Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Suamiku


Bab 116. Suamiku


Yudhis kelabakan, di dalam mobil mendadak Khalisa menangis setelah dia menyebutkan nominal uang bulanan yang terdapat pada kartu yang diberikannya, membuatnya kebingungan harus berbuat apa untuk menenangkan istrinya yang menangis tiba-tiba.


“K-Khal. Ke-kenapa nangis? Aku salah bicara ya? Maaf kalau ada kalimatku yang bikin kamu tersinggung. Atau, uang bulanannya kurang? Kalau kurang sebutkan saja angka yang ideal untuk berbelanja bulanan menurutmu.” Yudhis gelagapan, berseloroh panik. Mengusap-usap pundak Khalisa yang sedang menangis sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangan.


Khalisa menggeleng, menyusut air matanya yang luruh membasahi pipi mulusnya. Menatap Yudhis dengan mata basahnya yang lugu.


“Bukan gitu, Bang. Aku nangis karena terharu. Ini bukan air mata sedih, tapi air mata bahagia. Maaf kalau aku cengeng dan terlalu mudah tersentuh. Tapi, ini adalah pertama kalinya aku diberi dan dipercayakan mengelola uang belanja rumah tangga sepenuhnya oleh yang namanya suami, karena dulu uang belanja semuanya diatur ibu mertuaku. Juga, angkanya sangat banyak, apa ini enggak berlebihan?”


Yudhis menarik kedua sudut bibirnya sembari membuang napas lega, satelah tahu dengan jelas alasan Khalisa menangis. Beruntung si cantik bermata sendu ini tidak doyan tebak-tebakan, mau berterus terang dan mengutarakan saat Yudhis bertanya penyebabnya.


Yudhis mencium puncak kepala Khalisa dan mengambil beberapa lembar tisu untuk menyeka air mata.


”Aku mengisi nominal 25 juta setelah berkonsultasi dengan Mami sewaktu kamu tidur tadi pagi. Bertanya tentang angka ideal uang belanja istri di zaman sekarang, disesuaikan dengan komoditi kebutuhan pangan yang saat ini serba mahal. Bahkan menurut informasi dari Mami, sekarang ini harga cabai perkilo pun menyamai harga daging. Dan Mami mengatakan, di keluargaku memang di angka itulah standar uang belanja bulanan saat ini. Jadi, sama sekali enggak berlebihan,” terang Yudhis dengan nada meyakinkan.


“Abang,” cicit Khalisa.


“Ada apa lagi, hmm?” Kening Yudhis terlipat tipis.


“Makasih banyak, suamiku,” ucapnya, yang kemudian tak disangka memeluk dan mencium rahang Yudhis membuat si pria berlesung pipi itu semakin terperosok pada jurang jatuh cinta.


Selama berbelanja, Khalisa tidak membiarkan Yudhis jauh darinya walau hanya sebentar. Terus menempeli, sembari mendorong troli belanja bersama-sama. Serupa anak kucing yang takut kehilangan induknya.


Yudhis sama sekali tak keberatan, balas merangkul bahu Khalisa yang terlihat resah, dia malah senang karena Khalisa menunjukkan kepemilikan atas dirinya di depan umum. Memaklumi Khalisa yang sedang belajar membuka hati dan mengulang yang namanya hubungan asmara sudah pasti takut tersandung lagi, meski menjalani dengan orang yang berbeda.


Khalisa bertanya banyak hal, terutama tentang makanan yang Yudhis suka dan tidak. Bagi Khalisa, Yudhis bak peri bagi cerita hidupnya yang malang, bak pelita di dunianya yang gulita tak tentu arah. Yang membantu dan mendukung sepenuh hati menjemput kembali si jantung hati yang direnggut paksa darinya. Ingin memuliakan sosok ini, sebagaimana dirinya dimuliakan dan dihargai begitu tinggi.


Khalisa tetaplah Khalisa, meski dibebaskan berbelanja, ia bukanlah pribadi boros yang belanja kalap walaupun sekarang memiliki uang yang lebih dari cukup untuk membayar, tetap membeli seperlunya, tak berlebihan.


Saat hendak membayar di kasir, Yudhis harus menerima telepon penting dan di dalam swalayan suasana cukup berisik, sedang banyak pengunjung. “Aku tunggu di dekat pintu keluar. sekalian terima telepon penting ini. Kamu enggak apa-apa kan antri dan bayar sendiri?”


“Enggak apa-apa, Bang. Aku yakin bisa kok, bayar pakai kartu walaupun buat pertama kali,” jawab Khalisa bersemangat.


“Oke, Cantik. I love you.” Bisiknya pelan sebelum berlalu pergi, membuat Khalisa lagi-lagi merona senang entah sudah yang ke berapa kalinya.


Tanpa disadarinya, dua pasang mata mengamati Khalisa dari antrean kasir lainnya, pandangannya kesal juga dengki. Siapa lagi kalau bukan Wulan dan Dania, yang juga sedang berbelanja di sana sembari berdebat tak henti mengenai keperluan siapa yang harus lebih dulu dibeli akibat keterbatasan uang.


Wulan dan Dania diusir keluar dari rumah mewah menantu kayanya hari kemarin. Terpaksa mencari kontrakan murah karena rumahnya yang lama digadaikan ditukar dengan uang. Mereka berdua diusir tanpa belas kasihan setelah Amanda memergoki si adik ipar hendak mencuri gelang mahal yang dipakai bayinya.


“Itu bukannya Khalisa si cupu? Kelihatannya hidupnya makin enak. Pakai pelet apa sih dia? Dengar-dengar dinikahi pengacaranya?” Dania berujar dengki, berbisik komat-kamit pada Wulan.


Dia semakin tak suka melihat Khalisa yang sekarang lebih cantik bersinar bahkan mengalahkan dirinya yang single. Terlebih lagi belanjaan dua troli penuh yang didorong Khalisa membuat rasa irinya menjadi-jadi. Berbanding terbalik begitu kontras dengan belanjaan yang dibelinya, seperempatnya pun tak mencapai jumlah yang dibeli Khalisa.


“Gara-gara dia juga Dion marah besar sama Ibu karena kecolongan Afkar. Dion jadi musuhin ibu dan sekarang sewaktu kita diusir juga enggak dibela. Tapi hidup Khalisa malah makin enak, baju dan tas yang dipakainya kelihatan mahal. Ini tidak adil. Coba kamu lihat di sekitar Khalisa ada Afkar tidak? Kalau ada kita culik saja anak itu. Khalisa enggak boleh bahagia di saat hidup kita kacau dan kesusahan begini!”


“Wah, ide Ibu bagus juga, selain bikin dia tersiksa, kita juga bisa punya tambang emas pengganti,” jawab Dania menyetujui. Keluar dari antrean dan celingukan mencari keberadaan si bocah lucu.


Wulan dan Dania tidak menyadari, obrolan tak beradab penuh dengki mereka berdua didengar oleh seorang ibu paruh baya yang mengantre tepat di belakang mereka.


“Ada penculik! Ada penculik! Gadis itu dan ibunya ini sindikat penculik!” teriaknya kencang sembari menunjuk Dania juga Wulan, yang cuitannya tentu saja menarik perhatian semua pengunjung terutama di area kasir. Mengundang kepanikan di dalam sana tak terkecuali Khalisa. Para satpam swalayan langsung menyerbu ke dalam, dan Yudhis pun kembali menghambur masuk saat dari kejauhan melihat Khalisa pucat pasi.


Bersambung.