
Bab 122. Lebih Dari Manis
“Syafa? Rupanya kamu di sini,” sapa Yudhis pada Syafa yang memisahkan diri dari kerumunan, duduk di kursi taman samping sendirian.
Syafa yang sedang menunduk memegang ponsel menoleh ke arah sumber suara. Pandangannya berbinar seketika.
“Bang Yudhis,” pekiknya begitu semringah saat melihat siapa yang memanggilnya sembari tersenyum. Syafa langsung berdiri, menaruh ponsel ke dalam tas kecilnya dan tergesa menghampiri. “Abang nyariin aku?”
“Iya, aku cari kamu. Lagi apa di sini sendirian?”
“Aku lagi lihat Ikan Koi. Udah gede-gede,” cicitnya dengan nada manja. Padahal tadi dia sedang baku hantam di kolom komentar, pada salah satu postingan nasihat yang membahas tentang menerima takdir dengan lapang dada.
“Aku ingin ngobrol sesuatu sama kamu. Boleh?” tanya Yudhis.
Anggukan bertubi langsung meluncur. “Boleh dong. Boleh banget malah. Mau curhat ya? Aku bersedia jadi pendengar yang baik buat Bang Yudhis. Pasti mau curhat tentang pernikahan Abang sama Khalisa? Aku yakin Bang Yudhis pasti cuma kasihan sama dia kan, bukan beneran cinta? Karena dia yang cuma janda bermasalah itu sama sekali enggak sepadan dengan kualifikasi keluarga Abang. Yang naksir Abang semuanya para cewek karier kalangan atas, cuma aku yang masih berstatus mahasiswi,” cerocosnya merasa sok paling memahami Yudhis. Juga merasa di atas angin mengetahui Yudhis meninggalkan bincang-bincang di dalam rumah hanya untuk mencarinya keberadaannya.
Syafa tertawa dalam hati. Saat di dapur tadi, dirinya merasa dihempaskan imbas dari kelakuannya sendiri, tetapi sekarang Syafa melambung jumawa, merasa sebentar lagi keadaan akan berbalik memihaknya, seperti yang seharusnya, menurutnya.
“Bukan itu. aku ingin bicara tentang kamu,” sahut Yudis, nada bicaranya kali ini sama riuh rendahnya seperti biasa ketika dia bertegur sapa dengan Syafa selama ini, khas seorang kakak pada adiknya.
“Tentang aku? Memangnya aku kenapa?” imbuhnya tak mengerti.
“Syafa, kamu itu masih muda, gadis pintar, cantik, berpendidikan tinggi, berhijab lagi, sudah pasti banyak pemuda yang mengejar. Wahai adik manisku,” ujar Yudhis.
“Maksudnya gimana? Juga sudah kubilang aku ini sudah dewasa sekarang, bukan adik manis lagi,” protesnya kesal.
Yudhis maju dua langkah, sedangkan Syafa masih bergeming di tempatnya berdiri, penuh antisipasi.
“Benar juga. Enggak terasa kamu sudah dewasa sekarang, walaupun bagiku kamu selalu adik kecilku.
“Abang mau ngomong apa sih sebenarnya!” seru Syafa sengit, mulai tak sabar.
“Begini, Syafa. Karena sekarang kamu sudah dewasa Untuk itulah aku mau meminta tolong sekarang. Tolong bersikap dewasalah dalam menyikapi statusku sekarang. Aku sudah menikah, bukan pria lajang lagi. Sudah menjadi suami Khalisa dan akan selalu begitu sampai akhir hayatku. Jodoh enggak bisa dipaksa begitu pula rasa cinta. Dan seperti yang kamu tahu,aku hanya menganggapmu adik. Tidak lebih. Jadi, tolong berhentilah mengharapkanku. Buang obsesimu, karena obsesi itu bukan cinta.” Yudhis menarik napas, menjeda sejenak kalimatnya.
“Tapi aku bukan ingin jadi adikmu lagi!” Syafa menyambar tak terima.
“Keinginan menggebu semacam itu bukan cinta Syafa, tapi obsesi, menggerusmu yang manis menjadi sosok yang tidak lagi kami kenal. Bagiku, kita adalah keluarga, dan akan selalu begitu sampai kapanpun, tapi masalah hati tentu saja keluarga pun tak bisa ikut campur,“ jelas Yudhis perlahan-lahan, bukan dengan bentakan.
Yudhis memergoki sikap Syafa di dapur tadi dari kejauhan. Tak ingin membiarkan terus berlarut, bagaimana pun juga Syafa harus diberi pengertian. Memilih berbicara baik-baik, bukan dengan cara kasar yang malah mungkin menjadikan Syafa semakin meradang dan obsesinya kian tak terkendali.
Rekah senyum Syafa surut mendengar penjelasan Yudhis, ditambah lagi ternyata di belakang tubuh tinggi tegap Yudhis ada Khalisa di sana. Cahaya lampu taman yang remang-remang juga postur Yudhis yang menghalangi membuat Syafa luput menyadari kehadiran wanita yang dianggapnya telah merebut Yudhis darinya. Kendati pada faktanya tidak demikian, karena Yudhis belum pernah sedetik pun menjadi miliknya, sebab konteks merebut hanya untuk sesuatu yang paten dimiliki.
Khalisa ikut melangkah maju, meraih dan menggenggam tangan Yudhis. “Aku harap, kamu mau mengerti, Syafa. Jangan mempermalukan dirimu lagi hanya karena terobsesi pada Bang Yudhis. Kamu itu berharga. Pasti sudah ada jodoh terbaik yang disiapkan Allah untukmu, tapi tentu saja bukan suamiku.”
