Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Menjaga Kehormatan


Bab 49. Menjaga Kehormatan


Si cantik lugu Khalisa mengayunkan kaki mengikuti ke mana Yudhis melangkah begitu sampai di halaman sebuah rumah. Sesekali membetulkan letak karet celana trening di bagian pinggang, tampak kerepotan. Lekuk seksinya tenggelam tersembunyi di balik sweter dan trening Yudhis yang tentu saja kedodoran saat dipakai Khalisa, mengingat baju tersebut tidak sesuai dengan ukurannya.


Bola mata Khalisa yang berkilauan lebih indah di pagi hari ini mengedarkan pandangan ke sekitar. Khalisa ingin bertanya, sebenarnya Yudhis hendak membawanya ke mana? Akan tetapi ia terlupa, lantaran tersihir pesona rumah yang menguarkan rasa hangat serta damai, tak kalah asri meski tidak sebesar rumah Yudhistira.


“Assalamu’alaikum.”


Yudhis mengucap salam, mengetuk pintu beberapa kali. Terdengar balasan salam dari dalam rumah dibarengi pintu yang terbuka. Wanita cantik beraura ceria menyambut. Siapa lagi kalau bukan si Dokter Kulit Aloisa yakni istrinya Ghaisan, mempersilakan mereka masuk dan menyapa ramah.


“Jadi ini klien yang Abang maksud? Waw, cantik bening ya,” ujar Aloisa, menaik turunkan alis jahil pada Yudhistira.


“Ada apa dengan alismu? Gatal?” dengus Yudhis sebal, sementara Aloisa cekikikan puas.


“Hei, jangan galak-galak. Gimana bisa mengakhiri status jomblo kalau bawaannya sangar melulu,” sambung Aloisa iseng. Terlebih saat melihat wajah Yudhis bersemu dan telinganya memerah. Merupakan kali pertama Aloisa dusuguhi air muka berbeda si pengacara bawel namun ganteng ini.


“Ehm, ini bukan galak, tapi aku memang begini.” Yudhis menyangkal keras, membuat Aloisa manggut-manggut sembari mengulum tawa yang ingin meledak.


“Subuh tadi Mas Ghai sudah cerita banyak, kalau Abang mau titip klien di sini untuk sementara. Aku sudah siapkan kamar buat dia menginap. Mas Ghai sudah berangkat kerja, ke lokasi laka lantas tiga hari lalu untuk olah TKP.”


“Khalisa, ini Dokter Aloisa, istrinya Pak AKP Ghaisan, sahabatku. Sebaiknya tinggal dulu di sini sampai kita mendapatkan tempat tinggal yang aman. Memutuskan berurusan dengan hukum terkadang keamanan perlu ditingkatkan. Sebetulnya bernaung sementara di rumahku juga tak kalah aman, cuma karena aku masihlah bujangan, khawatir timbul fitnah, mengingat kita bukan mahrom. Jadi untuk sementara hanya di sini tempat terbaik yang paling aman,” jelas Yudhis pada Khalisa yang sejak tadi hanya membuka mulut beberapa kata saja.


Khalisa meremat jemari, tampak bimbang, merasa tak enak hati. “Aku dan masalahku jadi merepotkan banyak orang. Bagaimana kalau aku tinggal di kantor Bang Yudhis saja? Mungkin ada ruangan kosong,” ucap Khalisa pelan, memutuskan memanggil Yudhis dengan sebutan Abang setelah bolak-balik berpikir di sepanjang perjalanan tadi.


Yudhis dan Aloisa menyambar kata berbarengan, mengarahkan pandangan bersamaan, membuat Khalisa berjengit kaget dan mengerjap kaku.


Aloisa berpindah duduk ke samping Khalisa, lalu menggenggam punggung tangan Khalisa. “Sudah, sama sekali enggak ngerepotin, jangan jadi beban pikiran. Tinggallah di sini, supaya mempermudah Bang Yudhis dalam menangani permasalahanmu juga, memastikan kamu aman salah satunya. Orang yang sekiranya mampu membantu sesamanya yang sedang kesusahan, sudah merupakan kewajibannya untuk menolong. Jadi, jangan sungkan.”


“Dengar itu kan, Khalisa?” imbuh Yudhis kemudian. “Lagi pula tidak mungkin aku membiarkanmu tinggal di kantor meski ada ruangan kosong. Wanita itu harus dijaga kehormatannya, dan itulah yang sedang kulakukan padamu sekarang.”


Rintik-rintik rasa haru seketika menghujani kalbu Khalisa yang gersang kerontang. Dirinya diperlakukan begitu berharga juga dipandang hormat sebagai sesama manusia merupakan hal langka baginya. Sudut matanya berair, cepat-cepat Khalisa menyusutnya menggunakan punggung tangan, tak ingin Yudhis dan Aloisa melihatnya.


“Terima kasih, terima kasih banyak, Bang Yudhis, Dokter Aloisa,” ucap Khalisa serak, luapan terenyuh hatinya takkan mampu diungkapkan dengan kata-kata saking luar biasanya.


Mengambil sesuatu dari saku jas bagian dalam, Yuhdis menyodorkan sebuah gawai yang lebih canggih pada Khalisa.


“Ini ponsel buat kamu, nomornya baru. Cepat salin ke ponsel ini nomor-nomor yang kamu anggap penting, terus buang nomor lamamu sekarang juga. Ini demi keamananmu, juga merupakan bagian dari rencana yang kususun dalam menyelesaikan permasalahanmu satu-persatu. Nomor pribadiku sudah ada di daftar kontaknya, cukup tekan angka nomor satu, kamu akan langsung tersambung padaku, supaya bisa lebih cepat menghubungi kalau ada apa-apa.”


Patuh, Khalisa menerima benda yang diberikan Yudhis dan melaksanakan permintaan Yudhis. Semalam, ia sudah bertekad meletakkan kepercayaan pada pria ini, bertambah yakin mengingat akan kebaikan Yudhis yang tanpa pikir panjang mengeluarkan begitu banyak uang hanya untuk menyelamatkannya dari kubangan nista, rasanya tidak ada celah untuk meragu.


“Loi, titip Khalisa, nanti siang aku akan menjemputnya, ada keperluan yang mengharuskan dia ikut,” kata Yudhis, berpesan sebelum pergi. Melongok ke ruang tamu beberapa kali, mencuri pandang pada Khalisa yang sedang meneguk teh hangat yang disajikan ART di rumah Aloisa.


“Hmm, jangan khawatir, hari ini aku ke klinik jam satu siang. Pergilah, biarkan bidadari cantik itu di sini, dijamin aman,” cicit Aloisa yang mengerling aneh, tak tahan untuk menggoda, mendapati bahasa tubuh Yudhis resah tidak biasa saat harus meninggalkan Khalisa.


Bersambung