi kita karena disibukkan urusan pekerjaan.”


Raut wajah Dion semringah tiada tara, memeluk Amanda dalam sorak sorai gembira, tak pernah menyangka jabatan tinggi itu didapatnya dengan mudah, hanya dengan bersedia menikahi Amanda yang sudah tidak perawan saja dia kini mendapat hadiah berupa rasa hormat dan decak kagum banyak orang seperti yang selalu digaungkan ibunya di telinga. Bahwa harta, tahta dan kasta lebih utama di atas segalanya, hal yang selama ini diimpi-impikannya. Tak keberatan mengorbankan cinta si tulus yang telah lebih dulu mengabdikan segenap jiwa raga padanya.


“Makasih, Sayang.”


“Kalau betulan makasih, harus disertai dengan aksi nyata, bukan cuma di mulut saja.”


“Aksi nyata, apa itu?” tanya Dion penasaran.


“Bantu aku mandi. Lebih tepatnya mandi bareng,” ujar Amanda mengkerling manja yang dibalas Dion dengan kecupan.


“Mas, kayaknya teleponmu bunyi.” Amanda menunjuk ponsel Dion yang bergetar tanpa nada dering di nakas.


“Kalau gitu aku angkat telepon dulu, kamu ke kamar mandi duluan, nanti aku menyusul.”


Bersambung.