Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Untuk Istriku


Bab 115. Untuk Istriku


Kecemasan yang menggulung Khalisa sebab khawatir Yudhis kecewa padanya yang bukanlah gadis perawan setelah mereka menunaikan kewajiban pemenuhan nafkah batin, luruh berhamburan saat Yudhis kembali menyeretnya mengusak peraduan selepas Subuh tadi. Lebih berhasrat, lebih bergairah, lebih bergelora. Memujanya lewat sentuhan melenakan, memujinya melalui tatapan juga desah*n.


Rongga dada Khalisa mengembang gembira sekaligus lega. Memulihkan kepercayaan dirinya yang rapuh meski belum sepenuhnya. Sedikit demi sedikit menerbitkan keinginan Khalisa untuk menjadi insan yang lebih baik lagi dari hari ke hari, bagi bahtera baru yang kini mulai dilayarkan mengarungi samudra rumah tangga. Mulai membangun asa mempergunakan kesempatan tak terduga yang dibukakan lebar oleh Sang Pencipta untuknya dengan sebaik-baiknya, menjaga dan memelihara lebih spesial dari yang pernah gagal.


Mereka berangkat berbelanja selepas Yudhis pulang dari Masjid setelah menunaikan Salat Jum'at berjamaah. Khalisa berdandan serapi mungkin, tidak seperti biasanya. Mencari warna gamis dan kerudung senada dengan pakaian yang dikenakan Yudhis.


Siang ini Yudhis memakai kaus oblong hitam dipadu celana jeans abu-abu. Begitu tampan dan segar dalam balutan busana santai, membuat Khalisa ketar-ketir juga was-was saat melirik pada Yudhis yang duduk di kursi kemudi, rupawan paripurna, idaman para wanita dari berbagai aspek.


Jujur saja ia mendadak khawatir, si pria yang semalam dan sepanjang pagi tadi mendekap dan mencumbunya mesra itu dilirik atau melirik yang lain. Padahal sebelumnya tidak begini. Maklum saja, saat mencoba meletakkan lagi kepercayaan pada sebuah hubungan, kekhawatiran akan kejadian buruk di masa lalu ikut membayangi.


"Kenapa melamun?"


Suara Yudhis memecah hening dalam mobil, menarik Khalisa dari kecamuk tumpang tindih yang memenuhi kepalanya. Khalisa menoleh saat Yudhis meraih jemarinya, mengecup punggung tangannya mesra sembari melirik sekilas bersama senyuman yang mengukir lesung pipinya. Menularkan senyum yang sama, menentramkan gundah mengganggu dalam dada.


"Capek ya?" tanya Yudhis lagi, terdengar cemas.


Khalisa menggeleng, membalikkan telapak tangan, menyusupkan jemari lentiknya di antara ruas-ruas jari Yudhis. Menggenggam di sana, yang balas digenggam erat oleh Yudhis.


"Kenapa?" imbuh Yudhis, yang mendapati reaksi Khalisa tak biasa.


"Enggak apa-apa. Cuma lagi mikirin masak apa buat makan malam," sahut Khalisa mencari alasan, yang sebenarnya sedang berupaya mengusir khawatir berlebihannya.


Akal sehatnya berpikir keras dan berseru pada dirinya sendiri. Kecemasannya memanglah wajar. Akan tetapi, dilihat dari sisi manapun Yudhis bukanlah jenis pria yang seperti Dion. Sangat jauh berbeda, ibarat langit dan Palung Mariana.


"Spesial hari ini, makan malam aku yang masak lagi. Masih ada beberapa menu buatanku yang harus kamu cicipi," kata Yudhis dengan sebelah tangan fokus menyetir dan sebelahnya lagi menggengam tangan Khalisa mesra.


"Tapi nanti Abang capek. Bilang saja mau dimasakkin apa. Aku buatkan. Atau gimana kalau beli saja?"


"Enggak capek sama sekali, aku dengan senang hati mengolah makanan buat kita. Biar kamu juga bisa beristirahat mulihin tenaga, karena nanti aku bakal bikin kamu lelah lagi dalam kegiatan mengolah hal lainnya." Yudhis berucap dengan nada penuh minat, membuat Khalisa tersipu, memalingkan wajahnya yang merona menghadap jendela.


"Ini, ambil." Yudhis menyodorkan sebuah dompet baru rancangan rumah mode terkenal dunia begitu mobil berhenti di parkiran swalayan. Khalisa sebetulnya tidak begitu paham merek, yang jelas di mata Khalisa dompet berwarna camel bertuliskan 'Hermes' itu begitu cantik. Andai Khalisa tahu harganya, mungkin ia akan sesak napas di detik ini juga.


"Ini buat aku? Cantik banget." Khalisa menerimanya penuh sukacita. Seumur-umur ia belum pernah memiliki dompet sebagus ini. Terbiasa cukup memakai dompet hadiah dari toko emas pemberian dari Wulan.


"Iya, buat kamu."


