
Bab 126. Miris
Wajah Dion begitu kusut, cerminan suasana hatinya yang semakin carut marut dari hari ke hari. Penuh masalah tak berkesudahan di setiap menitnya. Kedamaian seakan enggan menghampiri, bahkan ketenangan pun sudah lama tak didapatkannya, seolah memusuhi.
Semua karyawan showroom sudah bubar, sedangkan Dion masih berada di ruangannya seorang diri. Sosok seksi yang sering terlihat menemaninya di saat dirinya sedang bad mood, yang biasanya bersimpuh merayap di kolong meja atau berlutut di karpet depan sofa untuk menyenangkan dan memuaskan titik pusat didih di antara kedua kakinya, guna meredam kecamuk di kepala saat para karyawan sudah pulang, saat ini juga tak terlihat keberadaannya.
Tadi siang, Gladys yang memang beberapa hari ini mengeluh kurang sehat meminta izin pulang lebih awal untuk pergi ke klinik langganannya, selain untuk berobat, juga sudah waktunya mengulang suntikan pencegah kehamilan. Lantaran setiap kali bermain, Dion menolak memakai pengaman dan memerintahkan Gladys melakukan kontrasepsi secara rutin.
Di suasana hening gedung showroom, ditemani bising kendaraan berlalu lalang di jalan serta bunyi notifikasi tak henti di ponselnya yang sudah tentu berasal dari Amanda, Dion bersandar pada jendela ruangannya yang terletak di lantai dua itu, menatap kosong pada suasana malam di luar sana. Aroma kuat bakaran tembakau membuat udara di ruangannya pengap, Dion sengaja membuka jendela dan berdiam di sana, menyesap rokoknya kuat-kuat. Gumpalan asap mengepul ditiupkan melalui hidung juga mulutnya, diselingi beberapa tegukan minuman beralkohol yang menjadi teman akrabnya akhir-akhir ini.
Dia masih dalam mode menyangkal penjelasan salah satu tim advokatnya yang menyarankannya untuk menyerah saja, menghamburkan uang pun dinilai percuma. Semua bukti juga berkas lampiran yang dimiliki Khalisa bersama pengacaranya sekaligus suaminya semakin memukul mundur peluang menangnya. Tak ada lagi celah, nyaris mustahil. Dan kenyataan lain yang tadi didengarnya membuat jurang pemisah yang tercipta antara dirinya dengan Khalisa semakin menganga lebar.
“Bukankah ini yang kuinginkan? Berlimpah harta, bergelimang jabatan juga hormat para kerabat serta kawan yang di kini tak lagi meremehkan. Tapi setiap hari rasanya di sini amat kosong? Juga kenapa Khalisa yang seharusnya bergantung padaku malah semakin dijauhkan dariku? Seharusnya bukan begini?” ucapnya pada semilir angin lalu yang membawa asap rokok menjauh, seraya meraba dadanya sendiri yang terasa kian nyeri entah mengapa dari hari ke hari.
Hidupnya kini berbanding terbalik dengan angannya dulu, mengira berlimpah harta, tahta, pujian juga decak kagum yang kini membalutnya tanpa peduli jalannya entah salah atau benar dalam upaya mencapainya, akan mendatangkan standar kebahagiaan yang dulu dikejar-kejarnya. Standar yang semakin ingin diraih tanpa prinsip, tak terkendali lajunya sebab terus disiram berondongan provokasi ibunya juga orang-orang terdekatnya yang ikut berperan serta. Mengabaikan lubuk hatinya yang menjerit, mengerang kesakitan saat penghuni terindah dan termurni di dalam sana diusir paksa dengan keji. Terlalu menghamba pada hawa nafsu, mengambil alih nalar juga akal sehat.
Hal-hal yang semula dikira akan mendatangkan kebanggaan dan kebahagiaan seperti yang digaungkan Wulan selama ini, tak lagi dirasakan Dion, baginya, semua pencapaiannya kini bak fatamorgana. Hidupnya terasa hambar, menjadikannya harus bersusah payah mencari makna bahagia yang semakin sulit didapat, hilang entah sejak kapan. Bahkan tak segan menghamburkan banyak uang yang bukan miliknya seutuhnya hanya untuk mencari secuil rasa yang namanya bahagia itu. Akan tetapi, sejauh apa pun mencari, nyatanya dia hanya berputar-putar di lingkaran setan tak berujung, terus bermuara pada keresahan yang sama, menggerogoti hati dan pikiran di setiap menitnya layaknya parasit ganas.
