Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Penjaga Hati


Bab 109. Penjaga Hati


Yudhis masih membeku di tempatnya berdiri. Dibuat terkesiap sekaligus terkesima. Detak sumber kehidupannya berdegup lebih cepat, berkejaran berlarian.


“Barusan itu Khalisa benar-benar balas menciumku kan?” tanyanya dalam hati.


Telapak tangannya otomatis meraba bagian pipi yang dikecup bibir merah nan manis Khalisa. Melambungkan harapan cintanya yang disimpulkannya berbalas meski belum sepenuhnya.


Mendapat respons manis menggetarkan dada, menimbulkan keinginan Yudhis menambahkan kadar sentuhan ringan lainnya. Penasaran ingin tahu bagaimana reaksi Khalisa, apakah akan tetap manis seperti yang baru saja terjadi? Atau malah sebaliknya.


Mengurungkan niatannya membasuh raga, Yudhis memangkas jarak dan mendekati Khalisa. Dia menyergap Khalisa, memeluknya dari belakang, memiringkan kepala dan menghujani sebelah pipi Khalisa dengan kecupan gemas bertubi-tubi, membuat Khalisa gelagapan.


“Ampun, Bang, geli,” cicitnya disusul tawa yang tak tahan dengan rasa geli saat Yudhis menggelitiki perutnya, bukan hanya menciumi pipinya.


Menghentikan keisengan, Yudhis memutar bahu Khalisa perlahan di saat Khalisa masih tertawa akibat sisa-sisa rasa geli yang menjalari sekujur tubuhnya.


Memerangkap Khalisa di antara kedua lengannya yang bertumpu di meja kabinet dapur, Yudhis mendesakkan raga hangat dan lembut Khalisa dan membungkukkan tubuh jangkungnya perlahan, mengecup ujung hidung dan merambat mengecup bibir Khalisa sekilas.


Tawa Khalisa terhenti, ia menelan ludah, gugup akan sikap Yudhis kali ini yang terasa lebih intim. Terlebih kini jarak wajahnya dengan Yudhis hanya satu jengkal saja, amat dekat.


“B-Bang, aku mau masak dulu,” cicit Khalisa dibuat belingsatan.


“Tahukah kamu? Kamu tampak lebih lezat dari menu apa pun di dunia ini,” goda Yudhis yang membuat Khalisa merona malu sekaligus kikuk bukan kepalang.


Namun, kegiatan manis itu sayang harus terhenti begitu bel berbunyi, menandakan rumahnya kedatangan tamu.


“Akh, mengganggu saja,” keluh Yudhis sembari menyugar rambut.


Kendati enggan, Yudhis melepaskan perangkap kedua lengan setelah mengecup lagi bibir Khalisa. Dengan langkah gontai menuju ke depan rumah, sebab sejak Barata dan Maharani pulang ke Bali, Mang Darjat maupun Bi Dijah memberitahu belum bisa datang ke rumahnya, mengatakan sedang ada keperluan keluarga, sehingga Yudhis hanya berdua saja dengan Khalisa saat di rumah.


“Assalamuala’ikum.”


Ucapan salam bernada berat yang sangat dikenalinya terdengar, siapa lagi kalau bukan Ghaisan. Pintu dibuka dan Yudhis balas menjawab salam sang sahabat.


“Tetap saja kau mengganggu!” dengus Yudhis sembari melebarkan celah pintu, mempersilakan tamunya masuk dan duduk di ruang tamu.


Rupanya bukan cuma Ghaisan yang datang, di belakang Ghaisan Aloisa mengekori sama-sama menyengir jahil, diikuti Farhana juga Syafa ikut serta datang bertamu.


“Tadi Mbak Farhana menyusul ke klinik, saat meneleponku dan asistenku bilang aku sedang menangani perawatan Khalisa, mau kasih kado katanya. Sewaktu akad belum sempat ngasih karena Mbak Farhana diberitahu dadakan. Berhubung Mas Ghaisan yang jemput aku pulang mau beli pecel lele yang dekat gerbang komplek kavling perumahan ini, jadinya biar sekalian kita mampir dulu saja. yang penting enggak datang tengah malam,” ujar Aloisa, terkekeh penuh arti.


“Iya, maaf ya, Mbak baru bisa kasih sekarang. Kemarin-kemarin Mbak sibuk dengan urusan mengisi nilai para murid. Maaf juga sudah ganggu pengantin baru,” kata Farhana yang memang tulus ingin memberi kado pada Khalisa. Sewaktu Khalisa tinggal di rumah Aloisa, dia dan Khalisa sempat bertukar kata cukup akrab. “Di mana Khalisa?”


“Ada di dapur, sebentar kupanggilkan.” Yudhis berlalu ke belakang, meninggalkan para tamunya.


Syafa yang baru pulang KKN siang tadi, bersama Farhana datang ke klinik Aloisa dan ikut pulang di mobil Ghaisan, membawanya ikut bertamu ke rumah Yudhis.


Syafa yang belum tahu perihal obrolan saudara-saudarinya, sejak tadi terdiam mendengarkan, mengamati tanpa kata, belum paham akan kalimat pengantin baru yang dimaksud semua orang ditujukan untuk siapa.


“Memangnya temannya Mbak Farhana yang menikah itu ada di sini? Kok anter kadonya ke rumah Bang Yudhis?” imbuhnya tak paham, sebab belum mengetahui perihal Yudhis yang sudah menikah, mengingat dia baru pulang KKN dari luar kota untuk beberapa waktu.


“Ya memang di sini, kan yang nikahnya itu Bang Yudhis sama Khalisa,” celetuk Aloisa santai, berbeda ekspresi dengan Syafa yang membeliak terkejut.


“Enggak mungkin! Jangan bercanda kayak gini. Gak lucu!” seru Syafa kesal.


“Lho, siapa yang bercanda, memang Yudhis dan Khalisa yang menikah, dan Mbak ke sini mau antar kado buat Khalisa. Masa berita pernikahan dibuat lelucon.”


Farhana ikut menimpali, menguatkan pernyataan Aloisa. Bertepatan dengan Yudhis yang menggandeng Khalisa mesra memasuki ruang tamu, mengundang pelototan Syafa yang syok dan tak terima pria impiannya sudah memiliki pasangan tanpa sepengetahuannya. Merasa ditikung orang baru, padahal sudah jelas sejak dulu Yudhis tak pernah merespons perasaan Syafa dalam konteks romantis sedikit pun.


“Dasar janda penggoda! Sudah kuduga kamu itu rubah licik, mendekati Bang Yudhis lantaran punya maksud lain terselubung! Kamu pasti pakai guna-guna kan? Enggak mungkin Bang Yudhis yang terhormat mau menikah denganmu yang katanya cuma turunan tak jelas asal-usulnya!” teriaknya dengan telunjuk mengacung penuh emosi, mengejutkan Khalisa hingga berjengit.


“Syafa!” bentak Farhana yang tak menyangka akan reaksi adiknya, dibuat kaget juga tak enak hati.


“Syafa, sebaiknya jaga bicaramu. Kita mungkin sudah kenal lebih lama dan aku pun sudah menganggapmu keluarga. Tapi kalau kamu bersikap tak menyenangkan pada Khalisa, aku tak segan mengirimkan somasi buat kamu, karena sekarang Khalisa adalah istriku dan sebagai suami kewajibanku adalah melindungi jiwa dan raganya. Paham?”


Bersambung.