"I-ini apa ini?" cicitnya, mengerjap tak mengerti. "I-ini ada isinya, Bang," sambungnya, menatap Yudhis dengan polosnya.


"Iya, memang ada isinya. Di kartu warna kuning ada jatah belanja bulanan. Akan kuisi setiap sebulan sekali. Kamu aturlah buat keperluan rumah tangga kita, buat kebutuhan pribadimu juga Afkar. Kartu yang hitam bisa kamu pakai buat keperluan lain semisal di kondisi darurat kalau uang di kartu yang kuning sudah menipis. Dan uang tunai bisa dipergunakan buat belanja sehari-sehari yang tidak memungkinkan pakai kartu untuk bertransaksi. Misalnya seperti buat membeli kebutuhan tambahan di tukang sayur yang lewat atau buat jajan bakso kesukaan kamu. Sekarang kamu adalah istriku, jadi sudah kewajibanku memenuhi semua kebutuhanmu juga."


"Ja-jadi aku yang atur semua keperluan bulanan dapur buat Abang gitu ya?" Khalisa masih belum mencerna dengan baik kalimat Yudhis, saking syoknya melihat jumlah uang yang baginya sangat banyak, baru dilihat seumur hidupnya, juga baru kali pertama diserahkan kepercayaan mengelola, sehingga Khalisa masih linglung dibuatnya.


"Buat kita sekeluarga, Sayang. Kamu, Afkar dan aku." Yudhis dibuat gemas dengan Khalisa yang terlihat linglung sembari menepuk-nepuk kencang pipinya sendiri.


"Kalau mau bayar, kartu ini gimana pakainya?" Khalisa menunjuk kartu yang berwarna kuning. "Apa kayak Abang kalau lagi belanja gitu, tinggal kasih kartu dan pencet-pencet nomor di alat yang suka ada di kasir?" Khalisa tidak pernah berbelanja menggunakan kartu sebelumnya, sehingga meminta penjelasan daripada keliru nantinya. Hanya pernah melihat Yudhis membayar beberapa kali menggunakan kartu.


"Betul, kayak gitu. Gampang kan?" Yudhis mengusap kepala Khalisa penuh sayang.


"Kartu ini, isinya berapa, Bang?" tanyanya penasaran. "Biar aku bisa hitung pas berbelanja, biar cukup dengan uang di kartu ini."


"Isinya 25 juta. Apakah terlalu kecil untuk nominal kebutuhan rumah tangga dalam sebulan?" terang Yudhis, yang membuat Khalisa menjatuhkan rahangnya terkejut bukan main.


*****


"Loi, Mbak jadi enggak enak sama Khalisa dan Yudhis. Mbak juga enggak nyangka, saking kagumnya pada Yudhis, Syafa ternyata malah terobsesi dan bermulut kasar pada Khalisa saat tahu Yudhis menikahinya."


Farhana mengeluh lesu. Dia sedang berada di rumah Aloisa malam ini selepas mengaji bersama, dari selepas salat Maghrib hingga Isya. Sedangkan Syafa sejak tahu Yudhis menikahi Khalisa, terus berdiam di rumah, mengurung diri di kamar dan menyambar marah saat ditegur Farhana meski dengan kata-kata lembut. Juga masih tak terima lantaran Yudhis lebih membela Khalisa, padahal jelas-jelas memang Syafa yang salah.


"Aku percaya, Bang Yudhis dan Khalisa bukanlah sosok yang berpikir kerdil. Walaupun usia Khalisa dan Syafa sebaya, tapi Khalisa punya pemikiran lebih dewasa yang terbentuk dari kepahitan hidupnya. Reaksi Bang Yudhis juga sangat wajar. Sebagai seseorang yang telah mengucap ijab kabul dengan Khalisa, melindungi istrinya merupakan salah satu kewajibannya." Aloisa bertukar kata dengan Farhana sembari melipat mukena.


"Mbak ingin minta maaf pada mereka. Kalau kamu ada waktu antar Mbak ke sana. Kita pergi berdua saja. Biar enggak ada yang mengganjal di hati Mbak, jangan sampai merusak tali silaturahmi yang sudah terjalin baik begitu lama. Karena bagaimana pun juga Syafa sudah kelewatan."


"Boleh, Besok sore kita pergi. Aku ke Klinik setengah hari di akhir pekan." Aloisa mengiyakan, dan mereka berdua terperanjat kaget saat suara Syafa menyambar entah sejak kapan ada di sana.


"Mbak jangan coba-coba minta maaf sama janda gatel itu! Harusnya Mbak itu belain aku!"


Bersambung.


Assalamu'alaikum teman-teman pembaca sekalian.


Maaf baru bisa update kembali walaupun ngetiknya ini sambil meringis-ringis 😁. Do'akan aku lekas sehat kembali ya. Masih belum pulih benar, masih benar-benar terasa sakitnya. Semoga sakitku enggak berlarut-larut. Terima kasih buat semua yang selalu sabar menanti dan memahami kondisiku. Wassalamu'alaikum.