“Halah, jangan repot-repot ceramahin aku tentang kata berharga atau enggak. Kayak kamu lebih baik saja, enggak pantes! Memangnya kamu pikir aku enggak tahu siapa kamu sebenarnya? Yang mungkin hanya anak haram penuh dosa! Bukan kayak aku yang berasal dari keluarga baik-baik, terdidik dengan agama juga wawasan sedari kecil!” teriaknya tak terima.
Farhana yang baru saja bergabung di taman dibuat terkejut dan langsung menarik Syafa mundur.
“Astaghfirullahhal’adzim! Istigfar Syafa! Jaga lisanmu, dek. Bisa saja Khalisa yang kamu pandang bernoda dosa sebenarnya lebih mulia di hadapan Allah dibanding kamu. Dan seburuk-buruknya manusia adalah yang merasa dirinya tak memiliki dosa, merasa diri lebih baik dan lebih salihah dari orang lain seperti yang sedang berlaku padamu.”
“Minum vitamin dulu.” Yudhis menyodorkan beberapa butir vitamin pada Khalisa. Mereka baru selesai bersih-bersih sebelum naik peraduan di waktu yang cukup larut ini, yakni di pukul sebelas malam.
“Abang,” cicitnya seraya mendongak. Sorot matanya tak terbaca.
“Ada apa?” balas Yudhis.
Bukannya menerima vitamin maupun menjawab pertanyaan, Khalisa malah menarik Yudhis yang sedang membungkuk hingga terjatuh atas tubuhnya, meraih tengkuk Yudhis, mempertemukan bibir mereka, tak seperti Khalisa yang lebih sering malu-malu.
Tentu saja Yudhis menyambut dengan penuh suka cita, balas memagut bibir lembut nan manis yang membuatnya candu itu. Menanamkan bibirnya dalam-dalam, saling mencecap hingga terengah.
Pagutan mereka terhenti saat Khalisa merasa kehabisan napas. “Bang, aku ingin kamu,” bisik Khalisa serak yang jeda pagutannya tak berlangsung lama. Khalisa menyerbu lagi dengan liar, bahkan melucuti bajunya sendiri, serta setengah memaksa Yudhis membuka pakaian.
Khalisa meleburkan diri tergesa-gesa. Walau Yudhis merasa agak aneh, dia tetap menyambut hangat keinginan wanita pujaannya. Mempersembahkan buaian melenakan, bersama cumbuan mesra penuh cintanya yang membuat Khalisa mengejang dan mengerang. Memberi yang Khalisa mau dan berakhir dengan pemenuhan nafkah ragawi masing-masing, melenguh dan berpeluh bersama.
Yudhis meraih selimut, mengangsurkan bibir di pundak Khalisa yang lembap.
“Sayang, sebenarnya ada apa, hmm? Malam ini kamu enggak kayak biasanya?” tanya Yudhis tetap berbalut simfoni menggoda, sembari mengecupi tengkuk juga pundak Khalisa yang berbaring membelakanginya.
“Enggak ada apa-apa,” sahut Khalisa yang membuang napas kasar.
Yudhis dapat menangkap nada kalimat Khalisa tentu saja tidak seperti jawaban lisannya. “Apa kamu sedang cemburu?” Yudhis mengecup gemas leher Khalisa.
"Ehm, ehm."
Khalisa berdehem saja, enggan menjawab karena gengsi, sebab memang begitulah kenyataannya. Entah kenapa ia terbakar cemburu begitu hebat kala Yudhis berbincang dengan nada lembut pada Syafa, meski ia tahu hal itu dilakukan untuk meluruskan masalah dalam upaya memberi Syafa pengertian. Akan tetapi, tetap saja darah muda Khalisa mendorong bercokol dalam dada, apalagi Yudhis menyebut Syafa dengan sebutan adik yang manis.
“Apa aku kurang manis?” tanya Khalisa tiba-tiba.
“Huh? Gimana maksudnya?” Yudhis tak paham.
“Ya itu, tadi Abang manggil Syafa dengan sebutan adik yang manis. Kedengarannya spesial. Tapi sama aku enggak pernah tuh manggil kayak gitu?” ketusnya merajuk. Khalisa juga tak paham kenapa ia jadi begini, padahal sebelumnya ia bukanlah tipe yang mudah merajuk.
Yudhis tergelak, menarik Khalisa ke dalam dekapan posesifnya. “Memangnya maunya dipanggil apa? Darling, Sweetheart, Honey? Apakah panggilan cintaku masih belum cukup?”
Khalisa menjitak dirinya sendiri, merasa kekanak-kanakan. Menggerutu dalam hati.
“Perlu kamu tahu, Kamu itu bukan sekadar manis, tapi lebih dari itu, manis dan lezat, sehingga sulit dideskripsikan. Dari atas sampai bawah manis tiada tara, kalau enggak, gak mungkin kulit mulusmu dipenuhi cap bibrku di mana-mana,” ujarnya yang kemudian malah menyesap nakal menambah satu tanda lagi di leher Khalisa.
“Akh, Abang,” desis Khalisa sembari menggigit bibir, meremang diperlakukan intim demikian mesra.
“Tapi aku suka dengan kecemburuanmu. Sering-sering juga boleh. Aku suka saat kamu liar dan berusaha mengendalikanku seperti yang baru saja berlangsung,” bisik Yudhis sensual yang membuat Khalisa langsung bersembunyi ke dalam selimut saking malunya.
Bersambung.
Jangan lupa vote & giftnya 🥰