
Bab 60. Tebar Pesona
“Dari informasi yang dilaporkan Erika juga Raja tadi malam, surat akta ceraimu sudah selesai sejak beberapa minggu lalu. Mereka bertanya panjang lebar kemarin, terutama tentang kendala apa yang membuat pihak sana belum juga memberi kabar padamu, ternyata suamimu memang tidak menyertakan nomor kontak lama yang kamu pakai dengan berbagai alasan, jadi hanya ada nomor kontak mantan suamimu saja yang bisa mereka hubungi.”
Yudhis duduk berhadapan dengan Khalisa di kursi samping dekat taman sejuk nan rindang di pukul dua siang ini, bercakap-cakap serius berdua, disaksikan curi pandang kepo si mamang tukang kebun yang sedang membersihkan rumput liar juga merapikan tanaman bonsai.
“Mas Dion benar-benar ingin terus menyiksa batinku juga terus mempermainkanku!” geram Khalisa, mengepalkan tangan menahan amarah. “Lalu, di mana akta ceraiku sekarang?” tanya Khalisa cemas.
“Sudah tersimpan aman di tangan Erika. Senin akan dibawa ke kantor untuk diserahkan padaku, karena kemarin sore Erika dan Raja langsung pulang ke rumah setelah selesai dengan urusan di pengadilan agama, sedangkan aku sore kemarin sedang berada di tengah-tengah obrolan pentingku di kantor komnas perlindungan anak, baru pulang sekitar jam delapan malam.”
“Syukurlah, makasih banyak atas bantuannya, Bang. Makasih juga buat Mbak Erika dan Raja,” desah Khalisa lega.
“Untung saja kita bergerak cepat. Erika dan Raja juga mengatakan sempat terhadang kendala saat hendak mengambil akta ceraimu, banyak pertanyaan yang diajukan. Menurut keterangan petugas, sudah ada beberapa orang yang mengaku diberi kuasa penuh oleh kamu untuk mengambilkan akta ceraimu. Lengkap dengan surat kuasa bermeterai, dibubuhi tanda tanganmu, juga fotokopi KTPmu. Berhubung KTP aslimu tidak terlampir, jadinya pihak pengadilan agama menolak permintaan mereka. Kamu pasti sudah bisa menebak siapa pelakunya.”
Khalisa menepuk-nepuk dadanya sendiri guna melancarkan sirkulasi udara ke paru-parunya yang terasa pengap. Dapat ditebak dengan mudah Dion lah pelakunya, melakukan hal tersebut sudah pasti berniat menjadikan selembar kertas itu sebagai alat untuk terus membelitnya kuat hingga kehabisan daya upaya.
“Tenanglah, Khal. Suatu keberuntungan buat kamu karena surat penting itu tidak jatuh ke tangan keliru, yang sudah pasti tujuannya untuk disalah gunakan.” Yudhis mengukir senyum teduhnya yang begitu manis lagi dan lagi, berharap mengurangi kegundahan Khalisa yang terpampang jelas di wajah ayunya. Walaupun sejujurnya, Yudhis ingin mengusap lembut punggung rapuh Khalisa untuk menenangkan dan memberi dukungan.
“Makasih banyak, Bang. Makasih,” cicit Khalisa lagi, seraya menarik dan membuang napas teratur.
“Sekarang sudah hampir jam tiga, kita bersiap-siap segera. Selepas sholat Asar kita berangkat ke Lembang, mudah-mudahan enggak macet. Kalau jalanan lancar, satu jam sudah sampai di tujuan,” ucap Yudhis, yang diangguki Khalisa begitu mantap dengan raut tak sabar ingin bergegas melesat mencari keberadaan buah hatinya.
Kali ini Yudhis mengendarai Audi R8 berwarna merah mengkilap yang sangat jarang dipakainya. Mobil yang hanya dilihat sekilas pun dengan mudah orang-orang dapat menebak benderolnya sudah pasti mahal, setara dengan harga empat unit Range Rover Velar.
Entah kenapa Yudhis ingin memakainya kali ini, padahal biasanya dia malas, lantaran Yudhis bukanlah pribadi yang doyan pamer. Mungkin saja efek dari siapa sosok yang hendak diajak pergi, naluri jantannya sebagai kumbang yang tertarik pada sekuntum bunga, mendesaknya ingin sedikit saja tebar pesona pada wanita cantik yang selalu berhasil menarik perhatiannya. Berhasrat ingin dilirik dan dipandang sebagai pria seutuhnya, bukan sekadar dianggap penolong semata.
Khalisa lumayan rikuh saat mendudukkan diri di mobil mewah itu, sempat kesusahan memakai sabuk pengaman saking gugupnya. Seumur hidup Khalisa, baru kali ini ia melihat dan menaiki kendaraan jenis ini.
“Aku bertanya-bertanya beberapa hari ini. Kenapa tiga bulan lalu kamu tidak berinisiatif pergi ke tempat kerja mantan suamimu untuk mencari informasi ke mana mereka pindah?” tanya Yudhis penasaran, membuka pembicaraan, mengutarakan hal yang berlalu lalang dalam benak.
“Sudah pernah, aku langsung datang ke showroom tempat kerjanya yang berlokasi di Kopo setelah tahu mereka pindah. Aku diusir mentah-mentah oleh satpam, si satpam juga mengatakan kalau Mas Dion sudah lama tidak bertugas di sana lagi, tapi di cabang lain. Dan tak ada satu pun di sana yang bersedia memberitahuku di mana letak cabang lain yang dimaksud. Pergaulanku tidak luas, menyebabkan ruang gerak juga pemikiranku teramat sempit di saat terjepit serta kalut kala itu.” Khalisa bertutur lesu, menunduk sedih.
“Jangan menyalahkan diri, upayamu sudah maksimal,” hibur Yudhis yang kembali tergerus prihatin sembari tetap memerhatikan jalanan di depan.
“I-itu bukannya Mas Dion?” seruan nada penuh tanda tanya terbalut rasa terkejut Khalisa membuat Yudhis memelankan laju mobilnya.
“Yang mana?” tanya Yudhis penasaran.
“Itu, yang gandeng perempuan berbaju coklat,” sahut Khalisa sembari mengarahkan telunjuk ke arah coffe shop di sisi kiri jalanan. "Yang sedang berpelukan itu."