Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Umpan Dimakan


Bab 63. Umpan Dimakan


Si wanita berbaju coklat meraba pipinya sendiri, merona-rona terombang-ambing kalimat pujian melenakan.


“Tentu saja, tentu boleh. Dengan senang hati saya akan menemani Anda melihat-lihat dan merekomendasikan pilihan kendaraan. Koleksi jenis mobil seperti apa yang Anda suka?” tanyanya bersemangat.


“Saya suka dengan model eksklusif, salah satunya seperti yang saya pakai hari ini.” Yudhis mengarahkan telunjuk ke luar kafe di mana Audi R8 warna merah yang menyembunyikan Khalisa di dalamnya terparkir manis.


“Wow,” ujar si wanita itu terpana saat ikut menoleh ke luar, disajikan pemandangan jenis mobil super mewah yang ditunjuk Yudhis. Paling mencolok keberadaannya di antara mobil-mobil yang terparkir, membuatnya terlihat jelas tergoyahkan haluannya. “Audi R8?”


“Luar biasa. Ternyata selain cantik, wawasan otomotif Anda juga luas,” puji Yudhis lagi.


“Audi R8 merupakan series Audi termahal yang dipasarkan di Indonesia. Selera Anda sangat berkelas dan mahal. Di mana Anda bekerja? Apakah Anda pengusaha? Atau putra pejabat tinggi di negeri ini?” Si wanita itu kembali beralih pada Yudhis, bahasa tubuhnya merayu ingin tahu lebih banyak tentang sosok mengagumkan yang mengajaknya berbincang dan terkesan tertarik padanya, nada suara juga kilat matanya ikut mendamba.


“Ah, kebetulan saya cuma kerja serabutan, apa saja, yang penting dapat penghasilan,” sahut Yudhis sembari tersenyum manis, membuat si wanita itu semakin tertarik saja.


“Ya ampun suka merendah, serabutan versi Anda pasti berbeda.”


“Mmm, begini. Barangkali saya boleh minta kartu nama Anda, Nona? Itu pun kalau tidak keberatan. Wanita secantik Anda sudah pasti banyak fansnya. Saya ingin datang langsung ke tempat Anda bekerja untuk melihat-lihat koleksi mobil secepatnya, tapi saya ingin ada Anda di sana nanti, ingin ditemani seperti kata saya tadi. Jadi, saya bermaksud membuat janji sebelum datang, serta ingin tahu letak lokasi show room untuk panduan map berhubung saya masih baru di kota ini, juga sekaligus, ingin tahu nama Anda.” Yudhis meminta dengan nada penuh harap, membubuhkan raut putus asa secuil saja.


“Tunggu sebentar.” Si wanita itu membuka tasnya cepat, tersihir pesona menawan di depannya membuatnya mudah saja disetir. Menyodorkan selembar kartu nama pada Yudhis.


“Nama saya Gladys. Dari hari Senin sampai Rabu saya pastikan akan selalu ada di show room. Kebetulan saya bekerja sebagai sekretaris di sana. Mau datang langsung tanpa membuat janji dengan saya juga boleh. Tapi, berhubung ruangan saya ada di lantai tiga berdampingan dengan ruangan bos, bukan di lantai satu area display, Anda telepon saja nomor saya, saya pastikan langsung turun,” jelasnya berapi-api, merasa telah berhasil menjaring ikan besar yang lebih tampan dan tampak lebih mapan dibandingkan Dion. Mulai bermaksud menjadikan Dion sebagai cadangan saja, bukan lagi yang utama, diperlakukan mirip ban mobil, sungguh cocok.


“Suatu kehormatan bagi saya bisa mendapatkan kartu nama Anda, Gladys.” Yudhis mengambil selembar kartu itu dan menyelipkannya ke saku kemeja.


“Suatu kehormatan juga bagi saya diberi hadiah manis ini oleh seseorang sekeren Anda,” sahutnya begitu gembira, menunjuk green tea latte juga sepotong kue yang diberikan Yudhis. “Oh iya, bolehkah saya meminta nomor Anda juga?” pintanya.