Sembilu tak kasat mata sedang menjalankan tugasnya mengganjar perlahan dan pasti, mengiris-iris kalbunya mencipta perih. Kalbunya masih diliputi kabut ambisi kendati semakin hari kian memudar, ambisi keserakahan juga provokasi membutakan sebab lemahnya diri dalam berprinsip. Menimbulkan rasa tak terima andai Khalisa lebih berbahagia tanpanya, sedangkan dirinya tertatih-tatih semakin sulit menemukan itu sekarang. Tersiksa rasa sesal yang mulai merayap. Karena di dasar hatinya masih menyimpan getar rasa cinta pada Khalisa setelah wanita bermata sendu itu dicampakkannya tak berperasaan, menyia-nyiakan yang berarti, tergeser silaunya cinta duniawi.
“Ffuhh, ada apa denganku?” gumam Dion pelan, menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.
Diselimuti penat, Dion tertegun di ambang pintu rumahnya, lebih tepatnya rumah Amanda. Mendadak dia rindu sambutan hangat memanjakan yang dulu rutin dilakukan Khalisa di saat dirinya pulang bekerja, hal yang tak lagi didapatnya karena Amanda lah yang justru menuntut dimanjakan olehnya, hanya menyambut manis saat ada maunya saja, seakan timbal balik kontan karena Dion pun hanya menganggap Amanda tambang emas semata. Hal yang dulu dianggap remeh temeh, ternyata begitu berarti setelah semua hilang dari genggaman. Yakni senyum tulus penuh penghiburan Khalisa dan celoteh Afkar yang ingin disapanya, sesuatu yang dulu kerap diabaikan.
“Lagi banyak pekerjaan, hari ini lumayan menyita waktu. Terlebih aku harus mengurus dua perusahaan,” sahut Dion, nada suaranya nyata amat lelah, meski begitu tetap berusaha mengulas senyum di hadapan tambang emasnya.
“Oh ya?” imbuhnya sangsi. Ujung bibir Amanda berkedut, sudut matanya meruncing. “Sibuk mengurus perusahaan atau sibuk mengurusi ingin memenangkan sidang? Kenapa banyak pengeluaran dana di luar kepentingan perusahaan menggelontor ke rekening tim pengacara yang kutunjuk sebagai kuasa hukum untuk membantu Mas terkait masalah perusahaan? Jangan bilang Mas sebenarnya masih mengharapkan Mbak Khalisa kembali padamu!” cecarnya sengit, tersengal murka. Menunjukkan selembar rekening koran.
Punggung Dion menegang. Berusaha tetap tenang meski panik. “Lho, kok ngomongnya gitu, Sayang.” Dion mendekat pada Amanda, membujuk. “Semua dana itu kukeluarkan demi kepentingan perusahaan. Untuk memanipulasi pajak supaya kita membayar dalam jumlah kecil,” sambungnya berkilah.
“Jangan pernah berani membohongiku, Mas. Kalau itu terjadi, Mas akan bernasib sama seperti ibu juga Dania!” ancamnya setengah hati.
Meski pongah penuh emosi. Sebenarnya Amanda gentar, takut ketahuan, karena dia menyembunyikan rahasia besar dari Dion. Menyembunyikan fakta tentang anak yang dilahirkannya yang sebenarnya adalah benih dari pria lain. Tidak lain adalah salah satu mantan sopir pribadinya sendiri, bercinta saat kondisi Amanda mabuk sepulang hura-hura dari diskotik.
Amanda yang saat itu tertarik dan mengincar Dion, tak sudi menerima tanggung jawab yang ditawarkan si sopir. Menolak mentah-mentah. Menghina tak sepadan, malah memecat dan memulangkannya.
Amanda yang sedang tergila-gila pada ketampanan Dion merengek pada ibunya bahwa dia hanya ingin Dion yang menikahinya dan menjadi ayah dari anaknya tak peduli meski Dion beristri. Demi menutupi aib, ibunya yang dibutakan rasa sayang menyanggupi permintaan Amanda.
Amanda dan ibunya menggunakan hal itu untuk menjerat Dion lebih cepat, yang memang menurut Amanda sulit ditaklukkan hanya dengan rupa pas-pasannya meski dia kaya, mengingat Khalisa istri Dion saat itu termasuk kategori cantik jelita. Melancarkan berbagai siasat tak menghiraukan jikalau itu buruk, juga mengimingi harta berlimpahnya demi mendapat apa yang diinginkannya.
Tak disangka gayungnya bersambut, tanpa satu sama lain tahu, bahwa kedua belah pihak menyembunyikan udang di balik batu. Saling mencurangi, saling menggadaikan diri untuk mengentaskan ambisi. Sungguh miris.
Bersambung.