Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Aku Milikmu


Bab 163. Aku Milikmu


Pagi-pagi sekali Khalisa sudah bersiap-siap. Berdandan cantik mengenakan gamis warna dusty pink dilengkapi hijab pashmina senada, warna kesukaannya. Kemarin ia tak jadi berangkat mencari Windy, sebab waktu terlalu sore hampir menjelang Magrib.


Upaya pembujukkan tentu saja dilakukan Yudhis untuk bernegosiasi dengan Khalisa dalam memindahkan jadwal mencari si tukang kredit daster. Yudhis dibuat pusing tujuh keliling akibat ulahnya sendiri, terutama pada poin membujuk ekstra agar diizinkan tetap tidur di kasur yang sama karena Khalisa mendadak merajuk tidak mau tidur seranjang, mengatakan sebab masih kesal.


Hari ini Yudhis sengaja meluangkan waktu sampai jelang makan siang, meminta Raja memindahkan semua jadwal pekerjaan ke waktu selepas tengah hari, sebagai penebus kesalahannya pada Khalisa kemarin yang telah berbohong perihal perkara daster.


“Papa, ayo kita jalan. Bunda udah enggak sabar,” panggil Khalisa ceria, sudah duduk manis di jok depan mobil. Afkar juga turut diajak. Si balita yang sebentar lagi berusia empat tahun itu sudah segar, ganteng dan wangi. Ceu Wati membubuhkan bedak bayi hingga cemong di pipi gembulnya setelah mandi tadi, membuatnya bertambah lucu serupa kue moci.


“Tita mau temana, Unda?” Tanyanya antusias. Bediri di depan pangkuan sang bunda sembari menepuk-nepuk dashboard mobil.


“Kita mau cari Tante Windy. Tante Windy yang pernah kasih Afkar makan bubur kacang di rumahnya pas Bunda bantu-bantu rapikan baju-baju waktu itu. Masih ingat enggak, Nak?” Khalisa mengusap-usap lengan sang anak saat berbicara, berinteraksi melalui sentuhan juga lisan. Lalu mengecup gemas pipi bulat sang anak.


Afkar mengangguk-angguk dan menjawab 'Ya', bertepatan dengan Yudhis yang muncul di garasi. Afkar berjingkrak senang kala mesin dihidupkan. Bertepuk tangan dan berceloteh ingin mengendarai mobil juga saat besar nanti.


Mereka pergi bertiga. Membelah jalanan pagi dengan nyanyian riang. Gelak tawa menghiasi, potret keluarga harmonis yang dulu hanya hadir dalam angan Khalisa, serupa mimpi baginya saat menjadi nyata.


Khalisa masih ingat dengan alamat Windy. Ia menjadi penunjuk arah ke mana suaminya harus memandu ban mobil berputar.


Mobil berhenti di sebuah gang kecil. Khalisa bersemangat turun disusul Yudhis yang memangku Afkar di belakangnya. Sesekali Yudhis tak tahan menahan kebawelan, khawatir istrinya yang sedang hamil itu tersandung sebab terlalu bersemangat mengayunkan kaki, tetapi tidak mau dipegangi.


“Bunda, pelan-pelan jalannya. Ingat itu bawa-bawa drumband di perut,” gumam Yudhis setengah menggerutu.


Mereka sampai di rumah yang di maksud. Jarak dari depan gang tidak terlalu jauh. Hanya ada suami Windy di rumah. Suami Windy pernah bertemu beberapa kali dengan Khalisa, dan cukup dibuat bingung sebab tak mengenali soosk Khalisa yang sekarang. Anggun dan berkelas.


“Ini teh, Teteh Khalisa tea?” ujarnya sempat tak percaya. “Wah, Afkar makin gendut dan ganteng,” sapanya ramah pada Afkar juga.


“Sumuhun, Kang. Saya Khalisa. Temannya Teh Windy. Saya ke sini ingin beli daster dagangan Teh Windy, buat nuntasin ngidam.” Khalisa mengusap perut buncitnya sembari melirik kepada pria tampannya, dan suami Windy langsung paham dengan situasi ini.


“Perkenalkan, saya Yudhistira. Suami Khalisa. Saya ke sini mengantar istri saya yang mengidam ingin membeli daster yang dijual Mbak Windy,” jelas Yudhis dengan intonasi cakap seperti biasa.


Suaminya Windy bersalaman dengan Yudhis sembari tak henti terkagum-kagum pada sosok pria perlente yang bertamu ke rumahnya, kemudian dia menjelaskan bahwa Windy sudah berangkat sejak jam enam pagi sebab banyak pesanan baju kreditan yang harus diantar. Nomor ponsel Windy pun dihubungi oleh suaminya, tetapi sayang tidak diangkat.


“Gimana atuh ya, Teh Khalisa. Kayaknya istri saya lagi bawa motor. Tadi bilangnya mau ke Buah Batu juga. Ada pesanan baju si ibu tukang bubur. Mau nunggu di sini atau balik lagi nanti? Tapi saya sebentar lagi harus berangkat kerja ke pasar. Baju-baju daster dewasa kebetulan semuanya ikut dibawa, bukan cuma baju pesanan saja, yang ditinggal di sini cuma piyama anak-anak.”


Khalisa tampak berpikir. Raut wajahnya berangsur berubah, seperti ingin mengatakan sesuatu pada Yudhis namun enggan.


“Kenapa, mau disusul ke Buah Batu?” tawar Yudhis lembut seraya mengusap kepala Khalisa.


Khalisa yang menunduk muram seketika mengerjap cerah. “Abang beneran mau anterin aku buat nyusul ke sana?” imbuhnya senang setengah tak percaya.


“Mau dong. Hari ini sampai siang nanti aku akan melayani dan mengantar kemanapun istriku ingin pergi. Ayo berangkat.”


Bersambung.