“Nanti saya yang akan menghubungi. Rasanya kurang sopan dan tidak pantas jika saya meminta Anda menghubungi terlebih dahulu. Melukai prinsip ladies first yang selalu saya utamakan. Saya yang akan menghubungi Anda terlebih dahulu.” Yudhis berkelit piawai, membuat lawan bicaranya kehabisan kata, mengangguk-angguk mengiyakan saja.


“Kalau nama Anda?” tanyanya lagi tak ingin berhenti.


Wanita bernama Gladys itu kentara tak rela Yudhis pergi, tetapi gegas menormalkan raut muka begitu melihat sangat bos sudah kembali dari toilet. Walaupun sesekali wanita itu lagi-lagi melirik ke luar kafe pada Yudhis yang dengan sengaja malah melambai padanya sebelum masuk ke mobil mewahnya.


“Sial!” umpat Dion kesal.


“Kenapa mendadak marah-marah, Pak Bos ganteng? Hati-hati darah tinggi,” cicit Gladys dengan suara mendayu-dayu.


“Kedai kopi mahal begini tapi fasilitas toiletnya sangat buruk. Aku terkunci lama di bilik toilet pria. Tidak tahu pintunya rusak. Tenggorokanku sakit rasanya karena berteriak-teriak minta tolong dibukakan pintu, tapi semua pekerja di sini kayaknya tuli!” berang Dion dengan wajah memerah. Menggebrak meja dan juga mengacak rambutnya kesal.


“Lho, kok bisa?”


“Mereka bilang pintu toilet pria memang rusak dan sering terkunci sendiri, makanya diberi warning tulisan 'pintu rusak'. Padahal saat masuk tadi aku yakin di pintu itu tidak ada kertas apa pun yang menempel, tapi saat berhasil keluar malah terpampang jelas di sana!” Dion berseru terbakar amarah.


“Mungkin sewaktu Bos masuk, bisa jadi kertas tulisannya jatuh. Kemungkinan dipasang lagi oleh petugas kebersihan saat mereka lewat dan tidak ada yang tahu Anda masuk ke dalam toilet. Sudah, sudah, jangan marah lagi, nanti cepat keriput. Kita ke hotel sekarang saja gimana? Biar reda marahnya,” bujuknya, mengelus-elus lengan Dion dari pada tas Longchamp Le Vilage Cuir warna marun yang ingin dibelinya besok batal termiliki, meskipun kini yang terbayang-bayang di benaknya adalah senyuman tampan dan kata-kata memuja pria keren tadi kepadanya.


“Ide bagus. Aku butuh melemaskan segala ketegangan sekarang juga,” balas Dion yang merangkul pinggang si sekretaris penuh minat.


“Tapi sebelum pergi, aku ingin makan kue sama minum green tea latte ini sampai habis. Biar staminaku nanti prima,” ujarnya yang mengerling merayu, padahal alasan sebenarnya tentu saja bukan itu, tetapi karena dia sangat menyukai yang memberi makanan dan minumannya.


“Baiklah, cepat makan dan isi ulang tenagamu sampai penuh, Gladys. Kamu akan butuh tenaga ekstra untuk meredakan kemarahanku.”


“Abang habis ngapain?” tanya Khalisa menelisik begitu Yudhis mendaratkan pinggul di kursi kemudi. Langsung saja menyemburkan tanya yang sejak tadi berputar-putar di kepala sewaktu menyaksikan kegiatan Yudhis di dalam kafe. Bahkan saking tak sabarnya, Khalisa tidak menunggu sampai Yudhis menutup pintu.


“Habis mancing, seperti yang kubilang tadi,” jawab Yudhis santai sembari memasang sabuk pengaman.


“Mancing gimana? Abang kelihatannya akrab dengan perempuan yang tadi digandeng Mas Dion. Sampai barusan juga melambai-lambai. Teman Abang ya? Atau mantan pacar? Atau, malah sebenarnya pacarnya Abang ya?” seloroh Khalisa tiba-tiba, terdorong penasaran juga impulsif lain membuatnya ingin bertanya terperinci.


Bersambung.