
Khalisa Bab 145. Papa Sindrom
Membawa Khalisa ke rumah sakit yang lebih besar dan lebih canggih itulah yang dilakukan Yudhis. Ingin memeriksa ulang kehamilan Khalisa disaksikan mata kepalanya sendiri. Khalisa sempat memberi pengertian bahwa hasil pemeriksaan kemarin pun sudah cukup akurat dan teliti menurutnya. Akan tetapi, Yudhis tak bisa tenang dan tak puas jika belum menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri.
Yudhis memaku pandangan menonton layar monitor saat dokter melakukan prosedur pemeriksaan USG. Dia takjub dibuatnya, walaupun dokter menjelaskan bahwa ukuran janin darah dagingnya baru sebesar biji kacang, tetap saja baginya rasanya luar biasa. Memiliki sosok yang akhirnya benar-benar memiliki darah yang sama dengannya, meluapkan bahagia tak terkira dalam dada.
Selesai dengan prosedur pemeriksaan Khalisa, Yudhis tak sabaran ingin berbincang dengan si dokter wanita spesialis kandungan.
“Bagaimana kondisi istri dan anak saya, Dok?” cecarnya langsung, kentara tak sabaran.
“Semuanya baik dan sehat.”
“Apakah mual muntah yang dialami istri saya berbahaya? Ibu dan bayinya butuh nutrisi ekstra terlebih di masa-masa awal kehamilan, tapi kalau muntah-muntah terus bukankah nutrisi yang didapat kurang maksimal? Itu menurut yang tadi saya baca melalui situs internet edukasi kehamilan selagi menunggu antrian pasien,” seloroh Yudhis, mencerocos mirip ibu-ibu bawel.
Si dokter seumuran Maharani itu mengulum senyum mendapati reaksi Yudhis yang begitu antusias. “Selama mual muntahnya tidak terlalu intens, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hal lumrah yang sering terjadi di awal-awal kehamilan. Tahap mual muntah Bu Khalisa masih terbilang normal. Akan saya resepkan juga obat untuk mengurangi gejala itu. Kecuali jika mual muntahnya parah, maka harus dilakukan penangangan lebih lanjut yaitu rawat inap.”
Perbincangan kembali berlanjut. Yudhis tak puas kalau hanya mendengar penjelasan sederhana saja tanpa memastikan lagi. Meminta dituturkan secara terperinci apa saja yang harus diperhatikan untuk kondisi istrinya yang kini berbadan dua. Terutama tentang yang boleh dan tidak boleh. Mulai dari jenis makanan, aktivitas harian, hingga seputar kegiatan ranjang. Sedangkan Khalisa lebih banyak mendengarkan saja, karena kebawelan sudah didominasi suaminya di dalam ruangan periksa itu.
Yudhis juga meminta dokter agar Khalisa diperiksa lebih lanjut, diagnosis malnutrisi yang dulu pernah dialami Khalisa membuat Yudhis was-was, khawatir Khalisa dan bayinya tidak tercukupi gizinya. Dan hasil pemeriksaanya melonggarkan sedikit kecemasannya, tubuh Khalisa dinyatakan sehat wal’afiat tanpa kurang suatu apapun.
“Anda beruntung, Bu Khalisa. Suami Anda begitu perhatian. Roman-roman suami dan ayah siaga,” puji si dokter sembari membetulkan letak kacamatanya. “Kembali lagi untuk kontrol bulan depan. Sehat selalu.”
“Terima kasih, Dokter.”
*****
Yudhis sibuk memilah ini dan itu, padahal yang sedang hamil adalah Khalisa. Mulai dari produk susu, susu khusus ibu hamil paling mahal dipilihnya, mencari yang jenisnya bisa membantu mengurangi mual muntah di trimester pertama. Produk kacang-kacangan ikut diambil, beberapa jenis sayur serta telur omega tiga, juga jenis ikan-ikan laut dalam turut serta meramaikan keranjang belanja.
"Kamu suka buah apa?" tanya Yudhis pada Khalisa begitu mereka berada di area lautan berbagai macam buah baik lokal maupun impor. "Bukankah katanya wanita hamil muda suka sekali makan buah-buahan?"
"Entahlah, aku enggak tahu. Lagian di rumah pun buah-buahan masih banyak, Bang," cicitnya bingung sendiri dengan tingkah Yudhis yang mendadak berbelanja seheboh ini.
"Tapi yang di rumah kurang banyak. Ya sudah, kita beli lengkap berbagai macam, biar kamu bisa pilih sendiri di rumah."
Tiba saatnya mereka mengantre di kasir, Khalisa melongo. Mengerjap untuk sejenak menyaksikan troli besar yang penuh sesak di hadapannya.
"Bang?" panggil Khalisa, menepuk lengan Yudhis.
"Kenapa?" tanyanya yang sedang sibuk menarikan jari di layar ponsel membrowsing info-info seputar kehamilan selagi menunggu.
"Apa ini enggak terlalu banyak?" Meringis, Khalisa menunjuk gunungan barang-barang yang hendak dibayar.
"Enggak, justru aku takut kurang. Kamu harus banyak makan-makanan yang spesifik gizinya buat ibu hamil," sahutnya sembari tersenyum tampan, begitu semringah.
"Tapi, aku ini cuma hamil, bukan kelaparan, Bang." Khalisa menelan ludah bimbang memikirkan bagaimana cara memindahkan seabrek makanan ke dalam lambungnya. Juga merasa ini amat berlebihan sebab tak biasa.
"Eits" Yudhis menggoyangkan telunjuk di depan wajahnya sembari menggeleng pelan. "Bukan cuma, Bunda Sayang. Tapi ada nyawa lain di tubuhmu sekarang. Jadi, jatah makanmu harus dua kali lipat dan enggak boleh membantah. Oke?"
Bersambung.